Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Nyebelin tapi Suka


__ADS_3

Hai Reders Author up lagi.....


Maaf masih banyak typo typo lag**i**.


.


.


.


.


.


Dimeja makan, mareka masih menunggu Bintang mengambil makanan mereka. Bintang tersenyum hangat kepada keluarga Langit. Sedangkan dengan ayah, Bintang tersenyum penuh arti. Bintang mengambil nasi goreng ke piring milik ayah, senyuman Bintang masih penuh misteri. Suasana sarapan menjadi hening hanya ada suara dentingan sendok dan piring.


pembalasan dimulai ayahku.....


Bintang menahan tawa ketika meliat ayah mulai bereaksi. Ia menundukan kepala ketika ayah mulai melirik tajam ke dirinya.


Ayah yang memulai menyuapkan sesuap demi sesuap. Ayah tidak merasa curiga karena nasi gorengnya berada di tempat terpisah dengan yang lain. Sesuap demi suap dia makan dengan lahap, namun kemudian ayah merasa nasi gorengnya terasa pedas. Ayah melirik kearah Bintang.


Pasti ini kerjaan si Bintang....


Bintang tertawa cekikikan melihat sang ayah yang sedang merasa kepedasan. Melihat ayah yang kepedasan Bintang menuangkan air minum untuk sang ayah. Senyum penuh kemenangan muncul di bibir miliknya.


Hahaha rasain jadi ayah kok suka pansos..


Ayah meraih air minum dari tangan Bintang. Dia minum sampai berulang kali hingga menimbulkan rasa curiga orang yang dimeja.


"Hans, kamu minum banyak banget nggak takut kembung?" Tanya Alex.


Ayah yang ingin menjawab dan mulutnya yang sudah menganga lebar kembali menutup karena Bintang sudah menjawab terlebih dahulu.


"Om ayah emang suka minum, kalau dirumah air segalon juga sekali teguk makannya ayah jadi presiden negara praperbuncitan."


"Iya kan ayah?"


Bintang menaik turunkan alisnya. Semua memandang penuh arti kepada anak dan ayah yang dihadapan mereka. Serigai licik dimuka Bintang bisa dibaca oleh Langit.


"Heh ko kalian semua berhenti makan ayo makan lagi nanti makanannya dingin kan kasihan makanan yang dibuat Bintang nggak dimakan, padahal ini enak banget. Kamu dapat resep dari mana bi?" Tanya Rina.


"Hehehe. Tante nggak seenak itu kok tan ini Bintang cuma belajar dari resep peninggalan bunda."

__ADS_1


"Pantesan rasanya perfect."


"Iya tante."


Setelah sarapan mereka semua pergi satu persatu melanjutkan aktifitas masing masing. Ayah dan om Alex pergi ke tempat kerja, dan Langit serta Bintang yang hendak ke sekolah.


"Heh anak muda!!" seru Rina.


"Ada apa tan?"


"Ada apa ma?"


Bintang dan Langit berucap bersamaan. Seketika wajah Bintang langsung memerah.


"Uhhh kalian imut banget deh."


Cekrekk


Rina mempotret putra semata wayangnya yang sedang menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal dan Bintang yang merasa memerah karena malu.


"Anakku yang ganteng kamu mau kan nganterin Bintang kesekolah?"


"Nggak usah tante kan bi bisa naik bus."


"Kamu nggak liat. Motor hanya punya kamu dan sepeda bannya aja udan nggak ada, pasti ada yang nyuri."


"Tante nggak usah, beneran bi bisa naik bus aja."


"Kamu diam aja bi, orang tante lagi ngomong sama anak tante."


"Gimana nak kamu mau kan?"


"Oke mommy." Jawab Langit lesu.


"Langit lo nggak perlu anterin sampai ke sekolah lo anterin gue sampai ke halte bus aja."


"Udah nggak usah berisik. Naik!!"


Senyum Bintang merekah, mimpi apa dia semalam bisa boncengan dengan cowok idamannya. Bintang memasang helm dikepalanya. Dia menghampiri Rina yang masih berdiri dibelakang mereka.


"Tan bi berangkat dulu. Bye bye tante."


Motor Langit melaju ketiaka Bintang sedah dengan posisi paling nyaman.

__ADS_1


"Hati hati nak jangan ngebut."


Bintang tertawa dalam diam dia tidak mau samapai Langit mendengar tawanya. Dia tertawa dengan menutup matanya rasanya seperti mimpi bisa tinggal bareng, bisa makan bareng, bisa berangkat bareng. Langit melihat Bintang yang tersenyum hanya menaikan ujung bibir kanannya. Bintang yang ingin memeluk Langit merentang tangannya kearah pinggang Langit. Dia seakan ragu untuk memeluk pinggang milik Langit. Semakin dekat dengan ujung tangannya dia malahan tersungkur kedepan tak sengaja kepalanya terbentur dengan helm milik Langit hingga dia meringis kesakitan. Bintang memutar bola matanya sebentar. Dia melihat sekelilingnya bukan sekolah namun dia melihat halte bus.


"Turun!!" Perintah Langit.


Bintang turun dengan mencibikkan mulutnya. Dia tau apa keinginan Langit yang menurunkan dirinya di halte bus. Bintang membuka helm dan menaruhnya di jok motor. Bintang ingin duduk di kursi panjang yang ada di halte tapi sebelum dia beranjak tangannya ditarik oleh Langit.


"Ada apa lagi sih?" Tanya Bintang ketus.


"Gue cuma mau ngomong sama lo kalau gue ngajuin beberapa aturan dirumah gue dan lo harus ngikutin aturan gue atau lo gue usir dari rumah gue."


Mata Bintang membulat, dia tak menyangka cowok yang diidolakannya ternyata begini aslinya. Namun mau bilang apalagi hatinya sudah memilih dia hanya bisa menangis didalam hati.


"Peraturan pertama lo jangan pernah bilang ke siapapun kalau lo tinggal serumah dengan gue. Peraturan kedua lo harus jaga jarak dirumah ataupun disekolah dengan gue dan peraturan ketiga lo jangan pernah ngadu apapun tentang perilaku gue ke lo. Kalau lo ngelanggar satu aja peraturan gue lo gue tendang dari rumah."


"Tapi satu hal yang harus lo tau Bintang. Lo emang tinggal dirumah gue tapi jangankan nganggap lo jadi saudara jadi pelayan sekalipun gue nggak sudi, lo gue anggap sebagai benalu dirumah gue, yang hanya bisa numpang dan nyusahin hidup gue dan keluarga gue jadi lo harus sadar sama posisi lo sekarang dan seterusnya."


Bintang hanya menelan semua perkataan milik Langit. Langit yang memandang Bintang yang masih bingung memutuskan untuk segera pergi dari halte bus tersebut. Langit melajukan motor sport miliknya dengan kencang senyum smirk masih dipertahankan di wajah tampannya.


"Tadi itu beneran Langit bukan sih. Tapi masa dia kayak gitu apa jangan jangan dia kerasukan? Berarti tadi yang ngomong setannya dan berarti tadi gue boncengan sama setan pantesan ngomongnya kayak lambe turah kesurupan dianya. Masa pangeran pujaan hati ngomong kasar kan nggak mungkin nanti putrinya sakit hati dan ngambek. Dah lah nunggu bus dulu mumpung masih pagi."


Bintang mendudukan badannya dengan santai dia mengambil handphone dan earphone miliknya.


"Mendingan dengerin lagu dari pada boring."


.


.


.


.


.


Hai reders gimana part ini?


Boring ya? Gaje?


Tetep semangat bacanya walaupun ceritanya jelek.


Bye and next part 8

__ADS_1


__ADS_2