Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Pantai Bidadari


__ADS_3

Bismillah.


Mobil yang dikendarai Zea sudah melaju menyusuri jalan raya, bergabung bersama kendaran lainnya yang berlalu lalang di jalan kota. Hari ini Zea ingin bersenang-senang menyegarkan otaknya terlebih dahulu sebelum bersiap menyusur rencana untuk membalas orang-orang yang sudah mengkhianati dirinya dan sang papa. Walaupun begitu Zea harus tetap waspada karena tidak ingin kehilangan papa untuk yang kedua kalinnya.


Bagi Zea cukup sekali saja dia menjadi orang bodoh yang begitu mudah dipermainkan oleh orang terdekatnya sekarang tidak lagi! Zea tidak akan kembali menjadi orang bodoh, apalagi begitu mencintai suami yang ternyata selingkuh dengan saudara kembar sendiri. Jika mengingat hal itu sungguh Zea merasa begitu jijik pada suaminya sendiri.


Zea sibuk dengan pikirannya tapi dia tetap fokus mengemudi sampai suara sang mama membuat Zea sadar dan kembali kealam nyata.


"Zea berhenti sebentar sayang, mama ingin jajan di seberang jalan itu." Ucap mama Eli.


Zea mendadak menghentikan mobilnya. "Astaga, maaf Ma, Pa." Sesal Zea karena dia ngerem mendadak.


"Hati-hati Zea mengendarai mobilnya." Tegur pak Wijaya.


"Hehe iya pa maaf, tadi reflek aja kok sesalnya." Pak Wijaya dan mama Eli sama-sama mengangguk tanda mengerti, tapi mama Eli tidak sepenuhnya memaafkan Zea, beliau malah memaki putrinya sendiri di dalam benak.


"Dasar anak tidak bisa diandalkan, kalau menabrak pembatas tadi bagimana, bisa-bisa kita semua mati! Kalau kamu dan papamu yang mati bagus juga." Ucap Eli dalam hatinya sambil pura-pura tersenyum pada Zea.


Mata Zea terus menyusuri tempat sekitar, dia masih ingat tepat itu. Bagi Zea mamanya begitu pintar, ingin membeli makanan diseberang sana agar mobil tidak dapat memutar harus jalan kaki agar bisa membeli apa yang mamanya ingikan.


"Kita ikut pemainan mama, Zea." Batin Zea, dia harus mencari cara agar tidak terjadi kecelakan itu.


Zea tahu mamanya pasti sudah menyuruh orang untuk mencelakai dirinya. 7 bulan lalu sejujurnya Zea lah yang menjadi target sang mama, tapi papanya yang menolong Zea. Membuat pak Wijaya akhirnya meninggal dunia, sejak saat itu mama Eli semakin membenci Zea. Padahal beliau juga merasa sedikit senang kalau suaminya mati, karena mama Eli selingkuh dengan seorang..


Dan Zea belum tahu tentang perselingkuhan mamanya. Karena bagi Zea 7 bulan lalu mamanya begitu terpukul saat ditinggal pergi sang papa sampai-sampai sangat membeci dia. Untung ada Zena yang selalu membela dirinya di depan sang mama. Sayangnya semua yang Zena lakukan untuk dirinya hanya sebuah topeng agar Zea tidak tahu bahwa Zena adalah orang yang ingin selalu mencelakai dirinya.


Masih di dalam mobil.

__ADS_1


"Mama mau beli petis?" tanya Zea memastikan, pertanyaan Zea sukses membuat mama Eli menjawab dengan mantap pertanyaan Zea.


"Iya Ze, boleh mama minta tolong belikan."


"Tentu saja ma, mama dan papa tetap di dalam mobil jangan kemana-mana." Ujar Zea segera keluar dari dalam mobil.


Langkah Zea berheti tepat di pinggir jalan, tapi tidak terlalu dekat dengan jalan raya. Khawatir orang suruhan mamanya masih bisa mencelakai dirinya. Zea tak langsung menyeberang dia memperhatikan beberapa orang didekat grobak penjual lutis itu.


"Wah, kebetulan sekali ada Tika disana, aku tak perlu susah papah menyeberang. Kenapa waktu itu aku tidak menyadari keberadaan Tika."


Zea segara menghubungi nomor Tika, tak butuh waktu lama Tika diseberang sana langsung menjawab panggilan teleponnya.


"Ada apa, Ze?"


"Aku ingin beli petis tempat kamu sekarang sedang membeli juga, aku ada di belakangmu, tapi jangan menoleh." Ucap Zea cepat sebelum tidak berbalik badan.


Dari dalam mobil Eli memperhatikan putrinya yang tidak kunjung menyeberang jalan, membuat Eli merasa heran apa yang dilakukan oleh Zea.


"Kok Zea nggak nyeberang-nyebrang sih pa." Kesal Eli, pak Wijaya sungguh tidak menyadari kekesalan istrinya.


"Papa juga tidak tahu ma." Jawab pak Wijaya tatap fokus pada hpnya ada beberapa hal penting yang harus beliau kerjakan.


5 menit berlalu Zea tak kunjung menyeberang juga, mama Eli yang melihat hal itu semakin kesal, sampai membuat pak Wijaya menoleh pada tempat putrinya berada. Bersamaan dengan itu Tika dan beberap orang yang membeli petis tersebut menyeberang jalan.


"Makasih ya Tik, maaf libur juga nyusahin kamu." Sesal Zea merasa tidak enak.


"Santai Zea." Jawabnya.

__ADS_1


Setelah keduanya mengobrol sejenak Zea dan Tika sama-sama menuju kendaraan mereka masing-masing.


"Sial!" umpat Eli merasa kesal karena rencananya gagal untuk mencelakai Zea.


Entah apa yang ada di dalam otak mama kandung Zea itu sampai-sampai beliau begitu tega ingin membunuh putrinya sendiri.


"Ze kok kamu nggak beli sendiri petisnya malah nyuruh orang." Ucap Eli saat Zea sudah masuk ke dalam mobil.


Zea tersenyum kecut mendengar penuturan mamanya. "Tika sendiri yang nawarin ma, makanya aku tunggu diseberang."


Mobil kembali melaju menuju tempat yang sudah dipilih oleh mama Eli, pantai. Ya benar sekali, perempuan dua anak itu ingin menikmati pantai di hari libur ini. Tidak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai juga di pantai.


Mereka semua langsung turun dan menikmati pantai yang memanjakan mata siapa saja. Zea menghirup dalam-dalam udara pantai.


"Kira-kira sedang apa Nando dan Zena di luar kota." Batin Zea. Jujur saja saat ini Zea sudah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kedua orang itu.


Huft! Zea menghembuskan nafas kasar, "oke Zea jangan pikirkan lagi." Ujarnya pada diri sendiri.


Hari ini suami dan kembarannya itu pulang, tidak tahu apa yang akan mereka lakukan saat melihat tidak ada siapa-siapa di rumah. Sepanjang berada di pantai Zea terus mengawasi papanya, dia tidak ingin mamanya itu membuat papa dalam bahaya.


"Aku merasa berdoa sudah mencurigai mama sendiri, tapi mau bagimana lagi." Keluh Zea.


Zea menatap kesegala arah di pantai Bogor pual bidadari, dia begitu menikamti suasana pantai bidadari Bogor. Sampai matanya menangkap sosok dua orang yang begitu dia kenali berada di pantai keduanya begitu terlihat mesra, bahkan tak jarang kedua orang itu berbuat mesum satu sama lain.


"Mereka, astaga sangat memalukan sekali." Ucap Zea tak habis pikir.


Bisa-bisanya dia benar-benar percaya jika suami dan kembarannya berada di luar kota, ternyata mereka berada di pantai yang sama saat ini. Zea menatap jijik kedua orang yang tidak tahu malu itu, bahkan di tempat umum pun mereka berani sekali melakukan hal yang tidak senonoh. Tiba-tiba otak Zea muncul sebuah di berlian.

__ADS_1


"Papa!" pekik Zea.


__ADS_2