
Hai Redees, maaf Author upnya telat. Baru aja Author selesai ngerjain tugas. Ini juga nyempilin waktu untuk up jadi hargain karya Author dengan terus vote, like and coment.
.
.
.
.
.
Pagi yang baru dan hari yang cerah. Bintang memulai dengan mandi dam ibadah. Senyum Bintang terus mengembang secerah mentari pagi.
Bintang memutuskan untuk melepaskan kelabangannya dan mengucir kuda rambutnya. Dengan bersenandung Bintang menuju meja makan untuk menemui bi ijah.
"Pagi nenek bibi cantik." Sapa Bintang. Bi ijah yang dibilang cantik langsung merona dan malu.
"Non bi, bisa aja!"
"Aku bukan bisa aja tapi biasa biasa aja nenek bibi."
Bi ijah beranjak kedapur setelah membersihkan meja makan. Bintang yang tengah bingung harus berbuat apa karena bi ijah sudah melakukan segalanya hanya duduk dengan melamun.
Bintang tak sadar tersenyum senyum sendiri. Dia melamunkan jika sang ayah mempunyai anak lagi dan istri barunya sangat galak. Bintang membayangkan berapa uban yang akan bermunculan dirambut ayahnya. Hihihi ayah bi doakan ayah nikah lagi dan istrinya galak abiis....
Bintang belum sadar, dia masih sibuk melamun. Terkadang dia cekikikan sendiri dan siapa saja yang melihat Bintang saat ini akan menganggapnya kesurupan.
Langit yang baru turun dari kamar langsung turun menuju meja makan. Dengan stelan yang rapih namun tidak terkesan culun, Langit nampak percaya diri. Suasana di meja makan nampak berbeda apalagi ada suara cekikikan perempuan. Rasa penasaran Langit akan suara itu sangat besar. Menghampiri? tentu saja Langit adalah sosok lelaki yang pemberani.
Penyelamat
Pemberani
Robot car poli
Setelah sampai Langit disuguhi dengan pemandangan yang aneh. Dasar perempuan gila....ucap Langit didalam hati.
Suara cekikikan Bintang terdengar semakin jelas. Bi ijah yang baru saja selesai memasak dan bersiap untuk menyajikan makanan dibuat merinding, melihat sosok Bintang yang seperti orang kesirupan saja.
Bi ijah menaikan alisnya, mengkode ke Langit. Seolah mereka berbicara lewat nata dan alis.
**Den non bi kenapa?
Kesurupan kali?
__ADS_1
Masa iya den, tadi juga saat bibi tinggal masak masih baik baik aja.
Saya tidak tahu**.
Begitu percakapan lewat mata selesai. Langit mengambil air minum. Dengan hati hati dia mendekat kearah Bintang.
Bintang masih aja asik dengan lamunannya. Entah mengapa dia bisa betah melamun, biasanya dia paling malas melamun sebab melamun sia sia. Namun sepertinya sekarang dia merubah pendapatnya, melamun adalah hal yang paling asyik kita bisa bermimpi dan senang sesaat dan melupakan betapa kejamnya dunia ini.
Langit menungkan sedikit air ke tangannya. Dengan hati hati Langit mencipratkan air kemukan Bintang.
Bintang yang baru melamunkan jika anak ayahnya ngompol mengenai celana ayahnya dan ibu tiri Bintang sedang marah karena masakan yang ayah masak gosong sangat bahagia. Namun seketika rasa bahagianya hilang. Air yang dicipratkan kearah Bintang membuat sang empunya kebakaran jenggot.
"Banjir, ujan, tsunami." Tetiak Bintang. Langit yang disamping Bintang langsung menyentil kepala Bintang. Bintang yang sadar langsung emosi tak terima jika dirinya di cipratkan air mana dia baru pakai bedak lagi.
"Langit!! Lo ngapain nyipratin gue sama air mana gue pakai bedak lagi. Huhuhu. " Bintang menangis bawang.
Bi ijah yang merasa ini masalah anak muda langsung beranjak pergi meninggalkan sepasang anak muda yang labil.
"Siapa suruh lo kayak orang kesurupan." Tegas Langit.
"Isss lo ganggu gue ngayalin ayah punya anak lagi sama punya istri galak. Nggak kebayang gimana stresnya ayah, seberapa banyak uban yang ada dirambut ayah. Xixixi!"
"Dasar aneh!" Gerutu Langit.
Langit hanya meneplok jidatnya sendiri melihat tingkah polos Bintang yang menurutnya menyebalkan. Lamgit hanya menyentil dahi Bintang dengan geram, tingkah polos Bintang menggemaskan sekaligus menyebalkan.
"Aduh lo suka banget sih nyentil gue. Gue takut nanti dahi due ada palungnya. Gue bukan anak kecil lagi lho!"
"Iya badan lo nggak kecil tapi sifat lo kaya anak kecil yang baru kloer."
"Haishhh hidup hanya sekali, ngit. Nggak kayak lo hidup kok datar kita harus menikmati hidup. Kadang melampaui batas itu menyenangkan."
"Iya in aja takut lo nangis."
Bintang mencubit perut Langit. Membuat sang empu meringis. Bintang hanya tersenyum puas akan kemenangannya yang di dapatkan.
❄❄❄
"Assalamualaikum anak anak. Bapak disini akan memberitahukan kepada kalian semua bahwa besok hari adalah ulang tahun sekolah. Jadi bapak harap kalian semua bisa mengikuti ivent yang kami selenggarakan. Ya, pada ulang tahun sekolah kami akan melaksanakan ivent di bidang olahraga jadi kalian persiapkan sendiri siapa perwakilan anggota yang kalian jagokan di kelas. Cukup sekian saya akhiri, Wasalamu'alaikum wr. wb." Suara pak Bambang sudah hilang. Di kelas Bintang yang tengah free class mengadakam musyawarah untuk mufakat. Bintang dengan malas mengikuti musyawarah dadakan.
"Oke temen temen, gue berdiri disini sebagai ketua kelas." Kasta dengan sombongnya menggebrak meja yang dikelilingi oleh seluruh siswa 12 IPA 5.
"Iya tau lo ketua kelas, cepet!" Ketus Mika.
"Ya elah lo maymunah sewot aja kaya Mika!"
__ADS_1
"Bodo amat bambang! "
"Husss kalian berisik tau, disini kita lagi berunding kalau mau debat sana di ruang sidang." Timpal Bintang.
"Iya iya bi."
Mereka menjadi fokus lagi. Kasta memperhatikan wajah satu persatu murid di kelas 12 IPA5. Kasta membolah balikan bola matanya. Sekalian aja copot tuh mata lo.....
"Kita disini sebagai saudara sebangsa dan setanah air, kita harus menjunjung nama baik dan mengharumkan nama...." Bintang mencubit perut Kasta. Kasta hanya memejamkan matanya untuk menetalisir rasa sakit di perutnya.
"Sakit bi!" Gerutu Kasta.
"Lo sih lebay jadinya gue kesel."
"Iya iya nggak."
Bintang menyudahi acara cubit cubitannya. Dia kembali fokus dengan acara musyawarah dadakan.
Kasta masih mengusap - usap perutnya. Rasa perih masih menggerogoti perut Kasta.
Kasta mulai menunjukkan wajah sangarnya. Dia memulai lagi acara musyawarah dadakan.
"Jadi disini kita akan memilih siapa jagoan kelas kita. Kalau anak cowok gue pilih Tito sama Oras sebagai patner gue kali ini. Dan untuk captain gue saranin Bintang karena dia jagonya olim."
"Lah kok gue sih!" Seru Bintang. Seketika semua orang menatap Bintang dengan tatapan aneh. Bintang menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Iya iya." Lirih Bintang. Seolah tanda bahwa untuk mengakhiri pandangannya. Bintang bernapas lega.
"Oke karena Bintang sudah setuju. Karena cewek butuh 2 saja, gue tunjuk Mika sebagai anggota. Dengan ini kita akhiri musyawarah untuk mufakat kita." Kasta mengetok 3 kali meja yang dihadapannya.
berasa siadang aja gue! batin Bintang.
.
.
.
.
.
Segini dulu Reders
Bye bye and see you next part 24
__ADS_1