
Hai hai lagi Reders, Author masih belum cape jadi Author mau update lagi.
.
.
.
.
.
Bintang tengah berjalan sendirian menuju rumah Kasta. Bintang masih kesal dengan Kasta karena hampir membuat dia malu.
Bintang jengah mendengar banyak orang yang membicarakannya. Seolah dalam sekejap Bintang menjadi terkenal. Mungkin bagi banyak orang terkenal itu anugrah tapi bagi Bintang adalah masalah malahan masalah besar.
Hua, ayah mereka ngomongin Bintang, aish kenapa Bintang jadi apes gini niatan mau deketin cowok ini malah Bintang jadi orang **** gini. Hua ayah.
Bintang jalan dengan melamun sendirian. Mika? Sudah pulang duluan dengan alasan sakit perut. Kasta? Bintang masih kesal karena dia nggak minta izin untuk membuat sumbangan untuk dirinya.
"Bintang!"
Bintang menoleh saat ada orang yang memanggil namanya. Sarah. Itu sarah Bintang masih ingat dia lagian siapa yang tidak kenal Sarah dia patner olimpiade olahraga Langit.
Bintang memejapkan matanya berulang kali. "Sarah, ada apa?"
"Bi, gue seneng akhirnya lo muncul lagi. Gue nggak nyangka lo sekolah disini dan lo termasuk fans Langit. Ouh yah lo kemana aja kok gue nggak pernah liat lo di olimpiade."
"Gue berhenti dari olimpiade." Bintang menunduk lesu, dia sudah kehilangan jati dirinya.
"Dan masalah Langit gue cuma prank!"
Aduh gue ngomong apa sih masa prank gue suka beneran tuh.
"Gue kira lo beneran suka sama Langit."
Bintang menggigit bibir bawahnya. Masa gue ngomong kalau gue suka sama Langit tengsin dah gue. Sarah gemas sendiri melihat Bintang yang sedang mengerucutkan bibirnya.
"Gue harap lo mau ikut olimpiade. Arena terasa sepi tanpa lo. Oh ya gue udah anggep lo kayak adik sendiri jadi jangan sungkan sama gue."
"Makasih udah perhatiin gue. Gue seneng punya kakak cantik kaya lo." Bintang memeluk Sarah dengan erat dia pernah membayangkan bahwa dia mempunyai kakak dan sekarang terwujud.
"Tapi masalah olimpiade gue nggak bisa untuk waktu dekat ini."
"Gue akan dukung semua keputusan lo, adek manis."
Sarah melepas pelukannya dia membelai pipi Bintang dengan lembut.
"Lo juga banyak berubah dulu lo di kucir kuda tapi kenapa rambut lo dikepang satu kayak gitu?"
"Biar nggak ada yang suka aja."
"Hahaha, lo itu cantik dari lahir mau diapain aja masih imut imut."
"Masa iya sih."
Bintang meraba mukanya. Jangan ditanya pipi Bintang sudah mirip kepiting rebus. Merah. Huaa Bintang mau teriak.
"Lo itu masih kayak dulu polosnya minta ampun. Gue pikir lo udah berubah malah lo masih polos gini. Hahaha."
Bintang mengedipkan matanya berulang kali. Sarah yang gemas dengan tingkah polos Bintang langsung mencubit pipi Bintang.
"Dah lah gue bisa pipis dicelana kalau sama lo terus, bye bye Bintang."
❄❄❄
__ADS_1
Bintang pulang ke rumah Kasta, dia memandang rumah kecilnya yang hangus terbakar. Bintang tersenyum miris dengan takdir yang seolah mempermainkan dirinya. Mulai dari usaha ayah bangkrut gara gara ditipu oleh teman ayah. Kemudian hidup Bintang jungkir balik dari harta yang berlimpah menjadi miskin dan satu satunya yang tersisa kini hilang sudah.
Bintang yang melamun masih belum sadar jika ada seseorang yang masuk ke kamar sementaranya. Pusing. Bintang sangat pusing memikirkan kehidupan yang sekarang jungkir balik.
"Bintang!"
"Eh. Kaget kaget kaget."
Bintang mengelus dadanya. Untung dia tidak memiliki riwayat sakit jantung, kalau punya mungkin sekarang dia sudah mati diusia muda.
"Ihhhh ayah nyebelin."
Sedangkan ayah tertawa terpingkal pingkal melihat putri kecilnya. Dia memeragakan seperti putrinya yang yengah kaget.
"Ayah kalau nggak berhenti, Bintang ngambek."
Bintang melipat kedua tangannya didepan dada. Bibirnya mengerucut tanda dia kesal dengan tingkah laku ayahnya.
"Iya deh ayah berhenti tapi kamu jangan ngambek nanti siapa yang jagain ayah."
"Habisnya ayah nyebelin. Gimana kalau nanti Bintang mati muda."
"Bagus dong ayah bisa nikah lagi."
Tangan ayah mengelus puncuk kepala putrinya. Belum juga sampai puncuk kepala tangannya sudah ditepis kasar oleh Bintang.
"Kalau nanti Bintang mati dan ayah nikah lagi, Bintang mau datengin ayah sama istri baru ayah Bintang iket kalian di pohon pisang."
"Ih anak ayah kalau ngambek mirip Bintang."
"Kan Bintang emang Bintang emang ayah pikir Bintang siapa uprit gitu?"
"Bisa dibilang kaya gitu."
Kedua anak dan ayah ini memang sangat dekat. Terkadang mereka terlihat seperti seorang teman ketimbang seorang ayah dengan anak karena mereka sangat jahil satu sama lain.
Semenjak ibu Bintang meninggal setelah kelahiran Bintang, ayah bintang menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Bintang. Bukan hanya itu Bintang juga selalu manja ketika bersama ayahnya dan ayahnya selalu jahil kepada putrinya.
"Oh iya bi, besok kita pindah kerumah temen ayah dan dia juga ngasih ayah perkejaan di restorannya jadi kamu siap siap."
"Serius ayah? Wahhh asik kalau gitu Bintang mau tidur dulu!"
"Ehh, ini bocah malah tidur beres beres bi!"
Ayah mengguncang guncangkan tubuh anaknya yang sudah tidur di kasur. Bintang mendekus kesal sebab acara tidur siangnya terganggu.
"Mau beresin apa kan semuanya udah terbakar, ayahku yang ganteng tapi berutnya kaya bom."
Ayah menepuk kepalanya. Usia memang tidak bisa membohongi diri.
"Yah jangan pergi dulu dong."
Sontak Ayah langsung membalik badannya. Ayah mengangkat bahu tanda dia meminta penjelasan.
"Bintang mau nanya sama ayah."
"Apa?"
"Penting nggak kalau nggak penting mending ayah tidur ganteng."
"Tidur ganteng? tidur buncit baru bener."
Ayah berdecak kesal. Tingkah putrinya tidak akan membiarkan ayahnya tebar pesona pada sesama manusia. Ayah hanya bisa tebar pesona dengan uprit.
"Mau ngomong apa bi?"
__ADS_1
"Bintang mau ngomong, penting banget yah."
"Apa?"
"Apa temen ayah perutnya buncit juga."
Rasanya Ayah mau pingsan atau tidak, dia mau bumi menelan mati mati soalnya kalau hidup pasti sakit.
Ayah menepuk dahinya kencang. Sifat putrinya memang selalu apa adanya dan tidak berubah jika bersama ayahnya.
"Ngapain ayah neplok jidat ada nyamuk? perasaan dari tadi nggaka da nyamuk."
"Sudah cepetan apa yang mau kamu tanyain, yah S I B U K."
Ayah menekan kata terakhir.
"Lah kan tadi Bintang udah tanya apa temen ayah perutnya buncit?"
"Itu pertanyaan kamu?"
Bintang menggangguk.
"Itu yang kamu bilang penting?"
Bintang mengganguk lagi.
"Kalau perut temen ayah buncit kenapa?"
"Yah nggak ada populasi cowok roti sobek semuanya kayak BOM."
"Ayah buncit, ayahnya kasta buncit, Kasta juga agak buncit, Uprit juga buncit kenapa kalian nggak bikin negara praperbuncitan sih."
Bintang menghentakan kakinya ke kasur. Pupus sudah harapan dia membangun negara roti sobek.
"Tapi anak temen ayah perutnya kaya roti sobek."
"Bener yah?"
Ayah mengangguk cepat. Bintang langsung berdiri dan mengambil sisir di nakas.
"Pengumuman untuk warga negara praperbuncitan negara ini dibatalkan dan akan diganti dengan negara roti sobek. Yes yes populasi buncit menghilang sudah."
Ayah melangkahlan kakinya keluar.
brak
Kepala Ayah menabrak pintu kamar Bintang yang sementara. Ayah lupa untuk membuka pintu.
Bintang langsung tertawa ngakak dan ayah hanya meringis memegang kepala jenongnya.
.
.
.
.
.
Gimana part 4nya
komen di bawah ya....
Bye bye 💜
__ADS_1