Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Tidak peduli


__ADS_3

Bismillah.


"Karena apa pak Rayan?" tanya Zea masih penasaran.


"Karena.... Lupa!" jawab Rayan santai saja membuat Zea seketika mendadak jadi kesal.


"Padahal saya juga penasaran loh pak." Celetuk Tika.


Rayan dan Dito menatap tajam Tika, sedangkan Tika hanya mampu menelan ludahnya kasar, yakinlah jika dengan tangan kanan bosnya itu dia masih berani, tapi dengan pak Rayan. Tika tidak punya keberanian sama sekali.


"Astaga pak Rayan, perasaan dari tadi natap Zea teduh banget. Lah girian aku ngomong langsung dapat tatapan tajam. Ini pula satu, pakai ikut natap tajam aku segala pak Dito, pengen nampol mukanya!" gerut Tika merasa kesal.


"Biasa aja kali pak." Ucap Zea yang membuat Rayan maupun Dito tersadar.


"Yuk Tik, kita temui penggantinya." Ajak Zea meraih tangan Tika.


Baru saja dua perempuan itu berdiri, akan pergi dari hadapan Rayan dan Dito. Tiba-tiba saja Rayan mencegah mereka. Rayan menahan tangan Zea, Dito hanya mampu melihat apa yang dilakukan bosnya itu tanpa berani berkomentar.


"Kamu sama saya." Putus Rayan tanpa minta persetujuan dari Zea.


"Lah pak, kan saya ngajaknya Tika." Protes Zea saat Rayan sudah menarik tanganya dengan lembut.


Tika hanya mampu menatap kepergian Zea dan Rayan, tanpa berani berkomentar sedikitpun. Sampai dia mengingat kalau masih ada satu manusia lagi disebelahnya.


"Ayo pak kita susul mereka." Ajak Tika sok akrab.


Kini giliran Tika yang asal menarik tangan Dito, tanpa persetujuan orangnya. Dito berdecak kesal melihat apa yang dilakukan oleh Tika, tapi dia tidak protes sama sekali.


Rayan dan Zea sudah berada didekat penggantinya, tapi kedua orang itu tidak langsung menyapa Vernando dan Zena yang menjadi mempelai, Zea malah melipir lebih dulu menemui sang papa dan pak Nurman, diikuti oleh Rayan.

__ADS_1


"Papa." Panggil Zea, dia sedari tadi menunggu papanya. Ternyata ada disebelah pak Nurman.


"Kamu tidak ingin menemui mempelainya?" tanya pak Wijaya memastikan, sambil mengelus sayang pucuk kepala putrinya.


Pak Nurman juga terseyum saat melihat mantan menantunya itu, mungkin sampai kapanpun pak Nurman akan menganggap Zea sebagai menantunya.


"Ini mau pa, makanya kesini. Tapi karena lihat papa sama pak Nurman, jadi Zea mampir kesini dulu." Jelasnya.


Sungguh Zea tidak peduli dengan kehadiran Rayan, orang yang tadi menmbawanya untuk menemui mempelainya. Rayan hanya tetap berdiri disebelah Zea, sedangkan pak Nurman kaget sekaligus tak menyangka melihat produser mereka akan menghadiri acara pernikahan Vernando dan Zena.


"Pak Rayan, sungguh sebuha kehormatan bagi saya melihat bapak datang kepernikahan ini. Saya mengucapkan terima kasih pa." Ucap pak Nurman tulus.


Sebenci apapun beliau pada Vernando, anaknya tetap saja. Sampai kapan pun Vernando akan tetap menjadi anak pak Nurman. Dalam darah Vernando ada darah pak Nurman juga mengalir disana.


Karena pak Nurman tahu, tidak ada mantan anak. Yang ada hanya mantan istri maupun suami.


"Kebetulan saya datang karena undangan dari pak Wijaya." Sahut Rayan sopan.


"Loh kok sama papa, papa udah tadi. Kan kamu kesininya sama nak Rayan. Ralat maksud papa, kamu tadi mau nemui penggantinya sama pak Rayan kan, ya udah sana. Tidak usah dengan papa."


Rayan senang bukan kepalang kala pak Wijaya menyuruh putrinya menyapa mempelai dengan dirinya. Memang itu yang Rayan ingikan, dia tak peduli acara malam ini.


Sejujurnya Rayan datang keacara malam ini alasanya karena ada Zea. Tidak tahu sejak kapan produser itu jatuh cinta pada artisnya sendiri. Padahal dulu dia tidak peduli pada artis perempuan manapun yang ada di smart enterthaiment.


"Benar kata pak Wijaya. Ayo kita temui mereka." Ajak Rayan.


Lagi-lagi Zea hanya bisa pasrah, malam ini dia tidak ingin membuat kekacauan diacara pernikahan Vernando dan Zena. Karena Zea sungguh tidak berminat.


Ternayat sedari tadi Tika dan Dito juga belum menemui mempelainya, mereka menunggu Rayan dan Zea. Melihat temannya berdiri di sebelahnya Zea tersenyum sumrigah apalagi melihat Tika berdiri tak jauh dari Dito.

__ADS_1


"Dilihat-lihat kamu sama pak Dito cocok tau Tik." Bisik Zea saat melewati temannya itu.


Mendengar apa yang baru saja Zea bisikkan, sontak Tika langsung melihat kearah Dito. Bukan dengan tatapan ramah, tapi Tika menatap tajam Dito, entah apa salah Dito sampai Tika seperti terlihat sangat membencinya.


"Ada apa dengan perempuan ini, kenapa dia menatapku dengan tajam." Bingung Dito, tidak sadar dia kalau tadi dirinya juga sempat menatap tajam Tika. Sungguh seorang yang tidak tahu diri bukan.


Kembali pada Zea dan Rayan yang sudah berada didekat kedua mempelai, tak lupa Dito dan Tika entah sudah sejak kapan berdiri dibelakang Zea dan Rayan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempeli.


"Pak Rayan, saya tidak menyangka bapak akan menghadiri acara pernikahan saya malam ini." Ujar Zena heboh sendiri, bahkan dia sampai menunjukan senyum terindahnya pada Rayan.


Sayang sekali tidak ada reakasi apapun dari Rayan, dia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun pada Vernando dan Zena. Seketika suasana diantara mereka menjadi sedikit mencengkam. Sampai suara Zea memecahkan keheningan yang amat mencengkam ini.


"Selamat atas pernikahan kalian." Ucap Zea, siapa sangka dia juga mempersipkan kado untuk Zena dan Vernando.


Zena menatap tak suka pada Zea, apalagi melihat Zea yang datang bersama Rayan. Semakin membuat Zena tidak suka.


"Terima kasih kamu sudah datang." Sahut Vernando, kini dia yang tersenyum indah pada Zea. Mungkin berharap Zea kembali terpesona pada dirinya.


"Cek dasar laki-laki!" maki Rayan. "Astaga salah rupahnya. Aku pun laki-laki. Aku akan meralat kata-kata ku barusan. Daras si Vernando buaya, menyesalkan dia sudah bermain api dibelakang Zea untung saja mereka sudah resmi cerai." Batin Rayan.


Sepertinya Zea tak ingin menanggapi Vernando, melihat hal ini Rayan senang sekali.


"Semoga Zena dan Vernando suka kadonya." Ucap Zea lalu berbali menatap Rayan, Rayan yang ditatap oleh Zea menaikan sebelah aslinya.


"Pak Rayan tidak ingin mengucapkan selamat untuk mereka berdua?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Rayan. Rayan menggeleng pelan, untuk apa juga begitu pikirnya.


"Kalau sudah ayo kita turun, masih banyak yang mengantri." Ujar Rayan, dan hebatnya Zea patuh saja.


Setelah Rayan dan Zea mengucapkan selamat. Ralat hanya Zea saja yang mengucapkan selamat untuk kedua mempelai, kini giliran Tika dan Dito yang berhadapan dengan dua orang yang paling muak bagi Tika untuk dia lihat.

__ADS_1


"Kita ketemu lagi, sebenarnya aku malas. Tapi karena aku tadi menemui kalian belum menjadi suami istri. Maka dengan malas aku kembali kesini untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, kalian berdua hebat bisa menang dari Zea. Sayangnya kalian sudah kalah jauh dari dia sedari dulu." Ucap Tika sinis.


__ADS_2