Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Pasar malam end


__ADS_3

Hai Reders sekalian ....


Ayo ajak temen temen kalian buat baca cerita Author.


Jangan lupa vote, like, coment.


Happy Reading Reders


.


.


.


.


.


Nano masih kesal dengan perilaku Rachel yang lancang menghina ketampanan hakiki yang dia miliki. Siapa yang berani menghina Nano putra Raja, dia akan hancur. pikir Nano.


Tangan yang masih mengepal dan gigi yang bergemlutuk. Wajah yang sangar tapi gagal karena gigi tengah yang ompong.


"Cewek cantik yang tidak terpengaruh dengan ketampanan ku. I will get you because i'm handsome, handsome, and very very handsome." Ucap Nano dalam hati sembari menunjuk punggung Rachel yang kian menghilang, dibenahilah jas yang dia pakai, rambut klimis yang menambah kadar ketampanan dirinya.


***


Mang seblak


"Wah keyangnya, puas banget ini lambung. Mang! makasih seblaknya enak ini..." Bintang hendak membayar seblak tapi Langit mencegah dan jadilah Langit yang membayar seblak.


"A'a sama neng cocok!" Puji mang seblak yang membuat pipi Bintang memerah dan Langit yang menjadi kikuk. "A'a sama neng kabobohan?"


"Enggak!" Ucap Bintang dan Langit bersama dan membuat keduanya makin kikuk. Mang seblak makin girang melihat pasangan yang malu malu.


"A'a jagain nengnya jangan sampai terluka lagi."


Bintang bingung dari mana mang seblak itu tau jika dirinya sedang terluka. Bintang menoleh kearah Langit. Dia tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. "Senyummu melemahkan hatiku. Jangan senyum dong meleleh hati eneng."

__ADS_1


Bintang menaikan alisnya dia bertanya kenapa mang seblak tau jika dirinya terkuka. Langit memberi kode dengan matanya yang mengarahkan ke kaki Bintang. Setelah mendapatkan jawaban Bintang hanya membulatkan mulutnya.


Setelah asik kulineran mereka semua langsung berkumpul dan melanjutkan ke wahana selanjutnya.


"Kita mau kemana lagi?" Putra menanyakan pilihan yang lain.


"Rumah hantu aja!" Syeril mengusulkan mendapatnya kepada mereka semua dan mereka langsung setuju dan mempertahankan harga diri agar tidak dikata cemen.


Bintang dan Syeril berada di garda terdepan, dibelakang mereka ada Langit dan Putra yang memasang tampang cool mereka. Para golongan penakut berada dibelakang siapa lagi kalau bukan Mika, Gibran dan Nano.


Nano sebenarnya takut jika memasuki rumah hantu apa daya ego yang selalu di junjung tinggi tidak akan dia runtuhkan.


Aran bukan orang yang penakut dan Khatulistiwa juga bukan orang yang penakut tapi mereka harus terjebak dalam perkumpulan orang penakut.


"Mika awas jangan tarik tarik baju gue nanti baju kesayangan gue sobek." Dari tadi Aran terus berceloteh tentang hal yang sama. Memang dia penakut tapi dia juga harus menjunjung tinggi harga dirinya apalagi dihadapan predator.


"iya nggak usah lo ingetin berulang kali gue paham. sstttt."


Pintu masuk rumah hantu sudah terbuka. Bintang dan Syeril dengan riang memasuki rumah hantu. Disusul Langit dan Putra yang memasang tampang cool. Dan keributan mulai dimulai dari Mika yang mencengkram erat baju Aran dan Aran yang mencoba menghempas tangan Mika. Nano yang mulai ketakutan memejamkan matanya rapat rapat dan berharap ini akan segera berakhir. Di bagian paling belakang Gibran yang merasa bulu kuduk merinding malah tersenyum untuk mengatasi kegugupannya.


Ahhhh


"Wah itu liat tante kunti. Nano itu mamah kamu....Wah Nano kamu akhirnya ketemu sama mamah kamu." Bintang menunjuk kuntilanak yang dihadapannya.


Bintang dan Syeril kompak mendorong Nano ke kuntilanak dan Nano malah berteriak histeris. "Aaaaa papi.... Perempuan tua, kakak, Abang tolongin. Dia naksir aku...dia mau tangkap aku buat jadi pacarnya....tolong."


Nano melempar sepatu ketsnya ke kuntilanak palsu yang ada di rumah hantu lalu dia beringsut ke punggung Langit, minta digendong.


Mika yang merasa punggungnya ada yang mencram langsung teriak histeria. "Aaaa sunde, kunti, wewe, wowo pergi...aaa Aran huhuhu...pergi." Mika langsung minta digendong oleh Aran apa daya Aran yang kurus dia malah jatuh bersama dengan Mika.


"Khatul urisin ni si Mika gue nggak kuat ngangkat dia!"


Dengan terpaksa Khatulistiwa menggendong Mika di punggung. Mika membenamkan wajahnya kedalam punggung milik Khatulistiwa.


Gibran yang kehilangan pegangan mencari seseorang untuk menemaninya berjalan. Hanya Aran yang tersisa dan perjalanan mereka masih panjang, tapi dia malu jika harus berlindung kepada perempuan. Aran yang tau jika Gibran butuh pegangan dia menawarkan tangannya.


"Kalau lo takut, lo boleh pegang tangan gue." Aran menyodorkan tangannya kepada Gibran tapi Gibran menolak dengan gelengan kuat.

__ADS_1


"Ck, nggak usah malu. Lo mau mati ketakutan." Gibran masih kuat dengan pendiriannya. Aran memutar akal karena mereka berdua sudah tertinggal di belakang. Aran melepaskan kemejanya dan meninggalkan kaus putih. Dia menaruh kemejanya di kepala Gibran agar Gibran tidak malu sekaligus takut.


"Nggak usah dilepas sekarang. Nanti aja, sekarang lo pegang gue, gue bakalan jadi mata buat lo!"


Aksi dan drama di dalam rumah hantu selesai. Tak terasa berapa kekehan yang Bintang keluarkan jika melihat hantu palsu yang menurutnya sangat lucu. Bintang merasa tidak enak saat berjalan bagaimana tidak sendal jepitnya putus saat tadi mendorong Nano ke kuntilanak. Tapi Bintang masih diam dia takut jika berbicara akan menimbulkan kekehan dari semua orang yang menganggapnya kualat.


Semua orang sudah merubah posisi mereka seperti semula, sudah tak ada yang digendong, dan juga Aran sudah memakai kemejanya lagi.


"Wah asik banget kak bi." Syeril tersenyum lebar, bersama Bintang dia merasa dia sangat cocok dengan Bintang.


"Wah wah wah perempuan tua kayanya kamu ketiban sial karena mengerjai aku. Kemana hilangnya sendal kamu?" Nano yang tak sengaja membenarkan tali sepatu sebelahnya melihat Bintang hanya memakai satu sendal merasa senang.


"Kenapa?" Bintang memasang tampang bodohnya.


"Why? kamu kena batu..."


"Gue nggak kena batu tapi sendal aku putus. Pe-u-te-u-es, putus."


"Terserah kau saja perempuan tua."


"Iya kan gue bener."


Langit melihat luka dikaki Bintang yang kotor langsung berinisiatif menggendong Bintang menuju mobilnya. Bintang sempat bingung jika Langit menggendongnya tapi akhirnya dia juga menerima dengan senang hati.


"Udah kita pulang takut kemaleman." Putus Langit. Mereka semua juga menyetujuinya. Berakhirnya juga masa di pasar malam.


.


.


.


.


.


Selesai juga part pasar malam.

__ADS_1


Segini dulu..


Bye Reders....


__ADS_2