
Bimsillah.
Sampai di rumah pak Wijaya langsung disambut hangat oleh para pekerja yang bekerja dikediaman Wijaya. Mereka semua begitu merindukan majikan mereka yang begitu baik ini.
"Syukurlah pak Wijaya sudah sembuh." Ucap pak Kardi tukang kebun sekaligus tukang bersih-bersih kolam dan taman.
"Iya pak, saya juga merasa sangat bersyukur kembali diberikan kesehatan dan bisa berkumpul bersama putri saya lagi." Sahut pak Wijaya ramah.
"Kita masuk dulu ya pak Kardi." Ucap Zea sambil berlalu masuk.
"Iya non Zea."
Lalu pak Kardi melanjutkan kembali pekerjaannya yang belum selesai. Begitu juga dengan pekerja lainnya yang menyambut ramah kepulangan pak Wijaya dari rumah sakit setelah berapa bulan lamanya.
Zea, Tika dan pak Wijaya duduk di ruang tamu kediaman Wijaya untuk beristirahat sejenak. Sedangkan untuk barang-barang pak Wijaya sendiri ada pekerja yang akan membereskannya.
"Papa dengar Zena sudah melarikan Ze?" tanya pak Wijaya pada putrinya.
Sementara Zea dan Tika saling menatap satu sama lain saat mendapatkan pertanyaan tentang Zena oleh pak Wijaya.
"Benar pa, tapi papa tahu dari mana?"
__ADS_1
Cek! Pak Wijaya tersenyum pada putrinya. "Kamu lupa siapa papa sayang." Canda pak Wijaya.
"Tentu saja tidak tuan Wijaya, siapa yang akan melupakan anda walaupun berbaring di rumah sakit pun orang-orang tetap akan merasa sungkan pada anda." Sahut Zea ikut bercanda.
"Benar banget pa." Celetuk Tika yang membuat pak Wijaya dan Zea tertawa akhirnya.
'Jangan-jangan papa udah tau lagi kalau masalah anak yang dilahirkan Zena bukan akan Vernando.' Batin Zea curiga.
"Kamu sudah menjenguk Zena dan bayinya?" tanya pak Wijaya lagi.
Kali ini Tika dan Zea kembali saling menatap satu sama lain. Mereka tak menyangka pak Wijaya akan menanyakan hal ini, tapi mungkin pak Wijaya kasihan pada bayi malang yang baru saja Zena lahirkan.
Akhirnya Zea mengelenggkan kepala sebagai jawaban, sedangkan Tika hanya nyengir saja dia masa boda amat pada Zena itu. Mungkin sekalipun Zena mati Tika tidak akan pernah peduli.
"Makasih bi." Ucap Zea ramah, pelayan yang baru saja membawa minum untuk mereka mengangguk sopan.
"Tapi kayaknya kalau kita jengku Zena seruh deh Ze. Yuk besok kita jenguk dia. Nggak-nggak, maksud aku jenguk bayinya." Tidak tahu kenapa Tika jadi ingin melihat keadaan Zena sekarang.
Zea yang sedang menyeruput minumnya hampir tersedak oleh Tika. Karena ucapan perempuan itu sungguh diluar dugaan Zea.
"Boleh papa juga mau ikut." Bukan Zea yang menjawab melainkan pak Wijaya.
__ADS_1
"Papa serius?"
"Kenapa nggak Zea." Sahut pak Wijaya enteng.
"Oke fix besok kita jengku bayi Zena." Ujar Tika yang tiba-tiba saja jadi begitu antusias akan menjenguk Zena dan bayinya.
"Boleh, tapi Zea mau tanya sesuatu sama papa."
"Apa, Nak?" Pak Wijaya sedikit penasaran atas ucapan putrinya baru saja, rupanya bukan pak Wijaya saja yang penasaran tapi Tika juga.
"Papa jadi menuntut Zena dan Vernando kerana hukum?"
Pak Wijaya menghela nafas berat mendengar pertanyaan putrinya. Sedangkan Zea yang mengira papanya tidak terima atas pertanyaan yang dia lontarkan barusan mereka sedikit perih di hatinya, ternyata sang papa akan membebaskan Vernando dan Zena begitu saja.
"Muka kamu kenapa murung sayang, papa tidak mungkin melepaskan dua orang itu begitu saja tanpa mendapatkan balasan yang setimpal, tapi tidak sekarang. Karena Zena belum pulih dan Vernando masuk rumah sakit dalam keadana parah." Jelas pak Wijaya.
Beliau mendekati putrinya mengelus pucuk kepala Zea dengan sayang. "Papa tidak akan mengecewakanmu, Nak."
"Zea tahu itu, maaf reaksi Zea tadi membuat papa menjadi merasa bersalah." Sesalnya.
"Tidak apa." Pak Wijaya memeluk putrinya dengan sayang, beliau sudah berjanji pada diri sendiri akan selalu menjaga Zea.
__ADS_1
"Soswett...uluh..uluh..." Ucap Tika terharu sendiri melihat drama bapak dan anak didekatnya ini.
Cek! "Ngerusak momen aja kamu Tik, tau nggak sih." Kesel Zea, si Tika malah terkekeh.