
Hai lagi Reders, Author kembali lagi dengan cerita yang banyak haluan ke kanan dan ke kiri. Jangan lupa vote, like and coment!!
.
.
.
.
.
Bintang berdesis ketika kaki yang terluka tak sengaja dia hentakan. Rasa marah masih menyelimuti hati dan pikirannya. Bintang mencari seseorang yang bisa diajak atau membantu dirinya ke uks. Dia berdecak melihat teman temannya sekaligus teman Langit berada di balik tembok. Matanya menajam, siapa saja yang melihatnya akan kikuk sendiri.
"Hei! Mau kesini sekarang apa gue timpuk sama batu?"
Aran serta Mika langsung lari menghampiri Bintang. Ditimpuk dengan batu, ohhh no jangankan batu sapu aja bisa ditimpuk jika Bintang sedang marah.
"Bi liat kaki lo! Gimana sih lagi sakit gini lari sana lari sini." Cetuk Mika, Bintang hanya memutar bola mata malas.
"Kalau gue nggak ditarik dan nggak ngadepin nenek gombreng demi membela negara gue juga udah sampai."
"Lebay!" Sela Aran.
Bintang meletakak kedua tangannya ke pundak Aran serta Mika. Dia bermaksud untuk minta dipapah ke uks malahan ditepis oleh keduanya.
"Ngapain lo bi?" Ketus Mika, Bintang melototkan matanya.
"Hei kalian kan temen gue, jadi papah gue ke uks."
Mereka berdua hanya beroh ria. Mereka meletakan tangan Bintang agar mereka bisa memapah.
"Hei kalain mau gerak jalan apa cepet banget jalannya!" Protes Bintang yang merasakan kakinya yang terluka makin perih sebab mereka yang memapah, berjalan terlalu cepat.
"Iya gue pelanin!" Balas Aran.
"Kalau gerak jalan sih menang dapet hadiah tapi kalau ini menang dapet terima kasih aja!" Sambung Mika.
__ADS_1
Bintang berdesis. "Jadi kalian nggak ikhlas ni? Yaudah lepasin aja biar gue jalan sendiri!"
"Yaudah kalau itu mau lo bi, ayo ran kita beli bakso di kantin aja." Mika tersenyum miring melihat Bintang yang ternganga melihat respon dirinya malahan meninggalkannya.
"Ihh kalian kok malahan ninggalin gue sih." Bintang mulai berjalan mengejar Mika dan Aran. Aran hanya menggaruk tengkuk kepala yang tidak gatal.
"Mik bi kasihan mendingan kita tolong aja." Aran yang dari tadi tidak setuju dengan kelakuan Mika mulai membuka suara.
"Aran gue cuma mau mainin bi aja. Liat aja dia bakalan..."
Bintang yang sudah menggapai mereka langsung mengahadiahi mereka dengan jeweran ditelinga keduanya. Mika berdecak, ini yang dimaksud Mika.
"Ngejewer kita." Sambung Mika.
"Ini hadiah karena kalian ninggalin temen yang lagi sakit!"
"Hehe bi gue cuma pengen si Mika juga ngrasain heweran lo yang mematikan!" Seru Mika.
"Apa? dasar Mika!" Seru Aran.
Setelah beberapa kendala akhirnya mereka pergi ke uks dengan aman dan tentram tanpa ada halangan apapun.
Bintang merebahkan badannya dia memandang kamar yang dia tempati. Sunyi tanpa ada kehadiran ayahnya, Syeril dan Nano. Dia cekikikan ketika membayangkan jika ayahnya bertemu dengan Nano. Wajah ayahnya yang kan berubah menjadi iron man.
Kakinya yang masih diperban dengan asal karena dia tidak sabaran. Bintang baru ingat kemana hilangnya sepatu yang di dapatkannya kemarin? Entahlah besok atau kapan dia akan kengambilnya jika ada waktu.
Bintang bangun dan terduduk. Motor yang dia bawa tadi masih disekolah seketika Bintang menepuk jidat.
Senyuman Bintang mengembang ketika mengenang dimana dia bisa menjadi captain girls. Rasa yang membanggakan tapi seketika hilang ketika mengingat dirinya kalah.
Dengan langkah tertatih dia menyeret kakinya supaya bisa menuju ke ruang makan, perutnya sudah berdemo untuk meminta makanan.
"Siang nenek bibi!"
"Siang juga non bi!"
"Nenek bibi masak apa?"
__ADS_1
"Bibi masak ayam kecap sama capcay non. Non bi mau makan sekarang?"
"Iya nenek bibi tapi nenek bibi makan juga ya."
"Iya non bi."
Suara dentingan sendok dan garpu mengiringi mereka makan. Bintang mencari sosok Langit yang entah kemana.
"Nenek bibi, Langit belum pulang?"
"Ohh itu non kata den Langit tadi mau jemput non Syeril sama den ganteng."
"Den ganteng?"
"Itu loh adeknya non Syeril katanya sih dia paling ganteng di sekolahannya dan dia itu paling kaya di sekolahnya makanya dia mau dipanggil den ganteng." Bi Ijah menjelaskan panjang lebar, Bintang hanya manggut manggut.
"Nebi sekarang bi mau tanya bapaknya si kutu kupret itu gimana apakah dia kayak si kutu kupret apa cool apa kaya gurun es? Tapi kalau cool nggak cocok, cocokan jadi anak tante kunti."
"Haha non bi bisa aja. Tapi tuan raja itu orangnya cool non."
Bintang menepuk jidatnya dia pernah ngomong jika papi si kutu kupret cool dia bakalan makan seblak setan dengan 50 biji cabai.
"Ihhh nebi, bi jadi nelen ludah bi sendiri."
"Ludah emang ditelen non."
"Bukan itu maksud bi. Maksud bi itu bi pernah ngomong kalau papinya si kutu kupret itu cool bi bakalan makan seblak setan dengan 50 biji cabai."
Bintang mencibik bibirnya. Dia mulai masuk ke dapur untuk memasak seblak dengan 50 biji cabai. Bi ijah hanya cekikikan membayangkan Bintang akan menangis kepedasan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Setelah fakum sekarang otak Author hilang satu per sembilan jadi kayak gini. Bye bye Reders.