
Bismillah.
"Pa, kapan kita akan menghadiri acara pernikahan Zena dan Vernando?" tanya Zea begitu bersemangat.
Pak Wijaya merasa aneh pada Zea, padahal mantan suaminya akan menikah lagi. Zea malah terlihat senang, perasaan dulu Zea sangat mencintai Vernando. Walaupun begitu pak Wijaya berpikir mungkin putrinya sudah terlalu kecewa dengan Vernando.
"Malam nanti sayang, kita akan hadir. Papa sendiri yang akan menjadi perwaikilan untuk Zena, kamu tak apakan?"
Takut-takut Zea tidak setuju dengan keputusan pak Wijaya. Beliau tidak ingin membuat putrinya kecewa.
"Zea ikut saja keputusan papa." Jawabnya enteng.
"Kamu ini ya, mantan suami mau nikah kok senang? Biasanya banyak orang yang nggak suka mantan suami bahagia."
Mendengar perkataan papanya Zea tertawa kecil, bagimana dia tidak senang coba. Kalau rumah tangga Vernando dan Zena pasti tidak akan baik-baik saja. Zea bisa melihat dari tatapan Vernando di malam itu, jika suaminya telah menyesal menyakiti dirinya.
Zea tidak ambil pusing dengan hal itu, bagaimanapun seculipun tidak ada lagi perasaan yang dimiliki Zea untuk Vernando. Mungkin untuk saat ini Zea tidak akan percaya dengan yang namanya laki-laki.
Zea tahu semua laki-laki memamg tidak seperti Vernando. Pada dasarnya beda orang tentu saja beda pemikiran, satu orang dengan satu orang lainnya tidak bisa disamakan. Tapi Zea masih ingin sendiri dan menikmati kebersamaanya dengan sang papa.
Kembali pada Zea dan papanya. Zea segera menjawab perkataan pak Wijaya setelah tawanya reda.
"Seneng dong pa, kan yang mau nikah kakak Zea." Sahutnya dengan begitu santai.
"Bagimana tidak senang, aku yakin mereka tidak akan seromantis saat selingkuh di belakangku. Tapi aku berharap mereka tetap hidup bahagia. Lagipula bayi yang ada di dalam kandungan Zena tidak bersalah apapun, dia harus hidup bahagia." Ucap Zea dalam benaknya.
"Kamu benar juga Ze. Tapi dia bukan lagi kakak kamu. Kamu sudah tidak memiliki kakak sejak malam itu."
"Kalau ini Zea setuju pa, jadi mantan kakak ceritanya." Zea dan papanya kemudian tertawa bersama.
Kruk....
Pak Wijaya tertawa kecil mendengar perut putri berbunyi. "Kita mampir makan dulu." Putus pak Wijaya memberhetikan mobil tepat di restoran yang tak sengaja mereka lewati.
Zea dan papanya baru saja memang pulang dari makam mama Eli. Perasaan lega menghampiri Zea dan pak Wijaya setelah mengunjungi makam wanita yang akan selalu mereka cintai.
Zea dan papanya yang sudah turu dari mobil, mereka kini tengah mencari tempat duduk di restoran tersebut. Siapa sangka restoran tersebut begitu ramai. Tempatnya memang sangat strategis, bukan itu saja mungkin yang membuat restoran Bunga itu ramai. Makananya juga terlihat menggoda di mata Zea.
"Kita duduk dimana pa?" tanya Zea yang sudah semakin lapar.
__ADS_1
Pak Wijaya tak menjawab pertanyaan putrinya, beliau malah menarik pelan tangan Zea agar ikut dengannya.
"Permisi apa kami boleh bergabung." Ucap pak Wijaya pada seorang laki-laki yang memungguni mereka.
Hanya meja laki-laki di depan pak Wijaya ini saja yang kosong lainnya sudah penuh. Lelaki yang diajak pak Wijaya itu memutar kepalanya menghadap pak Wijaya dan Zea.
"Pak Wijaya." Kaget Rayan.
"Silakan duduk pak, kebetulan sekali bertemu disini." Ucapnya sopan.
"Nak Rayan, apa kambar." Sapa pak Wijaya.
"Kabar baik pak. Mari duduk." Rayan mempersilakan Zea dan pak Wijaya duduk.
Zea membiarkan Rayan dan papanya mengobrol sementara dirinya segera memesan makanan. Zea benar-benar sudah lapar.
Setelah selesai memesan makanan Zea hanya mendengarkan obrolan Rayan dan papanya. Tapi sesekali juga dia ikut dalam obrolan jika pak Wijaya dan Rayan bertanya pada dirinya.
8 menit berlalu tapi makanan yang Zea pesan tak kunjug datang.
"Astaga lama sekali, apakah masih lama." Ujar Zea yang sudah tidak bisa menahan lapar lagi.
"Zea sudah tidak kuat pa, laper." Rengeknya.
"Makanlah ini, aku tadi belum sempat memakannya." Ucap Rayan menyodorkan sepiring pizza.
"Terima kasih pak Rayan saya tidak akan sungkan."
Melihat tingkah putrinya pak Wijaya menggeleng pelan. Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja terbesit dalam hati beliau untuk memiliki menantu seperti Rayan. Merasa pikirannya salah pak Wijaya cepat-cepat menepis semua itu.
"Tidak boleh Wijaya, biarkan putrimu menemukan kebahagiaannya sendiri! Kamu tidak mau bukan kesalahan dua kami kamu lakukan pada putrimu." Batin pak Wijaya pada dirinya sendiri.
"Pelan-pelan, Zea."
"Pelan-pelan, sayang." Ucap Rayan dan pak Wijaya bersama.
"Heheh, laper soalnya." Sahut Zea lalu kembali melanjutkan acara makannya.
Sontak hal tersebut membuat Rayan takjub sendiri, bagimana bisa ada perempuan seperti Zea yang tidak peduli sekitar saat sedang makan.
__ADS_1
"Perempuan yang unik." Batin Rayan tersenyum kecil, tanpa ada yang melihat senyumannya.
Lalu Rayan dan pak Wijaya kembali melanjutkan obrolan mereka. Sampai tak lama kemudian pesanan Zea sudah datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Zea sudah siap dengan pakaian paling bagus menurut dirinya. Malam ini Zea memang sengaja memoleskan sedikit make up di wajahnya. Dia memang jarang sekali memaki make up, kecuali sedang syuting maka Zea akan selalu memaki make up.
Tapi malam ini untuk menghadiri acara pernikahan Zena dan Vernando, dia memoleskan sedikit make up di wajahnya. Bukan untuk memikat sang mantan suami, sungguh Zea sudah tak sudah kembali menjalani hari-hari bersama Vernando.
Malam ini tidak tahu kenapa Zea hanya ingin memakai make up. "Ayo pak otw. Jemput Tika dulu tapi ya pa, Zea sudah janji."
"Siap tuan putri. Putri papa malam ini cantik sekali."
"Jadi maksdunya sebelum-sebelumnya tidak cantik begitu." Zea pura-pura merajuk.
"Sudah jangan cemberut begitu, kamu selalu cantik Zea sayangnya papa."
Zea dan pak Wijaya segera berangkat ke tempat acara. Sesuai perkataan Zea tadi, jika dia akan menjemput Tika lebih dulu. Dan disinilah sekarang mereka sudah satu mobil dengan pak Wijaya yang duduk di sebelah supir.
40 menit berlalu barulah mobil yang membawa Zea, pak Wijaya dan Tika sampai di tempat tujuan mereka.
"Rame juga orang yang datang." Komentar Tika saat pertama kali turun dari mobil.
"Om juga tidak tahu jika akan seramai ini, tidak tahu siapa yang menggundang banyak orang."
"Lebih baik kita masuk saja dulu pa." Ajak Zea.
Saat mereka akan masuk ke dalam seorang memanggil nama pak Wijaya. "Pak Wijaya," sapa Rayan sopan yang datang bersama Dito.
"Nak Rayan, saya kira kamu tidak akan datang."
"Bagimanapun juga mereka mantan artis di perusahaan saya om untuk menghargai saja."
"Dasar pak Rayan sialan! Ditemui saja di kantor susahnya seperti mau ketemu presiden saja. Giliran nggak di kantor aja ketemu terus, lah sekarang malah datang keajara pernikahan Zena sama Vernando." Kesal Zea.
Bagimana tidak kesal karena posisinya masih digantung di smart enterthaiment. Tidak tahu dia sudah bukan bagian dari smart enterthaiment lagi atau bukan.
"Ayo kita masuk bersama." Ajak pak Wijaya pada semuanya.
__ADS_1