
Bismillah.
"Aku ke toilet dulu." Pamit Zea pada semua orang.
"Jangan lama-lama sayang." Peringat Vernando, Zea mengangguk kecil.
Jika dulu dia dipanggil sayang oleh sang suami di depan kedua orang tuanya Zea begitu malu. Sekarang dia tidak lagi merasa malu, malah jijik sendiri mendengarnya karena sudah tahu seperti apa laki-laki bajingan yang berstatus suaminya itu.
"Sayang-sayang palamu." Kesel Zea saat sudah berlalu.
Sejujurnya Zea tidak benar-benar ingin pergi ke toilet dia hanya ingin menghindari suaminya, lama-lama berdekatan dengan Vernando membuat Zea ingin sekali menonjok muka laki-laki itu sayangnya saat ini Zea tidak bisa melakukan hal itu sekarang. Dia harus bisa benar-benar membuat malu Vernando dan Zena.
"Sabar Zea, sabar ini baru permulaan jadi jangan terpancing dulu." Ucapnya pada diri sendiri.
Zea menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada di kamar mandi, dia menghela nafas berulang kali untuk menetralkan suasana hatinya yang ingin mengamuk.
"Ayo kita hadapai mereka, kamu bisa Zea, jangan mau kalah." Zea mencoba tersenyum ceria.
Setelah merasa lega barulah Zea segera kembali menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk di tempat semula. Zea tahu ada kemungkinan saat dia pergi ke toilet Zena akan datang menghampiri mama, papa dan Vernando. Dia juga hampir 30 menit berada di kamar mandi karena sedang menenangkan diri.
Setelah merasa lebih baik Zea berjalan meninggalkan toilet umum yang disedikan oleh pihak pantai. Zea tidak memperhatikan langkahnya sampai dia menabrak seorang.
Bruk!
"Astaga! Aku minta maaf sungguh tidak sengaja." Sesal Zea, sambil membantu membereskan berkas-berkas yang berserakan akibat ulahnya.
"Ini, sekali lagi saya minta maaf." Ujar Zea penuh penyesalan. Dia memberikan berkas-berkas itu sambil melihat siapa orang yang sudah dia tabrak.
"Pak Rayan." Pekik Zea dalam hatinya.
Sedangkan orang yang bernama Rayan itu memperhatikan Zea sejenak mungkin dia merasa mengenali Zea.
"Kamu Zea kan?" tanyanya memastikan.
"Hehehe." Zea hanya bisa nyengir saja. "Iya pak maaf saya tidak sengaja menabrak bapak." Sesal Zea sungguh-sungguh.
__ADS_1
Rayan menaikan sebelah alisnya, lalu menelisik penampilan Zea sampai membuat Zea risih sendiri karena diperhatikan dengan teliti oleh prosedur mudanya itu.
"Pergi ke pantai tidak menutup diri?" wajar saja Rayan bertanya seperti itu karena Zea seorang artis terkenal pergi ke pantai tanpa menyamar atau sabagainya.
"Heheh ini kebetulan aja kok pak, kalau banyak fens yang lihat barulah tutup wajah pakai masker dan kepala pakai topi." Jelas Zea membuat Rayan mengangguk mengerti.
"Saya permisi pak." Pamit Zea setelahnya.
Rayan hanya bisa memandang kepergian Zea. Laki-laki itu merasa ada sesuatu yang aneh, seperti ada hal yang dia lupakan setelah melihat Zea barusan, tapi dia sendiri tidak tahu apa.
"Sudahlah." Pasrah Rayan kembali melanjutkan langkahnya.
Zea sudah kembali ke tempat semula, benar dugaannya sudah ada Zena disana. Bahkan Zena terlihat bercanda dengan sang papa dan seakan menjaga jarak dari Vernando.
"Zena." Sapa Zea setelah mendekat pada empat orang yang sedang asyik bercanda barusan.
Zena langsung menoleh kesumber suara, dia tersenyum manis pada Zea. Hal tersebut sontak membuat Zea seakan ingin muntah kembali. Tadi Vernando sekarang Zena, sungguh akting yang sangat apik.
Zena langsung memeluk Zea. Tentu saja Zea melakukan hal yang sama demi misinya dia harus pura-pura bodoh dan tidak tahu apapun.
"Kamu udah lama disini Ze?" tanya Zea memastikan.
"Sayang duduk, kamu kok lama banget ka toiletnya." Ujar Vernando wajahnya dibuat sekhawatir mungkin.
Pasalnya Zea menghabiskan waktu 45 menit hanya pergi ke toilet saja. Waktu yang begitu lama jika diitung-itung mana mungkin pergi ke toilet sebentar menghabiskan waktu begitu banyak. Tadinya Vernando mau menyusul Zea, tapi dia urungkan saat melihat Zena datang menghampiri mereka.
"Aku baik-baik saja mas, tadi hanya sakit perut, sekarang sudah semubuh kok." Jawabnya.
Waktu terus berjalan keluarga Wijaya menikmati liburan mereka di pantain sampai waktu sore tiba karena Zea ingin melihat sunset terlebih dahulu.
...----------------...
Pagi ini semua orang di kediaman Wijaya sudah kembali melakukan kegitana mereka masing-masing. Rutinitas mereka setiap bukan hari libur.
Zea bersama suaminya sudah berangkat ke kantor lebih dulu, karena hari ini Zea maupun Vernando ada jadwal syuting pagi. Sementara Zena baru saja menyelesaikan sarapan bersama mamanya.
__ADS_1
"Papa mana mah?" tanya Zena memastikan.
"Sudah ke kantor, kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, kalau gitu Zena berangkat ya Ma."
"Zen." Ujar mama Eli belum mengiakan ucapan putrinya.
"Kamu tahukan harus apa? Rencana mama kemarin gagal total."
Sebuah senyum jahat terukir sempura di kedua sudut bibir Zena. "Mama tenang saja Zena tahu harus berbuat apa. Lagi pula ada Nando yang akan membantu kita." Ucap Zena pelan sekali agar hanya mamanya yang bisa mendengar percakapan mereka.
Zena segar berangkat menuju lokasi tempat syuting, dia memiliki jadwal syuting siang jadi masih ada waktu untuk bersantai, sampai di tempat syuting ternyata Vernando sudah selesai syuting sedangkan Zea masih ada beberapa sekan lagi.
"Sayang." Sapa Zena saat masuk ke dalam ruangan Vernando.
"Kenapa disini kalau ketahuan orang lain bagimana." Panik Vernando.
"Tenang saja tidak ada yang tahu kalau aku masuk kesini." Ucap Zena yakin.
Tanpa sepengetahuan Zena dan Vernando. Tika sedang memata-matai mereka. Tentu saja Zea yang meminta Tika melakukan hal itu, kalau dia sendiri jelas tidak bisa karena jadwal syutingnya selalu padat.
"Nanti kamu ada adengan tampar menampar dengan Zea kan?" tanya Vernando pada Zena yang duduk di pangkuannya.
Zena menatap Vernando sambil mengangguk senyum licik kembali terbit di sudut bibir Zena. "Apa yang akan kamu lakukan pada Zea?"
"Kejutan kamu harus menonton saat aku dan Zea syuting bersama nanti."
"Itu pasti aku ingin melihat kamu memaikan peranmu dengan sangat baik." Ujar Vernando sambil mendekatkan wajahnya dan wajah Zena bahkan tidak berjarak sedikitpun.
Tika yang sedang memata-matai kedua orang itu sungguh tidak menyangka sama sekali apa yang dilakukan Zena dan Vernando di belakang Zea.
"Apakah Zea sudah tahu semua ini, maka dari itu dia menyuruhku untuk memata-matai kedua orang bejat ini." Geram Tika melihat kelakukan Zena dan Vernando.
Setelah mereka video, mengambil video dan juga beberapa foto perselingkuhan Zena dan Vernando Tika segera pergi dari tempat persembunyiannya sungguh matanya panas darahnya terasa mendidih melihat pengkhianatan suami dan saudara kembar Zea.
__ADS_1
"Kenapa mereka begitu tega." Tika tak habis pikir sama sekali.
"Zena!" terika seorang yang membuat Tika kaget.