
Bismillah.
Keadaan Vernando saat ini sungguh begitu kacau, penampilannya benar-benar tidak tergolong lagi. Setelah meninggalkan sang istri yang baru saja lahiran di rumah sakit, kini Vernando berakhir disebulah club malam.
Laki-laki itu baru saja dihajar oleh sekelompok orang yang tak dikenal, karena mambuk dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang disinilah Vernando berada, berakhir terkapar di pinggir jalan dekat club yang sempat dia datangi.
Vernando benar-benar sudah tidak sadarkan diri lagi. Luka lembab penuh disekujur tubuhnya, dia sudah seperti orang yang tak punya tujuan. Lalu lalang orang pun tidak ada yang berniat menolong Vernando, apalagi hari semakin malam dan hujan pun turun perlahan-lahan membasahi bumi.
Di rumah sakit Zena tak mau berbicara sedikitpun pada Brain. Dia menatap benci pada laki-laki yang sebenarnya ayah dari anak yang baru saja dia lahirkan siang hari tadi.
"Ayolah Zen, aku sudah datang baik-baik kesini untuk mengakui bayi itu anakku. Tapi kenapa kamu masih tetap kukuh kalau bayi itu anak suamimu. Aku tahu suamimu itu mandulkan." Ucap Brain.
Sedari tadi dia terus saja membujuk Zena, tapi perempuan itu hanya menatap tajam Brain. Kebencian pada Brain terpancar jelas di kedua bola mata Zena.
"Diam!" bentaknya.
"Sial! Gara-gara kamu Brain semua rencanaku gagal total! Tadinya aku sangat mengharapakan bayi itu lahir. Tapi setelah kemunculan dirimu, aku sangat membenci bayi itu." Maki Zena berteriak di dalam hatinya sendiri.
"Jangan membentakku Zena! Aku bukanlah Brain yang dulu mudah kau peralat." Sentak Brain yang membuat Zena kaget.
Bahkan kali ini Brain balik menatap tajam Zena, sampai membuat wanita itu sedikit takut dengan bentakan Brain.
"Kenapa kau datang hah!" teriak Zena akhirnya mentapa nyalang Brain.
"Karena aku ingin melihat bayiku, apa salahnya." Jawab Brain enteng.
"Sudah aku katakan dia bukan bayimu! Dia anak mas Nando, bukan anak mu sialan!" Maki Zena semakin menjadi.
"Jangan bohong Zena! Begini saja, kalau kamu memang tidak ingin kembali bersamaku, biarkan aku membawa anak kita. Lagipula bukankah setelah melahrikan kamu dan suamimu itu akan di penjara atas kasus beberapa bulan lalu."
"Sekali lagi aku katakan dia bukan anakmu Brain!"
__ADS_1
Brian tersenyum smrik mendengar Zena memanggil namanya. Tapi senyum itu membuat Zena ingin sekali menampar wajah Brian.
"Aku tak menyangka mulutmu itu akan kembali menyebut namaku." Ucap Brain enteng.
Zena tak menggubris perkataan Brain, dia semakin membenci laki-laki di depanya ini. Dulu Zena memang sengaja mendekati Brain hanya untuk dirinya hamil agar Vernando cepat mencerikan Zea dan segera menikahi dirinya. Karena selama ini bersama Vernando sudah lebih dari 3 tahun Zena tak kunjung hamil-hamil.
Zena yang takut rencananya gagal, karena tak kunjung hamil anak Vernando. Mulai mencari cara agar dirinya bisa segera hamil, sampai dia dan Brain tak sengaja bertemu. Brain dan Zena sering bertemu hampir 5 bulan tanpa sepengetahan Vernando.
Sampai Zena mengetahui dirinya sudah hamil, dia memutuskan hubungannya dengan Brian. Padahal selama 5 bulan ini Brian ternyata diam-diam menyukai Zena. Tapi perempuan itu mengancam Brian jika bernai menemui dirinya.
Dulu Brain memang tidak mempunyai kekuatan untuk melawa Zena, tapi setelah kepergian Zena, dia tahu jika Zena sedang hamil anaknya. Brain mulai bangkit untuk mencari keberadaan Zena. Sampai dalam waktu singkat dia mampu membuka 3 rumah makan.
Tapi setiap kali ingin bertemu dengan Zena, Brain selalu gagal. Zena pasti memiliki cara agar tidak bertemu dengan Brian. Sampai akhirnya dia dipertemukan dengan Zea.
Dari situlah Brain menceritakan semuanya pada Zea. Hingga Zea mau menolong Brain dengan beberapa syarat. Zea juga bisa membuat Zena dan Vernando menyesal berkali-kali lipat.
Kembali pada Zena dan Brain.
"Kamu benar ingin tahu siapa orangnya sayang?" tanya Brain berusaha menggoda Zena.
Mungkin saja kalau Zena tahu sekarang Brain bukan lagi laki-laki miskin, dia akan memilih Brain ketimbang Vernando yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya setelah dirinya melahirkan. Tapi yang Zena tahu Brain hanyalah laki-laki miskin yang tidak dapat diandalkan.
"Siapa hah?" tantang Zena.
"Apa imbalannya jika aku memberitahu siapa orangnya?" Brian malah balik bertanya sambil tersenyum licik.
Zena semakin menjadi, dia semakin marah pada Brian. Sampai datang petugas dan beberapa suster untuk menegur Zena dan Brain, karena ini rumah sakit bukan tempat ribut ditambah lagi hari semakin malam.
"Mas kok rame-rame ada apa sih?" tanya Zea penasaran.
Zea dan Rayan baru saja selesai keliling rumah sakit setelah mengisi perut mereka. Karena sudah malam keduanya memutuskan untuk kembali ke ruang rawat pak Wijaya. Rayan dan Zea memutuskan untuk malam ini menginap di ruang rawat pak Wijaya.
__ADS_1
"Mas juga tidak tahu, tapi denger-denger dari beberapa suster sih. Si Vernando dari sore nggak kelihatan."
"Terus tadi kayaknya suara ribut Zena sama cowok deh. Tapi siapa cowoknya."
Mendengar pertanyaan Zea, Rayan hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Sambil tanganya mengelus lembut pucuk kepala Zea yang cemberut.
"Sudah biarkan saja, lagipula ini bukan urusan kita." Ujar Rayan sambil menarik tangan Zea pela agar ikut dengannya menuju ruang rawar pak Wijaya.
"Ish! Mas Rayan mah, padahal Zea pengen lihat muka Zena pas lagi marah-marah." Rengeknya.
"Nggak! Udah malem sekarang tidur, besok kita harus beraktifitas seperti biasa."
Karena melihat pak Wijaya sudah tidur, Rayan membawa Zea di sopa yang ada di kamar rawat tersebut.
"Tidurlah." Ucap Rayan sambil mengelus pucuk kepala Zea.
"Mas Rayan nggak tidur?" tanyanya sambil mendongak untuk menatap Rayan.
Kini posisi Zea sudah rebahan sambil kaki Rayan yang dijadikan untuk bantalnya.
"Mas akan tidur seperti ini." Sahut Rayan mulai memejamkan kedua netranya.
"Tidurlah." Ucap Rayan lagi.
Zea pun tak banyak bicara lagi, semakin sering mengelus pucuk kepalanya. Tidurnya semakin cepat dan nyenyak.
Tanpa Zea ketahui Rayan sudah berniat ingin segera menikah dengan Zea setelah pak Wijaya dinyatakan sembuh total. Sekarang saja Dito dan Tika sedang mempersiapkan apa yang Rayan minta.
Semakin hari Dito dan Tika juga semakin selalu terlihat bersama. Mungkin orang yang tidak kenal mereka akan mengira Tika dan Dito adalah sepasang kekasih, tapi nyatanya semakin hari kedua orang itu selalu bersama mereka akan selalu menjadi tom and jerry.
Dito yang kadang kesal dengan Tika begitu juga sebaliknya keduanya tidak ada yang ingin mengalah satupun jika sudah berdebat. Kadang kalau Dito selalu kalah berdebat dengan Tika, dia akan meninggalkan Tika begitu saja.
__ADS_1