Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Gara gara pedes....


__ADS_3

Hai hai Reders, Author hadir kembali. Siap siap ya Author mau up lagi. Jangan lupa vote, like and coment, yang banyak ya🤗


.


.


.


.


.


Bintang masih canggung dengan kejadian yang menimpanya tadi dengan Langit. Sama dengan Bintang dia sangat canggung sekaligus malu.


Semua orang menyoraki Bintang dan Langit mereka baper dengan adegan dadakan yang tak disengaja. Ahh, rasanya dia ingin menghilang dengan cara teleportasi, malunya sungguh luar biasa tapi dia juga senang di cium oleh pangeran impian SMA STAR. Andai disini tidak terlalu ramai dia berani untuk berteriak kegirangan.


Aduh mulai lagi ini jantung. Dugeman mulu ayo pulang nanti mak lo nyariin. ucap Bintang dalam hati. Sesekali Bintang melirik ke arah Langit yang salah tingkah. Saat menuruni tangga Langit mengandeng tangan Bintang, dia melakukan ini supaya Bintang tak hilang malahan membuat jejeritan kaum ABG.


Pipi Bintang sudah merah seperti kepiting rebus. Langit belum menyadari tingkahnya membuat Bintang tambah suka dengannya, mungkin kalau ada level cinta dari 1-10, kini Bintang berada di tingkat 5.


Bintang merunduk dia takut jika Langit melihat pipinya yang berwarna merah. Langit berhenti sejenak, Bintang juga mengikuti langkah Langit, dia juga berhenti.


"Soal tadi gue minta maaf, gue nggak sengaja." Langit mencoba menjelaskan masalah yang tadi mereka hadapi. Bintang hanya senyum penuh arti.


Langit lo gentelman banget sih meleleh dah gue. Soal kecupan mah gue ikhlas lahir batin. batin Bintang. Langit melihat Bintang bengong sambil tersenyum sendiri ke arahnya hanya mencoba mengibas kibaskan tangannya.


"Bi! Are you okey?"


"Yes, I'm okey. Im very very okey!" Seru Bintang.


"Ya udah lo ambil sepatu yang lo mau."


"Harus dong kan ini diskon 100% jadi gratis. Apapun demi barang gratis." Bintang dengan percaya dirinya berdiri di atas kursi. Langit hanya bisa berdecak kesal dengan tingkah bar bar Bintang.


"Bi! Lo nggak malu?"


"Malu kenapa? Gue pakai baju kok. Apa celana gue robek? atau rambut gue kaya tante kunti?" Bintang meraba bagian celananya dan rambutnya. Menurutnya dia seperti biasanya.


"Lo kaya bocah."

__ADS_1


Bintang yang baru sadar dari tadi banyak yang memperhatikannya. Dia melompat turun dengan sangat mudah. Kemudian diraihlah leher Langit dan Bintang merangkulnya. Langit berjalan dengan merunduk serta kesal dengan tingkah Bintang yang menarik dirinya seperti penjahat.


"Langit gue udah bilang ngelampauin batas itu menyenangkan. Hidup hanya sekali kita harus menikmatinya dengan puas takut kita mati dadakan."


"Lo pasti belum ngerasain apa yang dinamakan ngelmapaui batas. Hidup lo terlalu datar nggak ada rintangan kalau gue jadi lo gue bisa tuh jalani hidup sambil merem." Bintang mengejek Langit. Langit hanya diam memang benar dia tidak pernah melampaui batas. Hidunya terlalu datar dan tak ada rintangan yang menghadangnya.


"Langit ayo makan gue laper banget!"


Langit hanya mengangguk. Bintang melepas rangkulannya di leher Langit. Dia berlari dengan kencang menuju restoran ramen. Langit juga mengikuti Bintang dengan santai sembari membawa sepatu Bintang.


"Hai Langit lo pesen apa?" Bintang membolak balikan buku menu yang tersedia. Sesekali dahi Bintang berkerut ataupun sesekali dia mengerucutkan bibirnya. Siapa yang melihat tingkah Bintang selama ini pasti tidak menyangka bahwa dia telah SMA pasti orang orang akan menyangkan jika Bintang anak SD yang terjebak di tubuh dewasa.


"Mbak!" Bintang memanggil weters. Senyum ramah Bintang terpasang apik membuat weters itu tersenyum gemas. Beda sekali jika melihat Langit, tatapan datar dan dingin menghiasi wajah tampannya.


"Mbak aku pesen ramen super duper pedas, pedasnya yang kaya setan jangan kaya malaikat, malaikat terlalu baik biar setan yang aku makan."


"Langit lo mau makan apa? Mau disamain sama gue? Apa mau yang nggak pedes? Apa lo nggak mau makan peses takut gantengnya luntur?"


Langit hanya berdecak kesal. Mulut Bintang selalu berbicara seenaknya.


"Saya ramen pedesnya satu sama cola." Ucap Langit datar.


"Oke adek manis."


"Mbak jangan panggil aku manis soalnya aku pahit." Weters itu hanya terkekeh melihat Bintang yang sangat lucu menurut pandangannya.


Selang beberapa menit makanan yang dipesan oleh mereka datang. Bau makanan yang sangat pedas membuat air liur mereka menetes. Sangat menggoda dan terasa sangat pedas serta menggugah selera.


Mereka berdua memulai makan dengan khikmat. Baru berapa suap lidah Bintang langsung terasa terbakar. Bintang mencoba mengkibas kibaskan tangannya supaya rasa pedasnya berkurang. Langit hanya terkekeh pelan melihat tingkah Bintang yang kepedasan.


Bintang masih mencoba menelan sesuap demi suap ramen miliknya. Rasanya perutnya seperti ada kebakaran yang melahap semua organnya. Bintang memakan makanannya dengan pelan. Langit yang sudah selesai makan keluar mencari sesuatu yang bisa menetlarisir rasa pedas.


Bintang masih mencoba menghabiskan makanannya. Makin lama gerakan makannya semakin cepat dan akhirnya ramen super duper pedang habis di telannya. Namun bukan menghilang rasa pedasnya makin membakar Bintang. Bintang mengkibas kibaskan tangannya.


Air minum Bintang telah habis. Bintang meraih cola milik Langit dan meneguk habis. Bintang masih merasa panas yang memabakar.


Langit muncul dengan membawa ice cream. Dia memberikannya kepada Bintang yang sudah menagis kepedasan. Lagi lagi dia hanya terkekeh melihat Bintang yang sangat kepedasan.


"Ini makan ice creamnya."

__ADS_1


"Makasih Langit."


Bintang menyuapkan satu per satu ice cream. Tak terasa ice creamnya habis dan rasa pedas Bintang juga cukup mereda.


"Makannya jangan makan terlalu pedas."


"Iiiih Langit gue juga tau. Apa daya gue yang maniak pedas ini."


"Mendingan lo ngaca deh bi."


Bintang yang merasa ada yang tidak beres langsung meraih handphone. Matanya membelakak melihat penampilannya sendiri. Gara gara kepedasan rambutnya sudah tak terbentuk lagi.


"Langit ini gimana gue nggak mau disangkain orang gila. Lo bawa sisir? Ini rambutnya kok bisa ngeberundet gini, sih? Gue apain mahkota cantik gue. Huhuhu." Bintang hanya menangis bawang.


Langit hanya menahan rasa kesalnya. Dia kembali keluar mencari sisir dan apa yang bisa menutupi kepala Bintang.


Setengah jam Langit baru kembali sembari membawa sisir dan topi. Bintang tetsenyum merekah dari tadi dia menutupi mukanya dengan tas kecil yang dia bawa.


"Ini! Nyusahin!" Gerutu Langit.


"Makasih Langit kamu tambah ganteng deh!"


Bintang memulai menyisir rambutnya dengan rapi. Dia memilih memakai topi. Dari kejauhan rambut Bintang namapak di kucir kuda tapi kenyataanya rambutnya hanya diselipkan saja.


"Langit ayo pulang udah sore banget!"


"Gara gara lo sama pedes!" Ketus Langit. Bintang hanya tersenyum cengengesan sebagai tanggapan.


.


.


.


.


.


Oke Reders sampai jumpa lagi....

__ADS_1


__ADS_2