Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Selamat


__ADS_3

Bismillah.


Sampai di rumah sakit Zea dapat melihat pak Rayan yang sedang menunggu dokter. Zea dapat melihat wajah khawatir pak Rayan.


Ketiga orang itu yang baru saja sampai di rumah sakit langsung memdekati pak Rayan, dia duduk sendirian di kursi tunggu rumah sakit, sesekali pak Rayan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan setelahnya dia juga beberapa kali memejamkan kedu matanya.


Nyatanya bukan hanya Zea yang melihat guratan khawatir di wajah pak Rayan. Tika dan Dito pun sama, mereka dapat melihat dengan jelas wajah khawatir pak Rayan.


"Pak Rayan, bagimana keadaan papa saya?" tanya Zea.


Rayan langsung membuka kedua bola matanya yang masih terpejam mendengar suara Zea. Hal pertama yang Rayan lihat ialah wajah sembab Zea dan matanya terlihat memerah.


Tanpa basa-basi Rayan bangkit dan langsung memeluk Zea. "Kita doakan pak Wijaya baik-baik saja. Dokter sedang melakukan yang terbaik."


Deg!


Zea begitu kaget saat pak Rayan tiba-tiba saja memeluknya. Tapi tak butuh waktu lama, berada di dalam pelukan Rayan, Zea meraskan kenyamanan tersendiri. Tika dan Dito yang melihat hal itu tidak berani berkomentar apapun.


"Terima kasih sudah menolong papa saya pa." Ucap Zea setelah Rayan melepaskan pelukan mereka.


"Sama-sama, bukan hanya saya yang menolong pak Wijaya, tapi Dito dan beberapa orang lainnya."


Zea langsung menoleh pada Dito yang berdiri di sebelah Tika untuk mengucapkan terima kasih, pada tangan kanan pemilik smart enterthaiment itu.


"Terima kasih banyak pak Dito."


Dito mengangguk sopan pada Zea. Tidak tahu kenapa sekarang Dito menjadi sungkan pada artis terbaik smart enterthaiment itu. Apalagi jika melihat bosnya memperlakukan Zea berbeda.


20 menit mereka menunggu akhirnya pintu tempat pak Wijaya diperiksa terbuka. Memperlihatkan seorang dokter paruh baya yang terlihat sedikit lelah.


"Keluarga pasien." Ucap dokter Miska yang terlihat dari name tag beliau.


Mendengar dokter itu memanggil keluarga pak Wijaya. Zea langsung berdiri di depan sang dokter, diikuti oleh Rayan juga berdiri tepat di samping Zea.

__ADS_1


"Saya putrinya dok, bagaimana keadaan papa saya?"


Dokter Miska menghela nafas pelan. "Syukurlah papa anda selamat. Untung segera dilarikan ke rumah sakit. Jika tidak khawatir papa anda tidak terselamatkan." Jelas dokter.


Deg!


"Nggak, Zea nggak bakal biarin papa pergi secepat ini. Kejadian 7 bulan lalu tidak akan pernah terulang lagi. Syukurlah papa selamat. Aku tidak tahu jika pak Rayan tak menolong papa apa yang akan terjadi pada beliau." Batin Zea, tanpa sadar dia menatap Rayan yang berdiri di sebelahnya.


"Syukulah." Ucap Rayan dan Zea bersama.


"Apakah saya bisa menemui papa saya dok?" tanya Zea memastikan.


"Silahkan, kalau begitu saya permisi dulu."


Zea dan Rayan segera masuk ke dalam ruang pak Wijaya. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke runag VIP, Rayan sudah memesan ruangan tersebut.


"Papa, sekarang Zea tahu. Apa yang menyebabkan hati Zea gusar beberapa hari ini. Ternyata ketakutan Zea benar-benar terjadi papa sekarang berbaring lemas tak berdaya di rumah sakit. Tapi Zea bersyukur papa sudah baik-baik saja. Zea mohon jangan tinggalkan Zea pa." Ucapnya pelan.


"Jangan bersedih Ze, aku akan selalu ada di sampingmu dan menjaga kamu. Selama pak Wijaya belum siuman." Rayan tidak tahu kenapa kata-kata itu bisa meluncur mulus dari mulutnya.


Zea kembali menoleh pada Rayan yang berdiri disebelah tempat duduknya. Sebuah senyum Zea sunggingkan pada pak Rayan.


"Terima kasih pak Rayan."


"Bisakah kamu memanggil ku dengan sebutan Rayan saja Ze." Pinta Rayan masih setia menatap Zea.


"Tapi pak terkesan tidak sopan."


"Baiklah jangan panggil Rayan atau pun pak. Apa saja asal jangan dua kata itu. Jika dipanggil pak saya terasa sudah sangat tua." Gurau Rayan.


Zea sedikit tertawa mendengar gurauan Rayan. Rayan yang melihat Zea sudah tidak sedih lagi menghela nafas lega. Satu tangannya dengan sadar terangkat dan mengelus pucuk kepala Zea.


Sementara itu Dito dan Tika mengurus administrasi pembayaran rumah sakit pak Wijaya. Rayan lah yang menyuruhnya tanpa sepengatahun Zea.

__ADS_1


"Pak Rayan kok peduli banget ya sama Zea?" tanya Tika pada Dito. Dia kepo, kenapa pak Rayan bisa sebaik itu pada Zea.


Apakah selama ini tebakannya benar, jika pak Rayan menyukai Zea. Tapi sejak kapan, Tika sudah penasaran, namun orang yang ditanya tidak menghiraukan pertanyaan Zea. Dito malah fokus pada kegiatannya saja.


"Pak Dito, jawab dong!" kesel Tika menatap tajam Dito.


"Saya tidak tahu. Dan untuk apa kamu kepo dengan urusan orang lain." Jawab Dito datar sambil berlalu meninggalkan Tika.


"Yaak! Malah ditinggal!"


Kesal sekali Tika rasanya pada Dito. Andai saja bukan atasan mungkin saja, Tika sudah menghajar habis-habisan si Dito. Tika terpaksa menyusul Dito.


Di tempat lain, masih di kota bali. Tepatnya disebuah hotel ternama disana sepasang suami istri sedang menyaksikan berita yang vira dalam waktu sehari ini.


"Zen, bukankah itu pak Wijaya." Ucap Vernando terus fokus menatap layar tv.


Zena yang tadinya fokus dengan cemilan langsung menoleh pada layar tv. "Wah benar sekali mas."


Bukannya merasa sedih pak Wijaya mengalami kecelakaan Zena malah bersikap biasa saja. Bahkan wajahnya terlihat senang melihat pak Wijaya antara hidup dan mati. Sampai Zena maupun Vernando dikagetkan dengan kedatangan Rayan yang berusaha menolong pak Wijaya. Tak lama kemudian Dito ikut menyusul, apa yang disiarkan di tv benar-benar sama dengan kejadian yang aslinya.


"Cih, kenapa tidak mati saja situa bangka itu. Sekalian dia ikut meledak dengan mobilnya. Lagipula untuk apa pak Rayan dan pak Dito membantu papa." Kesal Zena.


Vernando melirik sekilas Zena. Kalau Vernando bukan ingin pak Wijaya mati. Dia malah berharap dirinya saat ini yang berada disisi pak Wijaya. Vernando yang menolong mantan papa mertuanya itu. Pasti Vernando yakin Zea akan sangat berterima kasih pada dirinya.


Sayang sekali hari ini Vernando tidak keluar dari kamar hotel sama sekali. Dia asyik menikmati istrinya. Ini saja kedua orang itu baru beranjak dari ranjang, jika Zena tidak merengek memelas pada Vernando.


"Kamu benar juga Zen, kenapa si tua bangka itu tidak mati sekalian." Sahut Vernando.


"Seharusnya kita datang ke rumah sakit mas." Usul Zena entah apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu.


"Sepertinya ide bangus Zen, ayo kita siap-siap." Ajak Vernando semangat.


Selain bisa melihat Zea, tentu saja Vernando bisa mencari muka di hadapan mantan istrinya itu. Agar Zea mengira dirinya begitu peduli dengan keadaan pak Wijaya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2