
Bismillah.
"Zea Amanda Putri, untuk masalah kerja bicarkan besok temui saya di kantor." Ucap Rayan datar.
"Baik pak." Jawab Zea.
"Bukan hanya Zea, kalian berdua juga besok temui saya di kantor. Vernando, Zena bukankah kalian masih dalam masa uji coba? Kesalahan kembali kalian buat. Bagus sekali, kalia ini artis terbaik smart enterthaiment tapi tidak bisa menjaga nama baik sendiri." Ujar Rayan.
Tatapan tajam Rayan tujukan pada ketiga artis yang baru saja mengacaukan semua acara malam ini. "Saya akan mengklarifikasi tuduhan Vernando pada Zea. Tadi itu Zea memang tidak sengaja menabrak saya. Bukan memeluk saya, paham!"
Zea bernafas lega mendengar perkatan pak Rayan, dia kira produser mereka itu akan diam saja tanpa membicarakan kebenaran yang ada.
Hening.....
Setelah Rayan selesai bicara ruangan itu terasa begitu hening, tidak ada satu pun orang yang berani angkat bicara. Sampai perkataan pak Wijaya membuat Zena dan mama Eli palsu bak disambar pertir.
"Mulai hari ini saya tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Zena yang bernama asli Fia. Begitu juga dengan istri saya yang ternyata kakak dari mendiang istri saya sendiri. Mbak Putri saya mengucapkan terima kasih pada anda. Dan saya juga kecewa."
Durr!
Rasanya Zena bak disambar pertir berkali-kali lipat, sudah karirnya terancam, papa kandungnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kehamilannya diluar nikah sudah diketahui publik. Fakta bukan kembaran dari Zea juga membuat dirinya jadi tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan keluarga Wijaya. Pak Wijaya juga memutuskan hubungan keluarga dengan dirinya.
"Tapi pa." Ucap Zena keluh, dia tak tahu harus berkata apa lagi saat ini. Malu? Tentu saja, tapi dia tidak ingin semua kebahagian yang sudah dia miliki hilang begitu saja hanya dalam satu malam.
"Apa yang dikatakan Zea benar Zena. Papa menyayangi kedua putri papa. Tapi maaf, malam ini setelah papa mengetahui semuanya. Papa sangat kecewa padamu. Kamu bukan putri papa melainkan anak dari mas Burhan." Lalu pak Wijaya beralih menatap kakak iparnya.
"Aku terpasa menyeret kalian semua kerana hukum."
Keputusan pak Wijaya membuat Zena, tante Putri dan Burhan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Aku juga akan membawamu kerana hukum. Sebelum itu kamu dan Zena harus menikah terlebih dahulu, sampai bayi kalian lahir setelah itu baru kamu dan Zena akan menerima hukuma atas perbuatan kalian selama ini." Ujar pak Wijaya tegas tak ada yang bisa membantah.
Pak Nurman sebagai orang tua Vernando tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau sama sekali tidak ingin membela Vernando yang sudah membuat malu dirinya di hadapa keluarga Wijaya dan banyak orang.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai acara kembali berjalan dengan normal, para petugas yang bertanggung jawab untuk membereska kekacauan terjadi malam ini begitu cepat membalikan keadaah hingga kembali stabil.
Sekarang selama acara berlangsung Zea tak pernah lepas dari sang papa. Dia selalu berada didekat papanya seakan tak rela untuk berpisah.
Sementara tante Putri dan om Burhan sudah dibawa oleh pihak berwajib. Untuk Vernando dan Zena ada dalam gengaman pak Wijaya besok mereka akan dinikahkan secara agama terlebih dahulu. Agar bayi dalam kandungan Zena memiliki ayah.
"Kamu ini kenapa sayang?" tanya pak Wijaya pada putrinya, Zea.
Pak Wijaya merasa aneh pada Zea, sedari tadi dia tak ingin melepaskan tangan papanya membuat pak Wijaya bingung sendiri. Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari papanya, Zea tersenyum begitu manis.
"Zea ingin kita memulai semuanya dari awal pa. Besok kita pergi kemakam mama ya." Pintanya.
"Iya Nak, papa sudah jahat dengan mamamu, tidak tahu sebenarnya apa yang dialami. Mungkin di alam sana mama merasa kecewa dengan papa." Tatapan penyesalan dan kesedihan terpancar jelas dari kedua bola mata pak Wijaya, Zea bisa melihat itu.
Tangan Zea terangkat untuk mengelus lembut punggung tangan papanya untuk memberikan ketenangan. "Zea yakin, mama tidak akan kecewa dengan papa. Mama pasti bahagia, karena papa merawat putrinya dengan sangat baik."
"Terima kasih sudah selalu berada disisi papa Zea." Zea tersenyum menimpali ucapan papanya.
Sedangkan di dalam benaknya Zea bermolong sendiri. "Aku tidak tahu pa, apakah aku masih bisa terus bersama papa kehidupan keduaku, aku merasa tidak akan lama kita bersama, apalagi balas dendamku sudah terlaksanakan." Batin Zea merakan perih sendiri di hatinya.
Tidak tahu kenapa setelah semuanya usai. Zea merasa tidak tenang, ketakutan pada dirinya terjadi, dia takut akan kembali tiada dan berpisah dengan papanya. Jika boleh jujur Zea belum siap! Ya Zea belum siap.
Intrakasi Zea dan papanya tak lepas dari tatapan seorang yang sedari tadi memperhatikan ayah dan anak itu tidak jauh dari tempat Zea dan pak Wijaya.
"Apa yang terjadi padaku." Ucap orang yang sedari tadi memperhatikan Zea dan pak Wijaya, dia berkata begitu lirih.
"Bos." Sapa Dito yang membuat Rayan kaget seakan tertangkap basah telah memperhatikan Zea dan pak Wijaya.
"Astaga Dito!" maki Rayan tak lupa tatapan tajamnya terasa seperti menusuk sampai ulu hati Dito.
"Serem banget sumpah." Batin Dito.
"Tidak usah mengumpat." Ucap Rayan dingin masih menatap tajam Dito.
__ADS_1
Gleg!
Dito yang ditatap tajam seperti itu hanya mampu menelan ludahnya kasar. "Serem amat sih." Gerut Dito.
"Sudah aku katakan Dito tidak usah mengumpatku seperti itu." Padahal jelas-jelas Dito hanya diam saja, Rayan seakan bisa membaca isi hati orang.
Pak Wijaya yang mengenal suara Rayan langsung menghampiri pemiliki suara bersama putrinya.
"Pak Rayan." Sapa pak Wijaya raham.
"Eh, pak Wijaya." Sapa Rayan balik. "Panggil saja saya Rayan pak, tidak enak sekali didengarnya jika pak Wijaya harus memanggil saya menggunakan embel-embel pak."
Dito yang masih berdiri didekat Rayan seakan terabaikan setelah kedatangan pak Wijaya dan putrinya.
"Baik Nak Rayan saja bagimana?"
"Boleh juga pak."
"Nak Rayan secara pribadi saya dan putri meminta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan di acara malam ini."
"Tidak apa pak, saya maklum."
"Tapi pasti kerugain yang dialami perusahaan kalian sangat besar, Nak Rayan. Mengingat beberapa perusahan enterthaiment ada yang datang juga malam ini."
"Pak Wijaya tenang saja semua sudah diurus oleh Dito sebagai tangan kanan saya."
Pak Wijaya beralih menatap Dito, yang membuat Dito mengangguk ramah pada pak Wijaya.
"Saya juga sekali lagi minta maaf pak Rayan atas masalah besar yang terjadi."
"Hmmm." Sahut Rayan.
"Kalau begitu papa, pak Rayan saya pamit dulu ingin mengobrol dengan yang lain." Pamit Zea.
__ADS_1
Zea harus berterima kasih pada Tika karena sudah banyak membantunya untuk mencari tahu perselingkuhan Zena dan Vernando.
"Tika." Panggil Zea sambil berjalan menuju sabahatnya itu membuat Rayan dan pak Wijaya memperhatikan Zea. Sedangkan Dito mencari sosok Tika.