
See you hai Reders
Apa kabar kalian?
Waktunya up jadi kalian siap siap untuk baca.
Jangan lupa vote, like and coment.
Dukungan kalian adalah semangat untuk Author.
.
.
.
.
.
Setelah puas dengan permainan bianglala, mereka semua tengah berkumpul untuk menikmati kulener khas pasar malam apalagi kalau bukan sosis & baso bakar, pop ice, permen kapas, martabak sampai makanan berkuah yang semuanya itu adalah makanan kaki lima.
"Wah ayo kita kulineran." Ajak Bintang dengan mata yang terbinar. Semua berpencar untuk menikmati jajanan kesukaan mereka.
Bintang langsung saja berlari menuju tempat seblak. Adakah makanan yang lebih enak dari pada seblak. pikirnya.
Langit juga mengikuti Bintang yang melangkah kakinya menuju stand seblak. Aroma khas bumbu seblak dan aneka bahan seblak bercampur yang membuat perut keroncongan.
"Wah bang seblaknya satu...." Bintang duduk di bangku paliang samping dan Langit juga menghampiri Bintang. "Bang seblaknya dua..."
"Wow Langit lo makan seblak juga...Gue kira lo nggak suka seblak....Bagus bagus seblak memang cocok untuk bikin lambung kongslet."
"Hmmm."
"Bang seblaknya yang satu pedas gila."
"Siap neng!"
Bintang mengetukkan jarinya ke meja seiring dengan lagu yang tengah diputar di dalam stand seblak. Kadang dia bersenandung kecil.
Langit mendongak dia memperhatikan wajah Bintang yang selalu dipenuhi oleh senyuman. Rasa bersalah kembali menghantui dirinya yang gegabah menghina Bintang dengan teganya.
"Ini neng, A'a silahkan."
"Makasih bang."
"Sami sami neng."
Bintang menghirup aroma seblak kuat kuat. Hanya menghirup saja membuat Bintang kerincongan. Bintang mengangkat sendok dan siap untuk memakan, dia berdecak kesal ketika mangkok seblak yang dia pesan terangkat dan direbut oleh Langit.
"Iih Langit itu punya gue. Huhuhu." Bintang menangis bawang tapi tak diperdulikan oleh Langit. Dia mencebikan bibirnya.
"Jangan makan pedes nanti lo sakit perut." Langit dengan sengaja menukar seblak Bintang dengan dirinya. Teringat jika perempuan itu tadi siang menangis kepedasan dan bila terlalu banyak dia bisa bisa diare atau bahkan masuk rumah sakit.
"Enggak gue maunya yang itu."
"Makan atau tidak sama sekali."
__ADS_1
"Dasar tukang paksa!"
"Gitu aja ribet." Cibir Langit.
Bintang terpaksa memakan seblak dengan level standar. "Enak banget dia tinggak maksa maka gitu. Tapi kok gue jadi baper dia perhatian banget sih jadi makin suka. Haha my captain boy!"
***
Tukang sosis.
"Wah ran gue mau ke tukang sosis aja!" Pandangan terbinar Mika membuat Aran tidak bisa menolak. Apalagi matanya yang bersinar membuat Aran tak bisa berkata kata.
"Mika tapi gue mau ke tukang permen kapas!" Aran juga sangat ingin memakan permen kapas yang menjadi makanan favoritnya.
"Tapi lo temenin gue dulu!" Seru Mika yang menarik tangan Aran agar mau mengikutinya.
"Mika ayolah gue duluan, kalau kemaleman nanti tukang permen kapasnya masuk angin lo nggak liat dia udah tua."
Mika melihat tukang permen kapas yang memamng sudah berumur. Tapi Mika juga tak ingin kalah dengan Aran.
"Ayolah ini sebentar, lo nggak liat Aran antrian sosis itu lagi sepi nanti kalau kemaleman rame banget."
"Mika penting kesehatan apa antrian?"
"Kesehatan sih...Tapi gue mau sosis." Mika menarik Aran hingga berjongkok jongkok. Aran bingung harus berbuat apa jadilah dia yang kalah jika harus melawan Mika.
Ahhh....Mika selalu aja kaya gini.. Khatul mana sih tolongin gue
Aran berjinjit agar bisa melihat keberadaan sepupunya. "Khatul!!" Aran berteriak dengan keras agar Khatulistiwa bisa mendengar suaranya.
"Ada apa ran?"
"Ini si Mika maksa maksa gue... Gue kan mau pemen kapas tapi dianya mau sosis gue rebutan siapa yang duluan. Gue kasihan aja sama tukang permen kapas kalau ke maleman takut masuk angin, dia udah tua. Tapi kata Mika suruh ke sosis aja takut antriannya panjang." Aran menjelaskan dengan panjang lebar, Khatulistiwa hanya manggut manggut.
"Gini aja ran, lo pergi sama Gibran katanya dia juga mau makan permen kapas. Dan Mika lo ikut kita berdua kita juga mau sosis."
"Tapi gue nggak mau sama dua predator. Aran tolongin gue..." Mika yang terus protes membuat Khatulistiwa jengah dia menyeret kerah baju Mika supaya Mika bisa mengikutinya dengan cepat, terjadilah drama. Putra hanya melipat tangannya dan berjalan santai di belakang Mika dan Khatulistiwa sedangkan Gibran dan Aran masih terjebak dengan kecanggungan, bagaimana tidak baru kali ini dia bisa dekat dengan perempuan.
"Aran ayo jalan." Gibran mencoba membuka perbincangan. Yang Gibran tau Aran adalah tipe perempuan yang tertutup dan pemalu jadi kalau dia tidak membuka pebincangan mana mau Aran berbicara.
"Iya gib." Jangan tanya detak jantung Aran. Aran memegang dadanya jantungnya terus berdisko seenaknya.
"Lo suka sama permen kapas?" Gibran menanyakan itu hanya sekedar basa basi.
"Iya semenjak gue tinggal sama ayah dan bunda gue suka permen kapas."
"Maksud lo?" Dahi Gibran berkerut, dia merasa janggal dengan ucapan Aran.
"Nggak ada apa apa kok.... oh ya lo juga bisa suka permen kapas biasanya cowok mana mau makan begituan." Aran mencoba mengalihkan perbincangan.
"Ini makanan kesukaan sahabat gue. Dia udah nggak ada jadi gue makan ini untuk mengenang dia."
"Ooo." Bibir Aran membulat sempurna.
***
"Kakak ini tempat apa? Jijik banget sih mereka cuci mangkok cuma di airin doang, wle." Nano yang tadinya ingin makan bakso langsung mengurungakan niatnya yang melihat cara mereka mencuci mangkok apalagi melihat air cuciannya. Terpaksa Syeril hanya menahan malu kepada orang lain.
__ADS_1
"Dek diem."
"Makanan disini nggak ada yang higenis, liat aja mereka nggak pake sarung tangan."
"Itu kakak liat mereka juga nggak cuci tangan apa mereka mau membuat pelanggan mereka sakit perut. Kalau aku jadi mereka..."
"Diem atau kakak buang kamu." Syeril melitotkan matanya. Syeril merasa jengah dengan obrolan adiknya yang terus menghina penjual makanan disini.
"Apa aku salah ngomong?"
"Adek kamu nggak boleh ngehina orang!"
"Aku hanya mengungkapkan realita!"
"Tetap aja kamu nggak boleh ngomong kaya gitu. Kalau mamih sampai tau kamu udah dijewer sampai putus tuh telinga."
"Bodo amat."
"Terserah lah de..."
Syerul berjalan menjauh dari Nano biarlah dia tersesat lebih baik mengamankan diri sendiri dari pada harus menanggung malu lagi.
Nano malahan tak perduli jika dia ditinggal sendiri. Nano melihat ada anak cantik yang sebaya dengan dirinya.
"Wah cantiknya dia."
Nano menghampiri anak perempuan yang sedang membawa pop ice ditangannya. Gaya anak itu hanya menggunakan celana lejing, kaus oblong, kemeja kotak kotak, topi di kepala jangan lupa rambut yang dikucir kuda membuat perempuan itu sangat menarik dimata Nano.
"Hai cewek cantik."
Anak perempuan itu mendongak. Dia malahan tertawa terbahak bahak melihat Nano yang dihadapannya.
"Kenapa kamu menertawakan aku apakah aku terlalu tampan untukmu. Kenalkan nama aku Nano."
Gadis kecil itu menjabat tangan Nano. "Nama aku Rachel. Kamu salah kostum ngapain pake jas kalau hanya ingin ke pasar malam. Hahaha. Masih ngantuk kamu say.."
Gadis kecil itu pergi meninggalkan Nano. Sebelum dia benar benar menghilang dia menatap Nano dari atas sampai bawah.
"Kamu tampan tapi sayang kamu ompong."
Nano merasa jika dirinya tengah dipermalukan. Dia mengepalkan tangannya.
.
.
.
.
.
Ba...
Gimana part ini, coment aja jangan malu malu.
Bye bye..
__ADS_1