
Bismillah.
"Zena!" teriak seorang laki-laki sorot matanya begitu tajam menatap pada Zena.
Zena baru saja keluar dari ruang ganti, dia menyerit bingung ketika sutradarnya menatapa dirinya tajam. Teriakan pak Nurman sampai membuat orang-orang menatap Zena.
"Iya pak, ada apa?" tanya Zena masih tidak sadar akan kesalahan yang dia buat.
Pak Nurman semakin menatap tajam Zena, dia paling tidak suka orang yang tak disiplin. Sepele memang tapi kedisiplinan harus diterapakan.
"Kamu masih bertanya, ada apa? Lihat jam berapa Zena! Jangan membuat semua orang menunggumu, kamu bukan ratu. Mau syuting atau digantikan dengan yang lain." Marah pak Nurman.
"Astaga!" kaget Zena saat melihat jam ditanganya sudah 10 menit dia terlambat harusnya bagian dirinya sudah dimulai dari tadi.
Vernando yang mendengar suara ribut-ribut segera keluar dari ruangannya, dia melihat apa beberapa orang yang sedang berdiri di depan ruangan itu sambil mengangguk sopan Zena pun melakukan hal sama dengan yang lainnya.
"Maaf pak saya salah."
"Cepat ke lokasi." Suruh pak Nurman berlalu meninggalkan Zena dengan wajah marah.
"Ada apa?" tanya Vernando memastikan sebelum Zena pergi.
"Aku terlambat mendatangi lokasi 10 menit yang lalu, pergi dulu mungkin sebentar lagi Zea akan menemuimu." Ucap Zena sambil berlalu.
Sepertinya tak mungkin Zea akan menemui Vernando, karena diadengan kali ini yang berperan Zena dan Zea.
Zena sudah sampai di tempat syuting, sutradara langsung menyuruh Zena untuk segara mulai melakukan adengan bagian dirinya.
"Action." Ucap sang sutradara.
Zea maupun Zena sudah berada diposisi mereka masing-masing. Zea masih mengingat adengan ini, dulu Zena sengaja menamparnya dengan begitu keras, sampai sudut bibirnya berdarah anehnya saat itu sang suami malah membela Zena. Karena sudut bibir Zea yang berdarah jadi pemeran utamanya diganti menjadi Zena. Saat itu juga Zena mengucapkan pada Zea dia tidak sengaja menampar Zea begitu keras. Bodohnya dulu Zea memaafkan Zena begitu saja, tanpa dia tahu kalau Zena melakukan itu semua untuk mengambil posisinya sebagai pemeran utama.
__ADS_1
"Kejadian itu tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya." Batin Zea sambil memaki saudara kembarnya sendiri di dalam hati.
Zea sudah terlalu muak dengan saudara kembarnya ini, bagimana bisa hidupnya 3 tahun dikhianati oleh saudara kembar dan suami sendiri sampai mati dalam keadaan sia-sia. Jika mengingat hal itu rasanya Zea ingin sekali mengamuk dan menampar berkali-kali wajah suami dan kembarannya. Mungkin rasanya tamparan saja tidak cukup untuk diberikan pada Zena dan Vernando.
"Aku benar-benar berada diatas pengkhianatan suami dan suadara kembarku sendiri." Batin Zea dalam benaknya.
Zea menghembuskan nafas kecil sambil menatap tersenyum pada Zena, senyum perempuan lugu yang Zea tujukan agar Zena menganggap dirinya memang benar-benar perempuan lugu yang gampang dibohongi dan dimanfaatkan.
"Baiklah Zea kita ikuti permainan mereka." Ujar Zea dalam benaknya.
"Woi Zea, Zena! Kalian berdua ayo mulai kenapa diam saja." Kesal sutradara mereka, sudah 5 menit menunggu tapi tidak ada pergerkan dari kedua kembaran itu.
"Maafkan saya." Sesal Zena karena dia yang seharunya memulai adengan ini.
"Cepatlah jangan sia-siakan waktu sehabis ini masih ada syuting lagi, posisikan tempat kalian masing-masing." Zea dan Zena sama-sama mengangguk lalu mengambil posisi masing-masing.
"Action."
Satu tangan Zena terangkat untuk menampar Zea, sayang tangan itu berheti di udara kala Zea mencegah tangan Zea agar tidak sampai mendarat di pipinya.
Zea tersenyum miring tanpa disadari oleh Zena. Tangan Zena yang masih dipegang oleh Zea dihempaskan begitu saja dengan kasar, sampai membuat Zena merintih kesakitan.
"Au...apa ini, kenapa Zea seakan benar-benar ingin mencelakaiku, apa dia sudah tau rencanaku. Tapi tidak mungkin." Batin Zena merasa tanganya sakit akibat cekelan kuat dari Zea.
"Jaga bicara kamu Mia, aku sama sekali tidak mengucapkan apapun pada Aldo, mungkin dia tahu sendiri seperti apa sikap pacarnya yang terlalu banyak melirik laki-laki. Kamu lupa jika saat ini tengah mengejar suami orang, aku tahu Mia, kamu dan Lio suami Dara berpacarankan? Aku punya bukti kamu dan Lio selingkuh dibelakanh Dara." Ucap Zea yang berperan sebagai Raya dengan sinis.
"Kamu!" tangan Zena kembali terangkat untuk menampar Zea, namun pergerakan Zena kalah cepat dengan Zea. Karena Zea sudah lebih dulu menampar pipinya cukup keras.
Plak!
Satu tamparan dari Zea mendarat sempurna di pipi mulus Zena, bahkan sampai meninggalkan bekas merah disana. Zena sampai memegangi pipinya yang terasa panasa akibat tamparan Zea.
__ADS_1
"Itu belum seberapa Zena, bahkan tidak bisa menyembuhkan sakit hatiku yang sudah dikhianati saudara kembar sendiri." Batin Zea sedikit puas dengan apa yang dia lakukan hari ini.
"Cut." Ucap pak Nurman sebagai sutradara merasa begitu pas dengan adengan yang dilakukan oleh Zea dan Zena. Keduanya melakukan dengan sempurna.
Tepuk tangan meriah diberikan untuk Zea dan Zena karena telah melakukan adengan syuting kali ini dengan begitu sempurna, inilah yang diinginkan sutradara. Apa yang mereka lakukan terlihat alami.
"Apa itu sakit." Cicit Zea merasa bersalah pada Zena, bahkan kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf Zen aku tidak sengaja, maaf jika kamu ingi menamparku kembali tampar saja." Sesal Zea merasa begitu bersalah, tapi di dalam hatinya dia sangat senang.
"Tidak Zena, tahan emosimu kalau kamu marah dengan Zea tandanya kamu menunjukan sifat aslimu padanya, aku harus tetap bersikap pura-pura baik dulu pasa Zea saat ini." Ucap Zena pada diri sendiri dalam benaknya, dia tidak mau rencananya hancur berantakan hanya karena sebuah tamparan keras dari Zea. Membuat rencananya dan Verndando jadi hancur berantakan.
"Tidak apa Zea, kamu melakukan syutingnya dengan baik."
"Maafkan aku sekali lagi Zen."
"Sudah tak apa lebih baik kita istrihat, waktunya kita berak."
"Baiklah kamu duluan saja, aku masih ada hal yang harus diurus dulu dengan Tika." Zena mengangguk.
Tanpa menunggu lama Zena langsung meninggalkan lokasi styuting, sekarang yang dia ingikan mencari keberadaan Vernando untuk melampiaskan semua kemarahannya pada Zea.
Brak!"
"Zea sialan! Berani sekali dia menamparku sekaras ini." Maki Zena, hanya ada dia dan Vernando di dalam ruangan itu.
Tanap mereka sadari Tika sudah memasang kamera tersembunyi di runagan tersebut, tentu saja Zea yang menuruh Tika.
"Ada apa, sayang?"
Zena menatap tajam Vernando. "Kamu tanya ada apa? Kamu tidak lihat apa yang dilakukan istrimu tadi hah? Aku mau kamu menamparnya juga untuk membalasakan rasa sakit di pipiku ini."
__ADS_1
"Baiklah." Sahut Vernando santai sambil mengelus pipi Zena tepat dibekas tamparan Zea tadi.