Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Keputusan untuk Zea


__ADS_3

Bismillah.


Dua hari setelah acara pernikahan Vernando dan Zena. Kini Zea kembali menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Kali ini Zea mengingatkan dirinya sendiri, dia harus benar-benar bertemu dengan pak Rayan.


Zea masih menjalani aktifitasnya sebagai artis ternama di smart enterthaiment. Zea berjalan menuju ruang Rayan.


"Maaf pak Dito, apakah pak Rayan nya ada?" tanya Zea yang kebetulan sekali berpapasan dengan Dito.


"Saya kurang tau, tapi mungkin ada di ruangannya." Jawab Dito sopan.


Cek! Zea mencebik kesal, bukankah semua orang di smart enterthaiment tau kalau Dito merupakan tangan kanan Rayan, tapi kenapa ditanya bosnya di mana dia tidak tahu. Apakah seperti itu pantas disebut tangan kanan, sepertinya tidak.


"Bagimana sih pak Dito, bapakan tangan kanannya masa tidak tahu."


"Benar tidak tau, karena saya baru saja selesai meeting dengan beberapa perusahaan enterthaiment lainnya." Jawab Dito.


"Baiklah terima kasih infonya."


Zea segera berlalu menuju ruangan Rayan, seperti biasa dia asal masuk saja tanpan mengetuk pintu ruangan Rayan lebih dulu.


"Astaga!" kaget Zea, tau seperti ini tadi, dia tidak akan nyelonong masuk. Matanya kini sudah ternodai.


"Dasar bos sialan tidak tahu tempat!" makin Zea, untung saja dia masih banyak stok kesabaran.


Apa yang Zea lihat. Ya Zea melihat bosnya itu sedang mencium bibir perempuan yang kini berdiri di hadapanya. Tapi Zea tidak tahu, aslinya Rayan tidak mencium perempuan itu. Perempuan yang bernama Emeli itulah yang hendak mencium bibir Rayan, tapi belum sepat, Rayan juga pasti akan mendorong perempuan itu jika berani mencium bibirnya. Malah Zea datang secara tiba-tiba, jika seperti ini pasti Zea akan mengira dirinya laki-laki murahan, dan Rayan tidak mau dicap seperti itu dia akan meluruskan kesalah pahaman ini pada Zea.


"Maaf kalau saya menganggu, kalian silakan lanjut. Nanti saya datang lagi." Ucap Zea yang langsung membalikan tubuhnya, jadi membelakangi Rayan dan Emeli.


"Mau kemana? Tetap disini" cegah Rayan.


"Dan kamu, silakan keluar dari ruangan saya. Ingat jaga sikap kamu!" tegas Rayan pada Emeli.


"Tapi Ray, kok kamu ngusir aku sih." Timpal Emeli tidak terima.

__ADS_1


"Keluar secara baik-baik atau saya panggilkan satpam untuk menyeret kamu keluar." Ancam Rayan, bahkan tatapannya begitu tajam pada Emeli.


Anehnya Zea hanya menjadi penonton saja, dia seperti patung di tempatnya.


"Kok kamu kasar sih Ray."


"Keluar! Saya bilang sekali lagi keluar sekarang atau saya panggilkan satpam. Saya masih menghargai kamu ya Emeli, jangan sampai membuat saya naik pitam!"


Emeli menghentakan kakinya sebal, dengan perasaan tidak rela dia terpaksa keluar dari ruangan Rayan, tapi saat melihat Zea, Emeli menatap sisin pada Zea.


"Wah, wah ada apa dengan perempaun ini. Sepertinya dia tidak suka padaku. Padahal aku tidak berbuat apa-apa, masa dia marah karena aku tidak sengaja melihat apa yang dirinya dan pak Rayan lakukan. Dilihat-lihat musuhku sepertinya akan kembali bertambah." Batin Zea tak habis pikir.


Setelah kepergian Emeli kini tinggal Rayan dan Zea yang ada di dalam ruangan tersebut.


Keduanya sama-sama diam, tapi tak lama kemudian Rayan menyuruh Zea untuk duduk.


"Duduklah pasti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan." Ucap Rayan menatap teduh Zea, entah kemana perginya tatapan tajam Rayan tadi, hilang seketika di hadapan Zea.


"Tadi tidak seperti yang kamu lihat, Emeli dengan lancang ingin mencium saya."


"Bagimana jika kamu jadi kekasih saya."


"Hahahah!" Zea langsung terbahak, apa dia tidak salah dengar produser galak mereka ini menembak dirinya.


"Skip yang tidak penting pak. Saya sudah satu bulan ingin menemui bapak untuk membahas masalah keja, tapi bapak tidak pernah ada. Giliran nggak di tempat kerja muncul terus. Jadi gimana pak, saya dikeluarkan dari smart enterthaiment?"


"Tapi saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya." Ucap Rayan masih membahas yang tadi.


"Pak Rayan!" kesel Zea.


"Oke." Pasrah Rayan.


Kini giliran Rayan yang mengerutkan dahi heran, bagaimana tidak heran, Zea sepertinya senang sekali dipecat dari smart enterthaiment.

__ADS_1


"Siapa yang akan mengeluarkan kamu, kamu akan tetap menjadi bagain dari smart enterthaiment."


"Yak! Bapak Rayan kok begitu sih pak, padahalkan saya sudah membuat perusahan bapak rugi besar."


"Ini perempuan kenapa dah, bukannya seneng nggak dipecat malah seperti ingin dipecat saja." Batin Rayan tak habis pikir.


"Saya juga sudah menyiapkan uang ganti ruginya kok pak." Lanjut Zea lagi.


Kini giliran Rayan yang tertawa juga. "Kamu lupa peraturan tentang pemilik saham di smart enterthaiment, jika artis dari enterthaiment sendiri yang memilik saham di smart enterthaiment maka dia harus tetap akan menjadi bagian dari perusahan ini." Jelas Rayan gamblang.


Zea membulatkan kedua bola matanya dengan sempuran, bagaimana bisa dia melupakan point penting satu ini.


"Astaga aku terjebak dengan rencanaku sendiri. Tapi mungkin masih ada jalan lain, walaupun tetap jadi bagian dari smart enterthaiment aku harus hiling dulu untuk beberapa minggu." Batin Zea kembali menyusun rencana untuk dirinya.


"Oke pak Rayan saya salah, tapi maaf bolehkan bapak memberi saya cuti 2 minggu? Saya mohon pak, anggap saja untuk menembus rasa bersalah bapak pada saya. Karena dalam waktu sebulan ini tidak bisa ditemui." Ucap Zea pede, bisa-bisanya dia bernegosiasi dengan bosnya sendiri.


"Baiklah saya menyetujuinya, hanya dua minggu lewat dari itu kamu akan tahu konsekuensinya, jika kamu melanggar saya yakin kamu akan menyesal." Ucap Rayan tersenyum miring.


Nyatanya laki-laki berusia 28 tahu itu punya rencana tersendiri untuk mendapatkan Zea yang tidak peka akan perasaanya.


Lagipula Zea merupakan seorang perempaun yang tau diri, dia baru saja bercerai dengan suaminya masa langsung gandeng cowok lain. Sorry, Zea bukan tipe perempuan yang seperti ini. Zea bukanlah Vernando yang tidak bisa menahan nafsunya.


"Yes! Jadi deal dong pak." Ucap Zea senang sekali.


Berbeda dengan Rayan yang mendengus kesal melihat Zea senang. Artinya dua minggu ini Rayan tidak akan bertemu dengan Zea.


"Senang banget kamu ya dikasih cuti, mau kemana sih?" tanya Rayan kepo.


Kan kalau dia tahu Zea akan liburan kemana dirinya bisa menyusul kapan saja.


"Ciee... Pak Rayan kepo. Tapi ya saya seneng lah pak, selama ini kan saya jarang libur, pake tahu pak ada job terus." Keluh Zea.


Kali ini dia benar-benar menceritkan keluhannya pada Rayan.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang dari waktu itu, kamu kan bisa bilang sama saya buat batalin jobnya."


Zea mendengus kesal mendengar perkatan Rayan. "Gimana mau bilang pak, dulu lihat muka pak Rayan aja saya nggak berani, serem banget." Kali ini Zea benar-benar jujur.


__ADS_2