Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Terpesona


__ADS_3

Bismillah.


Zena tersenyum menyeringai di depan cermin di kamarnya. Matanya menatap setiap inci wajahnya sendiri dari cermin. Berkali-kali senyum menyeramkan itu terbit dikedua sudut bibir Zena.


Sudah 4 hari dia tak sabar menunggu hari ini Hari dimana ceo tempatnya bekerja sebagai artis akan mengadakan jamuan makan malam bersama beberapa orang-orang penting di negara ini. Seluruh artis smart enterthem juga diundang.


"Tunggu kehacuraanmu Zea." Ucapnya tersenyum cerah, secerah matahari yang teriknya membuat orang merasa terbakar berada dibawahnya.


Zena malam ini mengenakan summer dress berwaran hijau, sedikit mencolok tapi pas di tubuh Zena, dia begitu cocok mengenakan summer dress berwaran hijau yang menutupi sedikit lututnya.


"Sempurna." Ucapnya lagi sambil berdiri dari tempat duduknya, Zena berjalan menuju keluar kamar. Mungkin saja Zea dan Vernando sudah menunggu dirinya.


Malam ini ketiga orang itu memang berencana untuk berangkat bersama menuju tempat acara, acaranya diadakan di sebuah gedung Smart Enterthaiment. Perusahan Enterthaiment terbesar yang ada di negeri mereka.


Zea, Zena dan Vernando merupakan artis dari Smart Enterthaiment. Mereka cukup memiliki posisi unggul masing-masing di smart Enterthament. Sayangnya posisi Zea lebih unggul daripada Zena dan Vernando.


3 hari yang lalu, Vernando dan Zena sudah menjebak Zea, agar malam ini mereka bisa mempermalukan Zea di depan banyak orang. Bukan di depan kru saja, tapi di depan Ceo sekaligus beberapa orang penting yang mengidolakan sosok Zea putri Amanda.


Berbeda dengan Zena. Zea tengah duduk santai di atas kasurnya, dia baru saja menyusun rencananya agar bisa menggagalkan rencana Zena dan Vernando.


"Mari kita lihat malam ini siapa yang akan dipermalukan di depan banyak orang." Ucap Zea pelan, tak lupa senyum cerah membuat wajahnya terlihat berseri.


Baru saja Vernando keluar lebih dulu dari kamar mereka, Zea menyuruh suaminya itu menunggu sebentar karena ada hal yang dia lupakan. Sebenarnya itu hanya alasan Zea saja, dia sangat malas keluar kamar bersama suaminya. Yang ada Vernando bakal besar kepala selalu mendapat pujian dari mama dan papanya.


"Vernando menantu baiklah."


"Vernando menantu yang selalu ada untuk istri."


"Vernando begitu menyayangi Zea. Zea sangat beruntung mendapatkan suami seperti Vernando." Begitulah kata-kata yang mungkin akan keluar dari mulut kedua orang tua Zea.


Semua kata-kata, buslit! Bagi Zea.


Nyatanya Vernando hanya seorang laki-laki yang tidak tahu diri, menikahi Zea. Tapi masih mendekati kembaran istrinya sendiri. Dalam hal ini memang Zena dan Vernando yang tidak tahu diri.


Kembali pada Zea yang masih duduk di atas kasur empuk miliknya. Rasanya setiap malam ingin Zea menendang sang suami.


Zea sudah rapi dengan dress panjangnya berwaran biru elegan miliknya. Zea sudah lama memiliki dress tersebut tak pernah dia gunakan selama ini, malam ini dress biru yang begitu indah sangat cocok dikenakan Zea.

__ADS_1


Penampilan Zea semakin terlihat anggun setelah mengenakan dress biru. Wajah cantiknya begitu kontras dengan baju yang Zea kenakan malam ini, ditambah kalung indah yang melingkar sempurna di leharnya, semakin membuat Zea cantik berkali-kali lipat. Zea segera keluar dari kamar setelah merasa cukup menenangkan diri.


Vernando dan Zena sudah menunggu kehadiran Zea. Bersama kedua orang tua Zea dan Zena.


Tak....


Tak...


Tak....


Suara heels yang Zea pakai beradu dengan lantai rumah, semua orang menatap pada sumber suara.


"Sial." Batin Zena saat melihat betapa cantik dan anggungnya Zea. Bahkan Zea terlihat begitu elegan.


Vernando terpaku dengan kecantikan istrinya. Pak Wijaya tersenyum cerah melihat betapa cantiknya Zea.


Melihat Vernando yang terpesona dengan penampilan Zea malam ini. Dengan kuat Zena yang berdiri di sebelah Vernando menyikut kuat siku Vernando. Tak lupa Zena menatap tajam Vernando, karena sudah berani menatap Zea dengan tatapan yang berbeda.


Vernando tersadar segera meminta maaf pada Zena menggunakan bahasa yang hanya dimengerti keduanya. Mama Eli mencebik kesal melihat penampilan Zea, tidak ada yang menyadari ketidak sukaan mama Eli tapi.


"Maaf menunggu lama mas." Sesal Zea setelah berdiri di hadapan semua orang.


"Kamu malam ini begitu cantik Zea."


"Terima kasih atas pujiannya Zen. Kamu jauh lebih cantik." Sahut Zean tersenyum senang, tapi tidak di dalam benaknya.


"Putri bungsu papa memang sangat cantik."


"Zea doang yang cantik pa." Sahut Zena becanda.


"Kamu juga cantik Zena, kalian berduakan kembar." Sahut pak Wijaya yang membuat Zena bermolong dalam hatinya.


"Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin pernah lahir kembar dengan Zea." Kesal Zena tentu saja hanya dalam benaknya.


"Sudah segera berangkat keburu telat." Ucap mama Eli.


Ketiga orang itupun akhirnya berpamitan pada mama Eli dan pak Wijaya. Malam ini memang Zena sengaja menumpang pada mobil suami Zea.

__ADS_1


"Ze kamu tidak marah aku satu mobil dengan kalian?" tanya Zena pura-pura sungkan.


"Siapa yang marah, kamu duduk di depan saja Zen." Suruh Zea yang membuat binar terpancar dikedua bola mata Zena.


"Terima kasih."


Zea hanya mengangguk, dia segera masuk ke dalam mobil. Lagipula Zea malas berdekatan dengan Vernando.


Waktu bergulir 30 menit berlalu Vernando mengendari mobil, kini mereka sudah sampai di tempat acara. Beberapa orang juga masih berdatangan.


"Acara jamuan sederhana tapi begitu megah." Ucap Zea menatap gedung di depannya ini.


"Kamu lupa Ze, namanya juga smart enterthaiment." Sahut Zena.


"Kamu benar Zen."


"Ayo kita masuk." Ajak Vernando pada kedua kembaran itu.


Vernando berjalan menggandeng istrinya. Tentu saja dia harus menggandeng istrinya di tempat formal seperti ini, jika dia menggandeng Zena akan menjadi berita heboh diberbagai satsiun tv. Mereka berjalan di atas karpet merah yang memang sengaja digelar, Zena mengkuti Vernando dan Zea dibelakang keduanya.


Di dalam gedung itu sudah ramai sekali orang. Benar apa yang dikatakan Dito, jika smart enterthaiment akan menggundang beberap orang penting di negeri mereka.


"Wah, ada Delia desainer terkenal di kota ini." Ucap Zena.


"Ada pak Radit juga. Pengusaha sukses dibidang pertambangan." Lanjut Zena lagi.


"Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan untukmu Zea. Semua orang akan menilai kamu buruk setelah melihat kejutan tak terduga, sebentar lagi." Batin Zena, kedua netrnya tak henti-henti menatap sekitar.


"Baiklah malam ini mari kita sambut produser termuda di negeri ini, sekaligus pemilik smart enterthaiment." Ucap Dito menggunakan mic.


Semua orang yang diundang sudah berdatangan, mereka semua duduk di kursi masing-masing.


Rungan itu begitu terang dan didekorasi sedemikian rupa agar telihat indah dan memukau.


"Mari kita persihlakan pak Rayan Baskara untuk memberikan sedikit sambutan pada semua orang yang sudah hadir." Ucap Dito lagi.


"Untuk pak Rayan tolong sambutanya."

__ADS_1


Dengan langkah gagah dan berwibawahnya Rayan menaiki panggung yang sudah disedikan oleh pihak dekorasi. Tatapan dingin tetap terpancar dari wajah Rayan.


__ADS_2