Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Kedatangan Rayan


__ADS_3

Bismillah.


Rayan baru saja pulang dari kerja. Hari ini dia memutuskan pulang cepat setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di smtar enterthaiment, karena dia akan ke rumah Zea untuk bertemu pak Wijaya, dia juga sudah berjanji pada Zea akan ke rumah perempuan itu setelah pulang kerja.


Tapi siapa sangka sampai di rumah yang tadinya mood Rayan sangat bagus. Menjadi hancur kala melihat wajah sepupunya yang tidak tahu sopan satun. Sudah tahu numpang tapi tidak tahu diri.


Ingin rasanya Rayan memakin Delon sepupunya saat ini juga. Melihat bagimana Delon membuat rumahnya berantakan, sampah bekas cemilan ada dimana-mana. Rayan tahu nanti akan ada para pekerja yang membereskan, tapi Rayan yang orangnya selalu bersih dan rapi begitu risih melihat sampah-sampah ini.


"Astaga Delon! Lo udah tau numpang tapi nggak tahu diri banget jadi orang ya." Maki Rayan sudah tak bisa menahan mulutnya untuk tidak memaki sang sepupu.


"Santai mas bro, lagipula ada para pekerja kok yang bakal beresin semua ini." Sahutnya enteng.


Duk!


Saking kesalnya Rayan sampai memukul kepala sepupunya itu sedikit kuat. Delon bahkan sampai mengelus kepalanya karena pukulan Rayan tidak main-main.


"Astaga sakit kali lah mas bro." Proetnya tidak terima.


"Bereskan!" titah Rayan menatap tajam Delon.


Jika sudah seperti ini Delon tidak berani lagi untuk berdebat pada Rayan, dia tahu dirinya tidak mungkin akan menang melawan sang sepupu yang sedikit kejam itu.


"Iya, iya gue beresin nih lihat ya." Dengan segera Delon memunguti sampah-sampah besak cemilannya yang berserakan. Tapi jangan lupakan mulutnya yang terus mengeluh dan mengumpat Rayan.


"Dasar sepupu tidak berperasaan." Kesel Delon.


"Gue masih disini ya Del."

__ADS_1


"Del-Del, lo kiar gue ondel-ondel apa. Nama gue itu Delon." Protesnya tak terima


"Masa bodo!"


Lalu Rayan terus fokus pada hpnya tidak peduli pada Delon yang terus saja mengoceh tak jelas. Sampai 10 menit berlalu Rayan segera beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" tanya Delon saat melihat Rayan hendak pergi.


Hmmm.


Sama sekali tidak menjawab pertanyaan Delon, Rayan pergi begitu saja tanpa ada niatan mengajak Rayan atau sekedar menjawab pertanyaan tadi.


"Astaga sabar Delon, kalau bukan sepupu udah gue buang ke lubang ular piton lo Rayan." Makinya.


Rayan sendiri sudah melajukan mobilnya menuju kediaman Wijaya. Selain ingin melihat keadaan pak Wijaya, dia juga merindukan kekasihnya padahal mereka kemarin baru saja bertemu.


Tanpa menunggu lama Rayan segera mengucapkan permisi pada pemilik rumah, setelah mendapat izin masuk Rayan segera masuk lebih dalam lagi, di ruang tamu Rayan dapat melihat pak Wijaya sedang berkumpul bersama Zea dan Tika.


"Siang menjelang sore pa." Sapa Rayan pada pak Wijaya.


Tak lupa tadi dia membelikan buah tangan untuk calon mertuanya.


"Siang menjelang sore juga, Nak Rayan. Tidak perlu repot-repot sekali."


"Tidak repot kok pa." Jawabnya lalu mengambil tempat duduk di sebelah Zea.


"Kamu cari siapa sih Tik?" tanya Zea saat melihat gelagat aneh sahabatnya.

__ADS_1


"Eh, nggak kok Ze." Sahut Tika cepat, pasalnya dia tertangkap basah seperti sedang mencari seorang.


"Dito belum pulang kerja. Saya pulang lebih awal." Ucap Rayan yang tahu sekali kalau sahabat kekasihnya itu sedang mencari asisten pribadinya.


"Lalu kenapa pak Rayan menjelaskan pada saya." Sahut Tika enteng.


Rayan tersenyum penuh kemenangan begitu juga Zea mendengar apa yang baru saja Tika katakan.


"Siapa yang sedang memberitahu kamu? saya memberitahu pak Wijaya."


"Sial!" gumun Tika yang merasa terjebak.


"Kalau suka bilang aja Tik, jangan malah tiap hari kayak tom and jerry." Goda Zea.


"Apa sih." Kesel Tika, mukanya sudah perlahan berubah memerah.


"Sudah-sudah jangan ganggu lagi Tika nya, kalian mengobrol lah papa ingin beristirahat."


"Biar Zea bantu pa."


"Sudah tak apa, biar para pekerja saja yang membantu papa."


Karena memang sudah ada seorang pelayan yang akan merawat pak Wijaya. Tapi tetap Zea akan mengontrol semuanya yang bersangkutan dengan sang papa.


"Baiklah, hati-hati ya bi bawa papanya."


"Baik non."

__ADS_1


__ADS_2