Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Pergi ke makam


__ADS_3

Bismillah.


"Maafkan papa Ze," ucap pak Wijaya menatap sendu putrinya.


Zea dan papa saat ini sedang menikmati waktu dihari libur pagi hari dengan secangkir teh untuk mereka masing-masing.


Mendengar perkataan papanya Zea menatap pak Wijaya heran. "Kenapa papa minta maaf sama Zea?" tanyanya bingung.


"Maaf karena papa telah memilihkan laki-laki yang belum tepat untukmu, mulai sekarang papa ingin kamu mencari laki-laki sejati yang benar-benar tulus mencintaimu." Pak Wijaya mengusap pucuk kepala putrinya.


"Apa yang terjadi pada Zea dan Vernando bukan salah papa. Perjodohan yang papa dan pak Nurman lakukan Zea yakin demi kembaikan aku dan Vernando. Hanya saja kami memang tidak berjodoh pa." Ujar Zea bijak, dia tidak ingin papanya merasa bersalah pada dirinya. Atas pernikahan yang perah terjadi padanya dan Vernando.


"Tapi papa tidak ingin apa yang terjadi padamu, terjadi juga dengan Zena."


Kali ini Zea menatap lekat papanya. Zea tahu sekecewa apappun papa pada Zena. Dalam hati pak Wijaya, beliau masih menganggap Zena putrinya.


"Pa." Ucap Zea pelan sambil menenangkan papanya. "Apa yang terjadi dengan Zena sekarang beda kasusanya dengan Zea, Pa. Dia menikah dengan Vernando karena kesalahanya sendiri. Jadi papa tak perlu merasa bersalah."


"Terima kasih Na."


Kini pak Wijaya merasa lebih tenang setelah mendengar penjelasan putrinya. Dalam benaknya pak Wijaya berharap mendapatkan seorang yang benar-benar bisa menjaga dan menyayangi putrinya dengan tulus.


"Papa harap kamu akan menemukan laki-laki yang tepat Zea," batin pak Wijaya.


Sampai beliau teringat satu hal, jika mereka akan pergi kemakam mendiang istrinya. Beliau ingin segera kesana.


"Zea, ayo kita pergi ke makam mamamu." Ajak pak Wijaya.


Zea mengangguk patuh, dia segera bangun dari duduknya. "Ayo siap-siap pa, Zea juga sangat merindukan mama."


Pak Wijaya dan Zea sudah mulai belajar ikhlas menerima kepergian perempuan yang amat berharga dihati mereka. Bertahun-tahun lamanya mereka baru tahu, jika perempuan paling berharga dihidup mereka sudah lama pergi meninggalkan mereka.


Tak butuh waktu lama Zea dan pak Wijaya sudah rapi, keduanya menggunakan pakaian serba hitam dengan sangat rapi.


"Ayo pak." Ajak Zea.


Keduanya meninggalkan rumah untuk mengunjungi makam mama Eli. Sebelumnya Zea sudah menyuruh orang untuk membuat makam mamanya kembali. Karena saat itu makam mamanya seperti tidak terawat dan asal-asalan.


"Mama aku datang berkunjung bersama papa. Zea harap mama bahagai di alam sana. Mama tenang saja papa dan Zea juga bahagai, Zea akan selalu menjaga papa untuk mama," batin Zea sambil menatap lurus kedepan.

__ADS_1


50 menit berlalu mobil milik pak Wijaya akhirnya sampai juga di pemakaman umum yang sedikit jauh dari tempat tinggal mereka.


"Zea beli bunga dulu ya pa." Pamit Zea yang mendapatkan persetujuan dari pak Wijaya.


Sedangkan pak Wijaya tetap menunggu di tempatnya, nertanya terus memperhatikan putri tunggalnya itu. Pak Wijaya tidak ingin terjadi sesuatu pada putrinya.


"Pak bunganya."


"Pak bunganya." Ucap Zea kompak dengan seorang pria.


Lalu keduanya menoleh secara bersama. "Pak Rayan." Kaget Zea.


Pasalnya sudah seminggu ini Zea belum bertemu produesrnya. Posisinya di smart entrthaiment juga belum jelas, karena setiap kali Zea ingin menemui pak Rayan selalu saja tidak ada.


Rayan tak kalah terkejutnya dengan Zea. Dia tidak akan menyangka bisa bertemu dengan Zea di tempat penjual bunga didekat makam.


"Zea." Sahut Rayan.


"Pak Rayan beli bunga juga?"


"Iya, kamu kesini sama siapa?" tanya Rayan memastikan.


Zea memang perfesional, dia tidak akan membahas pekerjaan diluar jam kerja ataupun diluar kantor.


"Ayo pak," ajak Zea setelah kembali didekat papanya.


Mereka berdua berjalan menyusuri satu persatu makam agar bisa sampai di depan makam mama Eli.


"Ini makam mama pa." Ucap Zea sambil duduk.


Deg!


Pak Wijaya masih terpaku di tempatnya. Beliau menatap sendu makam istrinya yang telihat begitu bersih dan sangat terawat juga wangi.


"Maafkan aku Eli." Sakit sekali rasanya hati pak Wijaya melihat semua ini. Tapi beliau tidak boleh lemah, beliau harus kuat demi putrinya.


"Mama apa kabar, aku dateng sama papa, ma." Ucap Zea mulai bicara di atas pusaran makam mamanya.


Tes!

__ADS_1


Tanpa terasa air mata pak Wijaya maupun Zea memabasahi pipi mereka masing-masing. Cepat ayah dan anak itu menghapus air mata mereka yang telah jatuh membasahi pipi.


Bunga yang tadi Zea beli sudah dia letakan di atas makam mamanya. "Zea harap mama bahagai disana," gumunnya tanpa didengar pak Wijaya.


Pak Wijaya kini sudah ikut duduk di sebelah putrinya. Beliau pegang erat tanah tempat makam sang istri.


"Maafkan aku Eli." Hanya kata itulah yanh mamapu terucap dari kedua sudut bibir pak Wijaya.


Melihat papanya rapuh, Zea mengusap lembut pundak papanya untuk memberikan semangat.


"Jangan sedih pa, kalau papa sedih pasti mama juga akan ikut sedih." Ujar Zea.


Pak Wijaya mengangguk. "Eli aku berjanji akan selalu menjaga putri kita. Tidak akan aku biarkan satu orangpun menyakiti dirinya." Ucap pak Wijaya sungguh-sungguh.


"Maaf karena aku sudah menjadi ayah dan suami yang lalai. Aku akan menembus semua kesalahanku."


Di tempat lain.


Lebih tepatnya di dalam sebuah pencara, Burhan dan Putri sedang beradu argumen.


"Apa yang terjadi mas? Kenapa kamu sekarang diam saja. Lakukan sesutau aku tidak mau mendekam di tempat busuk seperti ini." Maki Putri.


"Diam!" bentak Burhan pada istrinya.


Sekarang pikirannya benar-benar kacau. Dia tidak bisa berpikir jernih, rasa bersalah telah berkali-kali limpat menghantui diri dan pikirannya. Burhan sadar semua yang dia lakukan salan besar.


Zea Amanda Putri seorang perempuan muda yang sudah menyelamatkan dirinya dari rasa iri yang terus menghantui dirinya. Sampai membuat dia terjerumus dalam lubang bahayanya sendiri.


"Mas kok bentak sih! Aku cuman mau keluar." Paksa Putri sekali lagi.


"Kita tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini, sebelum kita sadar jika apa yang telah kita lakukan salah dan keliru." Tegas Burhan.


"Cek! Kamu ini kenapa sih mas, sudah terperangkap dengan semua kata-kata Zea itu, ingat mas dia yang membuat kita berakhir disini. Apa mas lupa jika semua ini juga rencana mas!"


Malas berdebat dengan istrinya Burhan segera meninggalkan Putri. Burhan duduk dipojokan tidak menoleh lagi pasa istrinya yang menatapnta kesal dan jengkel.


"Awas saja kamu Zea, semua ini gara-gara dirimu. Setelah aku keluar dari tempat sialan ini aku akan membalas semuanya. Kamu harus merasakan seperti apa diperemalukan di depan banyak orang Zea."


Putri segera menjauh dari suaminya lalu mencari tempat nyaman untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2