Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Bi Ijah


__ADS_3

HAI Maafin Author lagi.


Mulai minggu ini Author lagi sibuk banget. Suruh kelompok sana kelompok sini, lempar sana lempar sini. Udah tugas numpuk. Ehh maaf malah jadi curhat😀.


Pokoknya jangan lupa vote, like and coment.


Dukungan kalian adalah semangat Author.


.


.


.


.


.


seminggu berlalu.......


Bintang yang sedang santai santai memimum minuman yang baru ia buat. Sudah lama dia tidak memanjakan badannya dengan rebahan dan santai. Seminggu ini dia sangat sibuk dengan segunung tugas, dari ulangan dadakan, kuis dadakan, penilaian dadakan semua serba dadakan. Untung punya otak encer.....


Bintang terlungkup di atas sofa sembari menonton kartun. Sore ini sangat sepi, Syeril dan Nano pulang kerumah karena orang tua mereka pulang. Bintang terus menguap, semalam dia begadang mengerjakan tugas.


Bintang merubah posisi terlentang. Tetap saja rasa kantuknya datang padahal baru aja santai. Tanpa sadar Bintang tertidur dengan menonton tv ralat tv yang menonton Bintang.


Langit turun untuk mengambil minum. Rasa hausnya sudah tidak dapat ditahan lagi. Setelah Langit mimun dia melihat Bintang tertidur terlentang. Tangannya menyentuh lantai dan tv meninton Bintang yang tengah tertidur.


"Dasar cewek bar bar." Gerutu Langit.


Langit mengangkat tangan Bintang dan menaruhnya di perut Bintang. Dia menyibak rambut Bintang yang entah pada lari sendiri sendiri.


"Tidur aja tetep bar bar!"


Langit pergi meninggalkan Bintang yang tengah tertidur pulas. Sebelum pergi Langit mendengar Bintang yang tengah mengigau.


"Langit lo ganteng tapi kayak kulkas dua pintu, jarang ngomong. Sekali ngomong pedes kaya seblak setan. Hehehe"


"Entah kenapa aku suka kamu. Hehehe."


Langit hanya diam dan enggan menanggapi. Langit melangkahkan kaki menuju kamarnya. Dasar nggak peka...

__ADS_1


2 hour later.....


Seseorang masuk rumah kediam Langit dengan sopan. Dia mengetuk pintu dan memencet bel berulang kali.


Sosok itu membuka pintu dengan kunci cadangan yang ada di bawah pot. Sosok itu masuk dan menemukan Bintang yang tertidur di lantai. Sosok itu mendekat kearah Bintang. Sosok itu membawa tas berukuran besar.


Bintang perlahan-lahan membuka matanya, lantai yang begitu dingin menusuk tulang tulamg Bintang. Bintang membuk Matanya dengan lebar dia terkejut melihat wanita paru baya yang sedang mengguncangkan badannya.


"ASTAGA NENEK KUNTI!!!!"


Bintang yang belum sadar akan yang didepannya manusia biasa sama sepertinya. Langit yang mendengar teriakan Bintang langsung lari turun menuju ruang santai.


"Aduh non ini bi ijah bukan nenek kunti."


Bintang yang mulai sadar denga sosok bi ijah. Bintang melihat bi ijah yang fisiknya sama wanita paru baya.


"Coba bi liat kakinya takutnya ngambang."


"Kan ngambang kakinya. Nggak nyentuh lantai." Bintang memandang bi ijah dengan curiga. Bi ijah membung napasnya gusar.


"Non bi pakai sendal jadinya kaki bibi nggak nyentuh lantai."


"Bener?"


Langit yang baru turun dari tangga langsung menghembuskan napasnya gusar. Langit melototi Bintang, memperingatinya agar jangan menunjukan sikap bar barnya. Bintang yang merasa di pelototi langsung membalas dengan pelototan yang tak kalah tajam.


Ngapain sih Langit melototin gue. Mana matanya kaya mau copot....


"Assalamu'alaikum bi. Bibi apa kabar." Langit mencium tangan bi ijah yang sudah dianggap sebagai nenek kandungnya sendiri.


"Wa'alaikumsalam den, aden apa kabar? Duh makin ganteng aja aden."


"Langit emang ganteng kan bi?" Bintang menimpali ucapan bi ijah. "Nggak tau dia makan apa bisa seganteng ini. Lah ayah saya bi udah makan segalanya masih aja mukanya kayak gitu mana buncit perutnya." Bi ijah tergelak dengan ucapan Bintang. Melihat Bintang bi ijah melihat kepolosan dan ketangguhan yang dominan ada rasa sedih dan gelisah uang tersimpan rapat. Bi ijah memandang wajah Bintang dengan serius, Bintang dengan senyuman tulusnya menghipnotis bi ijah.


"Non."


"Panggil bi aja. Nama aku Bintang anaknya ayah sama bunda."


"Non bi jangan terlalu mememdam kesedihan dan gelisah sendirian itu menyakitkan non."


"Maksudnya?" Bintang yang tak paham dengan arah pembicaraan bi ijah hanya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Udah nggak usah dipikirin kasihan otak lo kesleo." Timpal Langit.


"Enak aja otak gue kapasitanya...." Langit membungkam mulut cerewet Bintang dengan tangan besarnya. Bintang mencubit cubit badan Langit agar melepaskan bungkamannya.


"Sakit!" Langit meringis karena cubitan Bintang terasa sangat sakit. Bintang yang merasa senang mengembangkan senyumannya dan tidak sia sia di berlatih percubitan selama 3 tahun.


Bi ijah terkekeh melihat kedua anak dewasa yang sedang berdepat hanya masalah cerewet dan cubitan. Bi ijah lebih memilih pergi meninggalkan anak labil itu berdua.


"Lo kalau nyubit sakit."


"Kalau nggak sakit, dicium dong?"


"Dasar cewek mesum."


"Enak aja gue nggak mesum, jauh jauh sana dari gue lo ngekotorin otak polos gue." Bintang memegang kepalanya erat sembari menunjukkan jari telunjuknya kearah Langit dan menjauh.


"Enak aja lo yang mesum, dasar cewek."


"Kenapa kalau gue cewek, lo mau jadi cewek juga?"


"Enak aja gue masih waras apa enaknya dari cewek?"


"Jadi cewek akan selalu benar."


"Ya nggak lah, yang benar itu yang nggak salah. Dasar tol*l."


"Gue nggak tol*l"


"Iya nggak tol*l tapi beg*."


Bintang menginjak kaki Langit dengan keras dan memghilang adari hadapan Langit. Sebelum sepenuhnya menghilang Bintang sempat sempatnya menjulurkan lidahnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bye Reders and see you next part 23.


__ADS_2