Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Menanam saham


__ADS_3

Bismillah.


"Saya menemui pak Rayan ingin menanam saham di perusahaan smart enterthaiment." Ucap Zea mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.


Mendengar apa yang Zea katakan, Rayan menaikan sebelah alisnya. Smart enterthaiment sama sekali tidak butuh saham dari siapapun. Bahkan saham di smart enterthaiment bisa menyuntikan dana pada perusahaan manapun.


"Kamu tahukan untuk menanam saham di perusahaan smart enterthaiment minimal harus menanam 75% saham baru bisa dikelola." Jelas Rayan.


Seharusnya Rayan tidak perlu menjelaskan masalah ini, karena dia yakin pasti Zea sebagai artis terpopuler nomor 1 di smart enterthaiment mengetahui masalah saham di perusahaan tempatnya bekerja.


"Saya tahu pak, maka dari itu saya ingin menanam saham di perusahaan bapak." Jawab Zea semakin mantap. Bahkan Rayan tidak bisa melihat keraguan di wajah Zea. Atas penanaman saham yang besar.


"Saya akan menerima kamu sebagai salah satu pemegang saham di smart entertaiment. Silakan kamu urus semua persyarataannya dengan Dito."


"Baik pak, sebelumnya terima kasih banyak pak Rayan sudah mau menerima saya sebagai salah satu pemegang saham di perusaah ini."


"Ya!" jawab Rayan singakat, dia lama-lama terlalu malas untuk bicara panjang lebar.


Dahi Rayan semakin terlihat mengerut saat melihat Zea tidak kunjung beranjak dari tempat duduknya membuat Rayan terpaksa kembali bersuara.


"Ada lagi yang ingin kamu katakan?"


"Eh, tidak pak! Saya permisi dan terima kasih banyak untuk semuanya."


Zea buru-buru pergi dari ruangan presiden itu, pak Rayan sudah kembali pada mode dinginnya membuat Zea tidak bernai melihat kearah produsernya itu. Zea sendiri tidak tahu kenapa dia bisa begitu berani menemui pak Rayan untuk membicarakan tentang saham.


Untung saja pak Rayan tidak kepo, kenapa Zea mau menanam saham di perusahaan smart enterthaiment yang mengharuskan pemegang saham memiliki 75% saham di smart enterthaimen, jika ingin diakui sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan enterthaiment terbesar di negeri mereka.


"Ini baru satu langkah awal cara ku untuk menjatuhkan kalian berdua. Aku akan membuat kalian berdua menyesal berkali-kali lipat apa yang dulu pernah ku rasakan." Bisik Zea pada diri sendiri, dia tersenyum senang.


Satu persatu rencana yang sudah dia susun mulai dilakukan. Zea berjalan ringan menuju ruang Dito yang letaknya tidak jauh dari ruang Rayan.


"Astaga!" kaget Zea pelan.


Matanya telah ternodai melihat adengan yang seharusnya tidak dia lihat. Pasti masih ada rasa sakit di hati Zea kala melihat adengan mesum suami dan kembarannya, tapi Zea tetap berusaha tegar lagipula perasaannya dengan sang suami sudah mati.


"Dua orang ini tidak tahu malu, tidak bisa melihat tepat. Bodoh sekali di tempat umum masih bernai menunjukan kemesraan mereka. Aku ingin muntah rasanya."

__ADS_1


Kedua netra Zea masih berfokus pada satu titik, dimana suami dan kembarannya berada. Dibalik hordeng dekat ruangan Dito.


"Aku kenapa bisa memiliki kembaran seperti orang itu." Ujar Zea tak habis pikir.


Ceklek!


Sampai pintu ruangan pak Dito dibuka membuat Zena dan Vernando yang sedang bermesraan dengan tidak wajar jadi gelagepan sendiri.


"Hahahaha!" tawa Zea pecah seketika melihat Vernando dan Zena seakan tertangkap basah telah melakukan kejahatan.


Buru-buru Zea menutup mulutnya kala tersadar dia mentertawakan suami dan kembarannya, Zea hanya tidak mau dia ketahuan saja dalam waktu yang dekat. Bisa-bisa rencananya gagal.


Zea melangkah mendekati pak Dito yang saat ini sudah berhadapaan dengan Zena dan Vernando. Zea menyengeritkan dahinya melihat Zena dan juga Vernando hanya mampu menunduk dan tak berani menatap pada Dito.


Keheraan Zea semakin bertambah saat melihat tatapan amarah dari Dito yang ditunjukan untuk Vernando dan Zena.


"Kalian tidak usah menguruiku! Kami sebagai pengurus smart enterthaiment tahu apa yang harus kami lakukan!" maki Dito sambil berteriak.


Sampai membuat Zena dan Vernando terlonjak kaget. Zea juga kaget saat mendengar suara kerasa yang keluar dari mulut Dito.


"Mulai hari ini posisi kalian terancam. Kalian berdua ada dalam masa uji coba untuk mempertahankan nama baik dan posisi kalian dari smart enterthaiment. 1 bulan untuk kalian berada diposisi tersebut, jadi manfaatkan dengan baik." Tegas Dito tak dapat dibantah.


"Sudah sana pergi." Usir Dito yang malas melihat muka pada pembuat ulah di smart enterthaiment.


Ketika Vernando dan Zena berbalik mereka kaget saat melihat kedatangan Zea. Kedua orang itu yang masih berpegangan tangan dengan mesra segera melepsakan tangan mereka masing-masing.


"Mas, ada apa? Kok tadi pak Dito marah-marah sama kalian." Tanya Zea dengan tatapan iba.


"Nggak ada apa-apa kok Ze." Sahut Vernando tak lupa tersenyum pada istrinyan.


"Kamu yakin Zena tidak ada apa-apa juga? Tadi aku lihat pak Dito sampai marah besar. Cerita sama aku sebenarnya ada apa." Bujuk Zea pada Zena.


Zena memutar kedua bola matanya malas mendengar perkataan Zea, tapi dia harus tetap bersikap baik pada saudara kembarnya itu.


"Aku tidak apa Ze, oh iya kamu ngapain kesini?" tanya Zena penasaran.


"Aku dari tadi nyariin mas Nando ternyata disini." Sahut Zea enteng.

__ADS_1


Padahal tujuannya datang ke ruangan pak Dito bukan untuk mencari Vernando melainkan ingin mengurus persyaratan pemegang saham yang tadi Zea bicakan dengan pak Rayan.


Vernando yang mendengar ucapan Zea seketika teringat dengan adengan yang dia dan Zena lakukan sebelum dimarahi pak Dito.


"Kamu sejak kapan disini Ze?" tanya Vernando memastikan.


Takut-takut Zea melihat apa yang tadi mereka dua perbuat. Padahal jelas sekali tadi Zea melihat semuanya.


"Sejak 8 menit yang lalu." Jawab Zea enteng.


"Apa!" pekik Zena tanpa sadar.


"Jangan-jangan Zea melihat apa yang aku dan Nando lakukan." Batin Zena was-was.


"Kamu lihat apa tadi?"


"Lihat apa memangnya mas? Aku cuman lihat kamu sama Zena dimarahin pak Dito."


"Jelas sekali aku melihat kalian sedang berbuat mesum tidak tahu tempat, tidak tahu malu juga." Lanjut Zea dalam benaknya.


"Mas kita makan yuk, aku udah laper." Ajak Zea setelahnya yang membuat Vernando maupun Zena bernafas lega.


"Kamu mau ikut kita tidak Zen?" tanya Zea memastikan.


"Kalian berdua saja, aku ada jadwal syuting sebetar lagi. Aku duluan ya."


Zea menganggukan kepalanya kecil, setelah mendengar perkataan Zena. Setelah kepergian Zena, kini hanya tinggal Vernando dan istrinya.


"Ayo katanya mau makan." Ajak Vernando dengan nada selembut dan semanis mungkin.


"Cih! Dasar laki-laki buaya." Umpat Zea dalam benaknya.


"Ayo." Ajak Zea yang kembali memainkan perannya.


Seorang yang melihat semua kerjadian yang menipa Zea, Zena dan Vernando dari awal sampai akhir menatap bingung Zea dari kejauhan.


"Apakah semua ini memang rencananya, dia sudah tahu kalau suami dan kembarannya selingkuh." Gumun orang tersebut.

__ADS_1


"Dia cukup pintar juga."


__ADS_2