Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Menjaga?


__ADS_3

Hai Reders, Author kembali lagi sekarang Author cuma bisa up sehari satu soalnya Author lagi banyak tugas yang numpuk. Maaf juga Author nggak bisa up cerita yang hot soalnya Author belum dapet ktp jadi nggak berpengalaman 🙂


Jangan lupa vote, like and coment.


.


.


.


.


.


Selang beberapa menit ketika semua teman teman mereka pulang ke rumah masing masing Bintang masih betah diruang santai. Tugas sekolah tidak ada jadilah dia donasikan tenaganya untuk rebahan, rebahan, dan rebahan.


Bintang melirik Langit yang sedang main game online. Syeril harus mengerjakan soal jadilah dirinya sendiri. Bintang ingin mengajak manusia kulkas berbicara tapi dia takut jika dicuekin, malu lah.


"Langit gue mau tanya!" Bintang memulai bertanya. Bintang mengigit bibir bawahnya.


"Hmm!" Jawab Langit singkat.


"Kenapa rumah sebesar ini nggak ada pembantu?"


"Pulang kampung."


"Berapa lama?"


"1 minggu lagi balik."


"Ohhh"


Bintang hanya ber oh ria. Bintang mencoba fokus dengan tv. Lama kelamaan semua film atau sinetron berganti. Tidah ada chenel yang sesuai selera. Bintang memilih berganti ke hp miliknya.


Bintang memencet memvidio call sang ayah si presiden praperbuncitan. Bintang menunggu lama sang ayah yang tak kunjung mengangkat vidio callnya.


"Kemana sih presiden praperbuncitan ini." Gerutu Bintang. Langit mendengar semua ocehan Bintang hanya diam dan tetap fokus dengan game online.


"Akhirnya, ayah dari mana bi nggak kangen." Bintang melihat muka sang ayah yang ceria dan terdapat orang tua langit berada disatu panggilan.


"Hai bi, awas kalau ayah pulang kamu ayah kerjain abis abisan."


"Bodo amat ayah lagian ayah nggak bisa ngibulin bi. Bi udah lebal sama semua trik jadul ayah, wlwee." Bintang menjulurkan lidahnya. Sontak orang tua Langit langsung tergelak, *o*rang tua dan anak sama saja.


"Bintang kenapa muka kamu kok kaya ada masalah?" Tanya Rina. Bagaimana pun dia seorang ibu dia tahu jika Bintang mengalami peristiwa yang mengejutkan hatinya.

__ADS_1


"Bi nggak apa apa yah, tan, om. Bi cuma kurang tidut aja gara gara Nano yang super jail."


"Kamu nggak usah boong bi. Kamu nggak akan bisa bohongin ayah."


Bintang membuang napasnya gusar. Ini yang dia takutkan jika ayahnya melihat mukanya dia bisa melihat semua yang disembunyikan oleh putrinya. Kenapa juga dia malah vidio call.


"Sebenarnya ayah di sekolah ada masalah."


"Masalah apa bi. Om jadi penasaran kamu kenapa?" Alex langsung mendekatkan badannya dengan hp dan dalam layar Bintang penuh dengan muka Alex. Ayah berusaha menyngkirkan tubuh Alex dari layar. Alex mencibir Hans yang merusak kesenangannya.


"Itu ayah tadi ada yang bilang kalau bi itu menang olim karena suap dan kena karma makanya ayah bangkrut." Wajah Bintang berubah murung. Hans tidak tega wajah putri semata wayangnya yang sangat dia cintai murung sebab biasanya Bintang selalu tetsenyum.


"Bener cuma itu aja." Hans mencoba memojokkan putri semata wayangnya. Cuma cara ini yang bisa membuat Bintang mengatakan semua yang dia alami.


"Ayah kok lama lama kayak cenayang aja, sih." Gerutu Bintang kepada sang ayah.


"Serius bi, ayah tau kalau kamu itu ada masalah besar apa perlu ayah tanya sama Kasta dan Mika biar kamu bicara jujur."


"Sebenarnya ayah tadi disekolah ada yang ngatain ayah sama bunda nggak bener. Ayah dibilang hidung belang sama bunda dibilang p******. Dia bilang kalau ibunya mantan ayah dan ibunya pernah mau dilecehin sama ayah. Hiks hiks." Air mata Bintang tumpah. Bintang membutuhkan sandaran. Dia bersandar di bahu Langit yang disampingnya. Langit yang mendengar dari awal percakapan, dia tagu sifat Bintang yang tak mau membebani orang lain. Bintang pasrah bahunya disenderin oleh Bintang.


"Udah nggak usah nangis bi. Ayah nggak suka kalau kamu nangis, kamu tambah pesek."


"Mungkin yang memfitnah kamu itu iri sama kamu bi. Dan ayahmu memang mempunyai mantan pacar tapi bukan mau ngelecehin malahan mamtan ayahmu itu selingkuh dan bermalam sama selingkuhannya itu sih yang om tahu dan memangb itu yang terjadi."


"Tante juga tahu ayah sama bunda kamu orang baik baik bi. Jadi kamu tutup telinga aja anggap mulut mereka itu sampah yang harus dibuang. Kamu jangan sedih tuh kan ingusnya keluar."


"Disitu ada Langit ya sayang?" Tanya tante Rina. Bintang langsung mengarahkan lensa kamera menuju muka Langit yang asik memainkan gamenya.


"Iya nih tan dia main game terus!!!!" Bintang memprofokasi Rina agar memarahi Langit yang bermain game terus.


"Abang apa kabar? jangan main game terus. Jagain adeknya sekalian jagain Bintang jangan sampai dia nangis kalau dia nangis abang mom jewer sampai telinga abang merah!"


Bintang memasukan hpnya ke dalam kantong celananya. Langit memandang wajah orang tuanya yang berseri seri.


"Langit baik baik aja mom, iya adek adek dirumah baik baik aja. Nanti juga Langit jagain bayi besar mom. Langit tau waktu kok main gamenya."


Wajah Bintang merona mendengar bahwa Langit mau menjaganya. Tapi kesal juga karena dia dibilang bayi besar.


"Asik anak ayah wajahnya merah. Blusing dah tuh muka, hahaha"


"Ayah malu maluin aja."


"Itu sih jingels ayah 'tanpa malu hidup kurang manpol' Iya kan bi?" Ayah menedip kedipkan matanya dengan centil, Bintang yang melihat ayahnya langsung menggidik ngeri. Bunda nikah sama siapa sih.....


"Ayah iiihhhh nggak tau malu banget!!"

__ADS_1


"Emang, Langit tolong jaga anak om satu satunya kayaknya om bakalan satu bulan disini. Jadi kalian dirumah sama Syeril dan Nano sama bi ijah."


"Yah ayah kek gitu pasti mau cari mamah muda?"


"Terserah ayah dong, ayahmu ini gini gitu paling ganteng lo."


"Astagfhirulah ayah diminum obatnya. Kan ayah kumat lagi mana ada ganteng, buncit lah iya."


"Bodo amat bi! Gimana Langit?"


"Iya om nanti Langit jagain anak om ini."


Langit meyentil dahi Bintang. Mungkin sudah kebiasaan.


"Kita semua sedah ya nak nanti kuota ayah habis."


"Dasar pelit!"


"Pelit pangkal kaya, say!"


"Dah ayah bye bye."


bip


Bintang memasukan hp ke dalam kantong celana. Bintang melirik Langit.


"Lo ko bisa kaya gitu sama ayah lo?" Langit bingung dengan sikap Bintang yang seperti menganggap ayahnya seperti teman bukan seperti ayah dan anak.


"Bisa kaya gimana? perasaan gue nggak gimana gimana kok?"


"Lo anggep ayah lo teman lo? Lo anak durhaka?"


"Haish gue bukan anak durhaka dianya aja yang minta 'bi jangan anggap ayah kayak ayah anggap aja ayah teman kamu ayah takut kalau hidup ayah tegang bisa bisa ayah ubanan' gitu."


"Ada ada aja." Gerutu Langit.


"Dah lah gue kekamar dulu bye Langit."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bye Reders jangan lupa tinggalkan jejak!


__ADS_2