
Bismillah.
Beberapa bulan berlalu belum ada tanda-tanda dari pak Wijaya, jika beliau akan segera bangun dari komanya. Tampaknya bapak satu anak itu masih betah berlama-lama memejamkan kedua bola matanya.
Zea selalu menjaga papanya dengan sangat telaten. Seperti janji Rayan pada Zea sebelumnya, jika dia akan selalu menemani Zea selama pak Wijaya belum juga sadar dari komanya. Hari demi hari kedua anak manusia itu semakin dekat, tapi sayangnya mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Zea dan Rayan sekarang seperti menjadi dua anak manusia yang tidak terpisahkan. Dimana ada Rayan disitu pasti ada Zea. Begitupun sebaliknya.
"Aku dengar dari dokter hari ini kondisi pak Wijaya semakin membaik." Ucap Rayan pada Zea.
Kini keduanya tengah mengisi perut mereka di restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.
"Ayo cepat habiskan makannya mas, aku ingin segera melihat papa." Ujar Zea begitu antusias.
Dia berharap hari ini papanya akan siuman, entah sudah berapa bulan Zea mengharapkan papanya segera sadar.
"Baiklah, aku akan segera menghabiskan makananku. Tapi kamu juga harus segera menghabiskan makananmu."
"Oke." Jawab Zea.
Mereka segera menghabiskan makanan mereka masing-masing. Setelah 10 menit berlalu keduanya sudah selesai. Sekarang bahkan mereka sedang berjalan menuju ruang rawat pak Wijaya.
Rayan benar-beran menjaga Zea, seperti orang yang paling dia lindung saat ini. Tapi kadang tak jarang Tika bersama Dito menemani pak Wijaya saat Zea dan Rayan memilik pekerjaan yang tidak dapat di tinggal.
Semua orang yang bekerja di smart enterthaiment sudah tahu seberapa dekat bos mereka dengan artis terbaik perusahaan enterthaiment tersebut.
"Mas aku ada jadwal tidak hari ini?" tanya Zea saat mereka bergegas menuju rungan pak Wijaya.
"Tidak ada, khusus satu minggu ini kita berdua libur."
"Wah, kenapa aku juga bisa libur?" tanya Zea heran.
"Ya, karena aku yang menyuruhmu libur, sudah ayo masuk." Ajak Rayan saat keduanya sudah berada di depan pintu kamar rawat pak Wijaya.
Sampai di dalam ternyata ada dokter yang sedang memeriksa keadaan pak Wijaya.
"Papa!" Panggil Zea tak percaya.
Dia sampai menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, tak percaya kalau sang papa sudah siuman. Zea dapat melihat jelas pak Wijaya kini tengah tersenyum tulus kearahnya.
Dokter dan suster yang sudah selesai memeriksa keadaan pak Wijaya memberikan ruang untuk Zea mendekati sang papa. Rayan menghela nafas lega setelah melihat pak Wijaya siuman. Penantian Zea selama berbulan-bulan ini tidak sia-sia, karena akhirnya sang papa kembali membuka mata setelah tidur panjang yang sangat lama bagi Zea.
"Syukulah papa sudah siuman." Ucap Zea.
__ADS_1
Tak terasa air mata bahagia Zea jatuh membasahi pipinya. Dia benar-benar sangat bersyukur papanya kembali pada dirinya lagi.
"Kemungkinan pasien sudah diperbolehkan pulang 3 sampai 4 hari lagi. Keadaan pak Wijaya sudah sangat membaik." Ucap dokter pada Rayan.
Selama ini kalau ada apa-apa dengan pak Wijaya. Dokter selalu memberitahu Rayan lebih dulu, karena setahu pihak rumah sakit Rayan lah yang bertanggung jawab atas pak Wijaya.
"Baik dok terima kasih banyak." Sahut Rayan.
Zea yang masih dapat mendengar perkataan dokter tadi bernafas lega. "Syukurlah papa akan segera pulang. Zea sangat merindukan papa."
"Sudah jangan sedih lagi papa sudah membuka mata kembali."
Lalu pak Wijaya beralih menatap Rayan. "Nak Rayan terima kasih sudah membantu saya. Hari itu jika nak Rayan tidak membantu saya, mungkin hari ini saya tidak akan bisa melihat putri saya lagi." Ucap pak Wijaya.
"Saya hanya melakukan apa yang saya bisa pak."
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih."
"Sama-sama pak." Jawab Rayan seadanya.
Pak Wijaya kembali menatap putrinya.
"Apakah selama ini kamu yang menjaga papa sayang?"
"Mas?" ulang pak Wijaya, ada sebuah senyum yang terukir disana.
"Eh, soalnya Mas Rayan sendiri yang nggak mau dipanggil bapak sama Zea, katanya kayak udah tua. Dia maunya dipanggil Rayan aja, tapi Zea bilang tidak sopan. Ya, sudah akhirnya Zea panggil mas saja." Jelas Zea takut papanya salah paham.
"Kenapa dijelaskan? Papa kan tidak meminta penjelasan."
"Ihss papa!" rengek Zea, dia tahu sang papa sedang menggoda dirinya. Zea jujur malu pada pak Rayan.
Zea tidak tahu apakah pak Rayan menyukainya atau tidak. Tapi jika Zea boleh jujur selama berbulan-bulan ini terus bersama Rayan membuatnya memiliki rasa dengan bosnya itu. Zea harus memendam semuanya, karena setiap dia menunggu pak Rayan untuk mengungkap perasaannya, Zea merasa pak Rayan baik pada dirinya hanya sekadar simpati saja.
"Papa ingin istrihat, tapi bolehkah papa minta tolong belikan papa buah di tempat langgan papa biasanya."
"Papa masih ingat?" heran Zea.
"Tentu saja, nak Rayan saya minta tolong temani Zea."
"Baik pak."
"Tapi kalau aku dan mas Rayan pergi semua siapa yang jaga papa. Zea bisa sendiri kok." Tolaknya.
__ADS_1
"Ini rumah sakit Ze, banyak suster yang akan menjaga papa. Sudah sana pergi papa tunggu buahnya."
"Ayo." Ajak Rayan.
Akhirnya Zea hanya bisa pasrah. Rayan menggandeng lembut tangan Zea. Apa yang Rayan lakukan selalu membuat jantung Zea berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Mas Rayan bisa nggak sih, nggak usah bikin aku baper." Kesel Zea dalam benaknya.
Disaat kedua orang itu baru saja keluar dari ruang rawat pak Wijaya. Netra Zea tak sengaja menangkap Zena dan Vernando. Zena berada di atas brankar rumah sakit ada beberapa suster yang membantu Zena.
"Astaga Zena mau melahirkan." Ucap Zena tanpa sadar.
Rayan yang masih dapat mendengar ucapan Zea langsung mengikuti arah pandang Zea.
"Kamu mau melihat dia lahiran?" tanya Rayan sambil menatap Zea.
"Tentu saja tidak mas! Hanya saja aku tidak bisa membayangkan, bagimana jika Vernando tahu kalau anak yang ada di dalam kandungan Zena bukan anaknya."
"Maksudnya?" tanya Rayan bingung.
"Ups aku keceplosan." Ucap Zea sambil menutup mulutnya.
Dia menuruti dirinya sendiri, bisa-bisanya dia keceplosan di hadapan Rayan. Padahal sudah lama Zea menyimpan fakta ini, tidak ada yang tahu kecuali dirinya.
"Kamu masih ingin kembali dengan Vernando?" tanya Rayan penuh selidik, bahkan matannya menatap tajam Zea. Padahal selama ini Rayan selalu menatap lembut Zea.
"Iya! Tidak! Maksud aku bukan begitu." Ucap Zea.
"Baiklah kamu boleh kembali pada Vernando."
"Oke." Tantang Zea.
"Yak! Kenapa kamu mau kembali dengan bajingan itu." Marah Rayan.
"Kok marah, kan mas Rayan sendiri yang nyuruh. Lagipula kita tidak punya hubungan apa-apa." Sahut Zea enteng.
"Oke fine, sekarang kamu harus ikut aku." Tanpa aba-aba Rayan langsung menggendong tubuh mungil Zea.
"Yak! Mas Rayan turuni nggak, malu di rumah sakit." Kesel Zea tapi Rayan tidak peduli, mereka kini jadi pusat perhatian sepanjang koridor rumah sakit.
Gusy mampir juga kecerita di atas ya. Cari aja judulnya : Ku Ikhlas Madu!
__ADS_1
Author :Mentarikelabu