
Hai Reders, Author up lagi...
Jangan lupa vote, like and coment.
Dukungan kalian semangat bagi Author.
.
.
.
.
.
"Asstaghfirullah. Ini dapur apa kapal pecah. Aduh aden non ini kenapa dapur berantakan!" Bi ijah yang baru selesai belanja tercengang melihat dapur yang tadinya kinclong sudah berubah menjadi kapal pecah.
Bintang dan Langit hanya memasang wajah tanpa dosa, mereka menyengir dan sesekali menggaruk rambut mereka.
"Aduh gusti nu agung. Itu tangan aden kenapa?" Bi ijah mengalihkan pandangannya ke tangan Langit yang diplester.
"Ini bi si Langit, masa ngangkat loyang dari oven langsung pake tangan, jadinya melepuh tuh tangan Langit." Bintang mengadu kepada Bi ijah dan Bi ijah hanya menggelengkan kepalanya melihat hasil karya Langit yang ceroboh.
"Nebi nggak usah beresin biar bi aja. Oke nebi kan udah tua jadi harus banyakin istirahat."
Bintang nenarik kursi dan menyruh bi ijah untuk duduk dan beristirahat. Bi ijah menangis haru melihat Bintang yang perhatian pada dirinya.
"Iiih nebi nangis kalau kata Nano nebi cengeng loh....Jangan nangis nanti cantiknya luntur lohh." Bintang meledek Bi ijah dan Bi ijah terkekeh dengan kelakuan Bintang.
Langit menggeleng gelengkan kepala sifat Bintang yang dapat berubah dengan mudah seperti membalikan telapak tangan.
"Udah deh nebi, bi mau motong kue sekalian bersih bersih." Pamit Bintang, Langit juga hendak pergi membantu namun suara Bintang menahan langkahnya.
__ADS_1
"Nggak usah bantu gue, lo lagi sial sana pergi." Usir Bintang, Langit menaikan satu alisnya. "Udah sana pergi!"
Sebelum pergi Langit kembali menoleh kebelakang. "Jangan lupa mandi."
Bintang bingung, dahinya berkerut. Langit menatap Bintang intens. Bintang langsung menyambungkan otaknya.
"Iya iya bang. Lo juga mandi sana...Pasti mandinya tangan yang luka diangkat."
"Kata siapa?" Suara Langit seperti meledek Bintang.
"Kata gue loh. Lo iri nggak bisa ngomong kayak gue?" Bintang menaikan sebelah alisnya, gaya centil Bintang yang transparan terlihat jelas.
"Idih gila?"
"Nggak cuma kebanyakan obat aja kok. Sana mandi lo bau banget, jangan jangan tadi pagi lo nggak mandi ya..?" Bintang menerka nerka, Langit langsung saja menjitak kepala Bintang.
"Udah nggak usah nebak lo salah!"
Langit langsung memasukan tangannya ke dalam saku celana. Berjalan santai tanpa mendengarkan ocehan Bintang.
Setelah mandi dan menyelesaikan bersih bersih. Bintang tengah menonton tv sembari memakan cemilan. Langit yang turun langsung bergabung bersama Bintang.
"Langit nanti temen temen gue mau ke sini." Langit mengangkat bahunya acuh. Bintang mendekus kesal, lebih kesal lagi sedang asik asiknya menonton kartu di ganti dengan sepak bola.
Bintang menjitak kepala Langit. "Enak aja tadi gue lagi nonton kartu masa lo ganti, kan gue duluan."
"Lo tadi kan udah nonton sekarang gantian gue yang nonton!" Balas Langit acuh.
"Tv dirumah kan banyak di kamar lo ada di ruang baca diatas ada, di kamar tante sama om ada, di deket dapur ada. Lo kok suka ngrebut sih, ck yang tua ngalahan dikit." Cerca Bintang.
Langit masih tak bergeming. Bintang yang sangat kesal langsung saja menjambak rambut Langit dan sang empu langsung menjerit kesakitan.
"Lo itu kalau ada orang yang ngomong itu dengerin jangan diem atau hem hem emang gue bisa tau kalau ngomong apa kalau cuma jawab ham hem."
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar jelas. "Wah kalian mesra banget." Puji Putra, mereka berdua mendongak dan Langit langsung mendorong Bintang. "Gue kalah sama lo, ngit."
"Ya iya lo kalah, lo kalau macarin orang cuma buat balas dendam sama mantan lo yang selingkuh itu kan?" Khatulistiwa menimpali ucapan Putra.
Gibran yang tak terima langsung saja membela sang mantan Putra. "Inget dia nggak selingkuh put, dia cuma punya alasan buat ngelakuin itu!"
"Stop!!!! Mantan, mantan gue kenapa lo berdua yang sewot bae."
"Hmmttpp!" Khatulistiwa dan Gibran saling membuang muka satu sama lain.
Bintang memerjapkan matanya, dia bingung harus menanggapi bagaimana.
"Nggak usah dipikirin lo nggak tau masalahnya!" Ucap Langit.
"Iya iya gue tau kok!"
Dubrak dubrak
"Siang Bintang, Mika yang imut sudah datang....Aran juga udah gue paksa buat ikut...Eeeh, bi kok ada predator disini." Mika langsung saja menunjuk Khatukistiwa. "Lo ngundang predator? Lo nggak takut di makan sama predator?"
"Mika lo jangan ngehina khatul, mau gimana dia itu kan saudara gue....jadi lo nggak usah ngehina dia." Aran yang melotot sembari mengancam Mika dengan kepalan tangan.
Bintang yang tengah memikirkan sesuatu dan dia mendapatkan sebuah ide brilian. Idenya adalah...
.
.
.
.
.
__ADS_1
Idenya apa coba? Commend dibawah ya!!!