Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Diary Nano


__ADS_3

Hai Reders, Author up lagi.....


.


.


.


.


.


Ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting


Suara hp milik Nano bunyi. Keselusinan pacarnya mengirim chat secara bersamaan. Nano yang masih terlelap tiba tiba terbangun mendengar notife hp yang terlalu keras.


"Siapa sih yang ganggu aku tidur?"


Dengan malas Nano membuka matanya lebar lebar. Banyak chat dari keselusinan pacar yang dia pelihara. Pelihara emang dipikir kucing apa?


"OMG, My girlfriend chat me."


Hallo yank kamu dimana? ~ Dina.


Sayang kamu nilainya anjlok. ~ Mira.


Hubby hou are you?~ Sinta.


Cayang I Miss You. ~ Afiy.


I LOVE YOU, kak. ~Bianca.


Te amo❤. ~ Cika.


Udah makan yank. ~Elin.


Kamu raja jail. ~ Falyn.


"KITA PUTUS DASAR BUAYA!!!" ~ Giska.


"Yang kamu selingkuh? Kalau kamu selingkuh aku gantung kamu!!!" ~ Hilda.


"Ohhh ternyata kamu duain aku yank😤." ~ Iren.


"Kita PUTUS jangan ngehubungin aku lagi dasar murahan!!!" ~ Jesica.


Nano hanya menguap santai. Menurut Nano pacar yang dia punya hanya dibutuhkan untuk pamer sama teman temannya. Dengan malas dia membalas satu persatu pesan dari keselusinan pacar yang dimilikinya.


Dina


Aku dihatimu.


Mira


Tinggal naik tangga aja, sayangku.


Sinta


In your heart❤


Afiy


I Miss you to, cayang.


Bianca


I Love you too, adek.


Cika


iya aku juga.


Elin


Belum nanti aja masih mau chattingan sama kamu.


Falyn


Kalau aku raja kamu permasuriku.


Giska

__ADS_1


ohhh 🙊


Hilda


Apa kamu tega nggegantung pacar ganteng kamu?


Iren


aku nggak duain kamu tapi aku sebelasin kamu, yank.


Jesica


Buanglah mantan jauh jauh.


Putus? Biasa aja menurut Nano, mereka semua hanya ajang pamer untuknya. Kualat baru tahu rasa...


Nano meresakan kelaparan. Ia turun ke lantai bawah untuk makan. Dia melihat meja makan kosong. Dia masih mencari dimana yang ada makanan yang tersisa. Di kulkas hanya ada sayuran, masa iya makan sayur mentah dikira kambing. Kamu buaya say bukan kambing.


"Rumah gede makanan aja nggak ada. Apa perlu aku beliin restoran?" Gerutu Nano.


Nano menelpon kakaknya yang katanya mau kesini juga. Nano memencet nomor yang sudah hapal luar dalam kepala.


Tut tut tut


"Hallo kak!"


"Ada apa?"


"Kakak dimana? Di rumah abang nggak ada makanan."


"Kakak ditaman sama abang. Makananya udah habis dek, kamu puasa aja."


"Enak aja puasa nanti aku kurus nggak ada yang naksir lagi."


"Kata kamu papi hokay jadi semua cewek deketin kamu jadi nggak usah ngerawat tampang kan yang penting papi hokay."


"Syeril cepet pesenin makanan! Aku nggak bawa uang tadi."


"Itu sih derita kamu!!"


"Bye adek laknat."


Bip


Sambungan telepon terputus secara sepihak. Nano hanya menggerutu kakaknya tidak mau membantu.


"Mana sih bibi, biasanya bi ijah ada disini."


"Masa aku harus minum doang bisa buncit perutku."


"Nggak ada tuh makanan atau cemilan setidaknya buah di rumah sebesar ini."


"Pasti mereka bawa tuh semua makanan ke taman."


"Awas aja, raja mau lewat."


***


Di taman....


"Siapa yang telpon, ril?" Tanya Bintang.


"Oh ini si Nano kak bi."


"Adik kamu nyariin makanan?" Tanya Langit.


"Iya kak. Biarin aja dia mau puasa. hehe."


Mereka semua di taman karena udara di dalam rumah sangat panas padahal jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Jadilah mereka semua keluar dan membawa seluruh makanan.


Suasana di taman sangat hangat dan seru. Mereka bercanda, berceloteh, bercerita, ngerumpi, kadang mereka bernyanyi bersama diiringi gitar yang dimainkan Khatulistiwa.


"Kak Khatul kok bisa main gitar?" Syeril sangat suka permainan gitar yang dimainkan oleh sang playboy kelas kakap itu.


"Iya..."


"Dia main gitar buat ngegebet cewek." Timpal Gibran.


Syeril hanya beroh ria. Sedangkan Khatulistiwa kesal sebab niatnya mau pansos pupus sudah.


"Syeril kamu sekolah dimana?" Tanya Bintang.

__ADS_1


"Dikelaslah." Jawab Putra.


"Mana ada orang sekolah kalau bukan dikelas emang otak kecil lo nggak pernah mikir nggak ada sejarahnya sekolah di puncak menara." Sewot Gibran.


"Santai aja mas bro." Timpal Putra.


"Aku sekolah di SMP PELITA." Jawab Syeril.


"Wah kita satu SMP tau nggak. Ehh ehhh kamu tau nggak pak Rahmat masih ada nggak, kak bi mau minta maaf sama dia?"


"Pak Rahmat udah meninggal 1 tahun yang lalu. Dia terkena serangan jantung di sekolah. Emang kak bi punya salah apa sama pak Rahmat."


"Innailaihi. Kak bi belum sempat minta maaf huhuhu." Bintang menangis bawang.


"Lebay." Tutur Langit.


"Awas lo bi nanti malam lo dihantuin sama hantu pak Rahmat. Lo masih ada salah kan sama beliau." Gibran mencoba menakut takuti Bintang.


"Nggak ada ceritanya hantu bisa nakut nakuti manusia. Kita beda alam." Jawab Langit.


"Masa masih ada hantu. Kalau ada hantu aku mau ajak foto lumayan biar followers Instagram aku tambah banyak. Hehehe." Gumam Bintang tapi masih bisa didengar oleh Langit yang duduk disebelahnya.


"Dasar alay." Gerutu Langit.


Langit menatap Bintang yang tengah digerai. Rambutnya yang biasanya dikelabang satu dan rapi sekarang bebas. Anak rambut yang berterbangan membuat sosok Langit ingin membenahinya.


Ternyata dia cantik dan cukup manis.


Beeppp


Lampu tiba tiba mati. Hawa dingin terasa di kulit mereka berenam. Suara tangisan dan diiringi lagu jawa terdengar di telinga mereka semua.


Seketika mereka semua terdiam. Bulu kuduk meriding di rasakan oleh mereka berenam.


"Ini hantu pak Rahmat datang, dia mau narik lo ke alam mereka bi..." Ucap Gibran yang tengah setengah takut.


"Bi gue denger denger dari tetangga gue kalau ada orang yang meninggal sebelum urusan mereka terpenuhi mereka akan berubah menjadi hantu penasaran." Kini giliran Khatulistiwa yang sebenarnya dia sedikit takut san berusaha meredam rasa takutnya sendiri.


"Iya bener bi, gue pernah liat film horor kalau ada hantu yang ingin balas dendam sama orang yang belum minta maaaf sama mereka, maka mereka akan membuat dia mati." Timpal Putra.


"Kak bi bukannya setan sama kita masih tinggi derajat kita jadi anggap aja kayak nonton film horor aja." Timpal Syeril yang malah santai sambil menyeruput jus jeruknya.


"Gue sih nggak takut mana sih hantunya nggak keluar keluar mau gue ajak foto." Bintang menyiapakan hp yang akan digunakan untuk mengabadikan foto yang bersejarah.


Langit menyentil dahi Bintang. Dia jengah karena Bintang tak pernah serius dengan tingkah lakunya.


"Dari pada disini terus mending kita tidur aja." Usul Putra dan di angguki oleh ke limanya.


Setelah keenam orang dewasa itu pergi. Muncul Nano yang dengan tawa girangnya akan mendapatkan makanan.


"Asik makan."


Nano memakan semua yang ada dimeja. Entah seberapa besar lambung yang dia miliki.


"Itu perempuan tua katanya mau foto sama setan sok berani banget sih. ck, didunia ini yang paling berani adalah Nano."


Nano masih duduk dengan tenang. Perutnya seakan mau meledak. Gimana gak meledak makanan semeja dimakan semua...


Tiba tiba ada yang menyentuh bahunya. Nano mendongak ada sosok yang wajahnya pucat.


"Aaaaa hantu..."


Nano langsung lari terbirit birit. Orang yang menyentuh bahu milik Nano hanya termenung. Dia menurunkan senternya.


"Aneh cuma mau tanya kenapa rumahnya gelap kok lari."


.


.


.


.


.


Segini dulu reders


Jangan lupa vote, like and coment


Bye and see you next part 17

__ADS_1


__ADS_2