Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Luka?


__ADS_3

Hai Reders maaf Author telat up ini gara gara


tugas yang bermunculan (kaya bisul aja). Jadi sekarang baru bisa up. Jangan lupa vote, like and coment.


.


.


.


.


.


Hari terus berlalu dan kini sudah tak terasa Bintang sudah 1 minggu setelah kejadian kakinya terluka dan kini kaki Bintang sudah sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa.


Pagi ini hari minggu dan Bintang bingung harus melakukan apa. Dia memilih menghubungi teman temannya dan menyuruh mereka datang.


Syeril dan Nano telah pulang 1 hari yang lalu. Setiap hari minggu mereka akan bersama orang tua mereka, sesibuk sibuknya orang tua mereka orang tua Syeril dan Nano selalu menyempatkan 1 hari untuk bersama untuk menembus waktu yang anak anak mereka jalani tanpa mereka.


Masih 3 jam mereka sampai rumah. Jadilah Bintang yang boring sendirian. Dia bingung harus melakukan apa semua pekerjaan rumah sudah terselesaikan oleh Nebi (Nenek bibi).


"Ahhh kenapa sih suka boring gini."


Bintang meraih hp dan memutuskan untuk vidio call. Sudah satu minggu entah kemana sang ayah hilang kabar.


"Awas Ayah kalau nggak diangkat, gue jewer telinganya lewat hp. Gue tembus ini layar."


Tut tut tut


Bintang yang setengah kesal hendak mematikan sambungan tapi malahan sang ayah telah muncul di layar.


"Assalamu'alaikum bi...Hallo... Ada apa tumben kamu hubungin ayah?"


"Wa'alaikumsalam. Emangnya kenapa kalau bi hubungin ayah? Ayah keberatan?"


Ayah terkekeh dengan kelakuan anaknya yang sedang merajuk. Sebenarnya dia juga sangat merindukan anak cerewetnya tapi karena pekerjaan yang menumpuk dia tak sempat.


"Sabar nak takut kamu tambah tua...Hahaha."


"Sabar bi udah habis!"


"Di charcer lagi dong."

__ADS_1


"Kabelnya rusak."


"Pake power bang."


"Nggak ada listrik."


"Bayar dong listriknya."


"Mana uangnya?" Bintang menaik turunkan alisnya. Ayahnya masih saja suka becanda dengan dirinya.


"Di bawah bantal ayah bi."


"Oke, nanti bi ambil lumayan bisa buat beli kuota."


"Udah dulu ayah bye bye. Bi mau ambil uang."


"Assalamu'alaikum ayah."


Belum juga ayah mengucapkan salam Bintang sudah mematikan sambungan. Dia berlari menuju kamar sang ayah.


Wusss


Langit yang baru ke luar kamar langsung kaget melihat Bintang yang lari - larian. Langit geleng geleng melihat tingkah Bintang yang bar bar.


Bintang langsung mengerem kakinya saat sampai di kamar sang ayah dia meraih bantal yang berisikan uang. Bintang merogoh bantal dengan tergesa gesa, dia mengira uang yang dibantal ada 100.000 taunya cuma 5.000. Wajah Bintang langsung memerah menahan amarah.


"Dasar ayah. Dasar presiden praperbuncitan apa apaan ini cuma 5.000 ini mah buat beli permen doang."


Bintang menghentak hentakan kakinya dengan keras. Dia marah niatnya mau dapat uang kaget ini malah dapet kaget uang, karena kaget hanya ada 5.000.


Bintang menjatuhkan badannya di kasur dia memukul kasur, dia kembali boring lagi.


"Haish mau ngapain lagi ini boring abis."


Bintang meraih hp dan melihat jam yang baru pukul 07.30 dan teman tamannya baru datang pukul 10.00.


Bintang berjalan dengan malas untuk turun ke lantai bawah. Dia melihat sekeliling, mau makan udah, mau bersih bersih udah bersih, mau nonton tv malas, mau belajar juga malas banget.


"Rumah sepi banget apa mau bikin kue aja?" Bintang mengetuk dahinya dengan ritmen lambat. "Iya deh bikin kue aja."


Dengan riang Bintang berjalan menuju dapur dan melihat masih banyak bahan makanan. Bintang mencari resep kue di Youtu*e, ini perdana dia akan membuat kue untuk pertama kalinya.


Bintang mulai mengumpulkam satu persatu bahan kue mulai dari tepung, telur, pengembang, coklat dan bahan lain lainnya.

__ADS_1


Bintang memukai dengan memikser bahan hingga mengembang.


Langit yang baru turun melihat kehebohan Bintang yang sedang membuat kue. Mulai dari Bintang yang marah marah karena hpnya terkena tepung, terus lupa tak mencolokan kabel mikser. Langit pun menghampiri Bintang yang kerepotan. Bintang yang sudah memasukan satu loyang kedalam oven tapi mengingat banyak manusia yang akan datang dia akan membuat lagi.


Pyar


Tepung yang Bintang buka berceceran kemana mana. Muka Bintang, rambut, baju semua terkena tepung. Bintang terbatuk ketika tepung tak sengaja masuk kedalam mulut. Bintang mendongak dia terbahak bahak melihat Langit yang juga terkena tepung.


Mata Langit melihat Bintang dengan sinis. Dia menepuk bajunya, dia meraih tepung untuk membakas Bintang. Bintang juga tak mau kalah dia melempar tepung balik ke Langit. Dapur yang tadinya bersih langsung bak kapal pecah, dimana mana ada tepung.


Setelah cukup puas saling membalas mereka langsung fokus kembali membuat kue.


"Awas Langit lo nggak bener sini gue aja. Dasar cowok selalu nggak berguna saat masak. Wle!" Bintang menjukurkan lidahnya dia mendorong Langit agar menyingkir darinya.


Ting


Suara oven berbunyi itu tandanya kue yang dibuat Bintang sudah matang. Bintang menyuruh Langit untuk mengangkat kue dari oven. Entah Langit tak tau atau lupa dia tidak memakai sarung tangan. Sontak saja Langit menjerit kepanasan saat memegang loyang dengan tangan. Bintang yang ingin memasukan loyang yang kedua, dia merasa kasihan dengan Langit, dengan tergesa gesa dia memasukan loyang ke dalam oven. Bintang mengambil kue yang sudah matang.


Bintang berjalan menuju Langit yang masih kepanasan. Sebelum menuju Langit dia mengambil kotak obat.


"Sakit ya? Makanya kalau mau ngangkat kue di pake dulu sarung tangannya." Tangan Bintang masih saja mengobati Langit sesekali dia juga meniup luka di tangan Langit tapi mulutnya juga masih menceramahi Langit yang ceroboh.


"Kalau tadi kena semuanya lo harus dibawa ke rumah sakit untungnya cuma sedikit."


"Dasar cerewet." Cibir Langit.


"Enak aja cerewet. Lo itu ceroboh, lo suka bilang gue ceroboh tapi dirinya lebih ceroboh." Cibir Bintang yang tak mau kalah. Dia memencet luka bakar Langit dengan keras.


"Aww dasar cewek maunya bener terus."


"Cewek memang selalu bener jadi lo harus ngalah. Udah gue mau ngangkat kue. Bye Langit."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi sama Author. Bye bye


__ADS_2