Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Hari paling sial.


__ADS_3

Hai Reders terimakasih yang sudah berkenan membaca novel typo typo AuthorπŸ˜ŠπŸ€—


.


.


.


.


.


Tanggal 2 September ditetapkan oleh Bintang sebagai hari yang menyebalkan. Hari ini adalah sejarah baru bagi Bintang sebab hari ini Bintang Xhixhilya Qifanyt telat.


Coba saja jika tadi ia memaksa Langit mengantarkannya ke sekolah pasti dia tidak telat seperti ini. Andai bus yang biasa ia naiki tidak menghilang dari muka bumi, dia tidak akan telat. Hanya penyesalan yang tersisa.


"Bapak satpam yang baik yang ganteng tolong anak pait ini. Saya nggak telat suer." Bintang mengangkat kedua jarinya peace ✌


"Maaf neng ini sudah peraturan sekolah."


"Bapak saya ini anak piatu, ayah saya buncit. Jadi tadi saya harus ngurusin ayah saya yang diare pak. please help me! I need help!"


"Maaf neng bapak...."


"Bapak keterlaluan bapak nggak tau apa kalau saya nggak pernah merasakan kasih sayang seorah ibu. Bapak tega menyakiti anak piatu ini." Bintang menangis bombai.


"Baiklah neng. Neng boleh masuk! jaga ayah neng dia satu satunya keluarga neng."


"Makasih pak ini buat bapak."


Bintang memberikan permen bertuliskan terimakasih kepada satpam didepan. Satpam tersebut tersenyum tulus kepada Bintang.


Bintang berjalan santai disepanjang korolidor. Hari ini bener bener sial. Bunda maafin bi ya karena bi manfaatin bunda. Belum juga selesai bersyukur nama Bintang menggema di sepanjang lorong. Aduh pak botak pula....


"B I N T A N G!!!"


"Cobaan apa lagi ini."


Bintang membalikan badanya. Aduh titisan abri datang mampuslah kau Bintang. Bintang hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia bisa memprediksi dengan akurat jika tentang yang satu ini.


"Ikut saya."


"Baiklah pak!!"


Bintang mengikuti pak botak. Dia hanya pasrah menerima hukuman pertama dan ia harap ini yang terakhir. Pasti lapangan. Benar sekarang Bintang sudah berada di lapangan.


"Sekarang lari 10 kali. Itu sebagai hukuman kamu karena TELAT."


Aduh pak saya denger kok jangan teriak. batin Bintang.


"Pak saya membersihkan toilet aja." Tawar Bintang. Lebih baik toilet dari pada lari di lapangan. Kenapa milih toilet? Kalau ditoilet nggak banyak yang liat tapi kalau di lapangan seantero pasti tau mana sendiri lagi.


"Kamu memerintah saya?"

__ADS_1


"Nggak pak saya cuma memberi saran aja."


"Pak please saya sendirian loh saya malu."


"Kalau malu jangan datang telat."


Bintang memutar otaknya cepat. Otak cerdasnya memikirkan alasan yang masuk akal.


"Pak! apa bapak tau saya tadi liat bu Lita telat. Dia lebih telat dari pada saya saya dateng 5 menit lebih cepat tapi bu Lita dikasih masuk. Kata Pancasila kan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tapi apa itu mencerminkan sila tersebut. Ayolah pak apa bedanya guru sama murid dimata Allah salah ya tetap salah harusnya bu Lita juga disuruh lari itu baru adil. Kalau guru aja nggak disiplin apa kabar dengan siswa? Guru itu akar, kalau akar mati apa pohon bisa hudup?" Jelas Bintang panjang kali lebar kali tinggi.


Jelas pak botak langsung diam. Semua yang dikatakan oleh Bintang benar. Harusnya mereka adil. Tapi gengsinya tetap di junjung tinggi.


"Sudah kamu sekarang tetap lari."


"Oke pak saya anggap ucapan saya adalah angin lalu bagi semua guru. Tapi bapak bisa pikirkan kembali, saya memang salah dan saya mengakui itu saya akan lari karena saya sadar disiplin itu bukan hanya kelakuan tapi juga berani mengakui semua kesalahan bukannya hanya ego yang kita junjung tinggi."


Pak botak hanya menghembuskan napas panjang. Semua yang dibicarakan seorang sosok yang terkenal polos benar dan cara berpikirnya umum dan dewasa. Namun apa daya dia hanya seorang guru bukan seorang atasan.


"Iya saya tau kalau kami memang salah dan terkesan tidak adil tapi kami butuh waktu yang banyak dan selalu terbagi antara kehidupan pribadi dan kehidupan kalian tapi saya akui bu Lina salah tapi murid juga membutuhkan ilmu dari beliau."


"Pak kalau disiplin saja tidak bisa apa ilmu juga akan terasa benar? Semua orang juga punya masalah tapi kalian semua sudah dewasa jadi kalian bisa membagi waktu dengan baik bukan hanya bisa menghakimi tapi kalian juga melakukan kesalahan yang sama."


Pak botak sendiri pusing melihat kelakuan Bintang yang menurutnya unik, dia berani berpendapat dengan apa yang dia liat dan dia bisa menganalisis dengan tepat. Akhirnya Bintang memilih mengalah tak ada gunanya berdebat sebab pak botak hanya guru bukan orang yang berkuasa.


Pak botak tersenyum melihat Bintang yang tengah berlari sendirian di lapangan. Dia bangga jika masih ada anak yang berpikir dewasa dan mengalahkan egonya sendiri serta tidak egois dan pengertian.


❄❄❄


"Yaelah bambank lo sih cocoknya berguru sama bu Lina aja!" Sela Putra.


"Nggak ah bu Lina contohin yang nggak baik kata si Bintang."


"Akhirnya kedua teman hamba tobat ya Allah terima kasih banyak. Sesungguhnya mereka adalah orang laknat dari orang ter ter laknat terimakasih Ya Allah." Ucap Gibran lebay sembari mengangkat kedua tangannya. Khatulistiwa dan Putra langsung memukul Gibran dengan setumpuk buku yang mereka bawa.


"Langit liat tu temen lo laknat habis harusnya mereka tuh di pasung aja."


"Enak aja lo bambank asal bicara aja!"


Putra memukul mulut Gibran yang terus mengoceh tak jelas. Plak. Gibran langsung meringis kesakitan.


"Eh kampret nih bocah mau gue aduin sama Hari?"


"Terserah lo juga gue aduin ke Juna!"


"Lo mau ngaduin apa ke bokap gue?Hah?" Gibran menantang Putra dengan gagah berani.


"Gue mau adui lo karena nilai lo anjlok karena lo main FF mulu."


Langit yang merasa jengah langsung merebut tumpukan buku dari kedua manusia berotak kecil. Langit menyeret Khatulistiwa supaya membatu membawa tumpukan buku yang tebal.


"Dasar Hari lo!!"


"Dasar Juna lo!!!"

__ADS_1


"Heh!! Woiiii kalian ninggalin kita?"


Perdebatan unfaedah itu langsung ditutup dengan acara lari lari kecil oleh mereka.


❄❄❄


Bintang masih menyelesaikan acara olahraga paginya. Dia melihat sekelilingnya masih sepi. Aman. Bintang masih melihat pak botak masih menatap dirinya dengan mata elangnya.


Putaran terakhir, stamina Bintang langsung turun sudah lama dia tidak lari berulang ulang. Bintang langsung mengambil tasnya yang masih di pinggir lapangan.


Bintang berlari menuju kelas. Kelasnya nampak ramai tanda mereka sedang jam kosong. Bintang bernapas lega bahwa dia tidak dianggap Alfa.


"Hai bi gue pikir lo nggak berangkat." Sapa Mika.


"Iya bi semenjak lo pindah kita jadi jarang ketemu lo." Sambung Kasta.


"Kalau gue tiap hari ketemu bi. Nah lo siapa? Lo cowok mainnya sama cowok apa mau gue sunat tu anu lo?" Ucap Mika.


"Enak aja ini harta gue satu duanya."


"Haish kalian bisa diem nggak gue lagi pusing."


"Pusing mikirin apa lo markonah?"


"Gue pusing gara gara gue telat dan dihukum sama pak botak."


"Ohhh gitu aja pusing. Liat gue Kasta orang paling..."


"Paling gaje." Sela Mika.


"Sana lo pergi kalau lo nggak pergi gue sunatin beneran tu anu lo."


"Galak banget jadi cewek."


"Bodo amat,gue nggak perduli."


.


.


.


.


.


Segini dulu Reders


Maaf masih banyak typo typo


Jangan lupa Like and coment


Bye and see you next part 13

__ADS_1


__ADS_2