
Bismillah.
"Mas bener tadi kalian nggak papa dimarahin sama pak Dito?" tanya Zea sekali lagi pada sang suami.
"Nggak!"
Zea dan Vernando sedang menikmati makanan mereka yang tadi sempat mereka pesan sebelumnya. Zea masih menatap suaminya dengan tatapan lugu miliknya seperti biasa.
"Mas memangnya nggak mau cerita sama Zea." Ucap Zea lagi.
Vernando yang tadinya fokus pada makanan di atas meja, langsung menatap kearah istrinya lalu Vernando menatap tajam Zea. Sudah pusing karena masalah kerja, istrinya tidak bisa diam mulutnya membuat Vernando geram sendiri.
"Diam Zea!" ucap Vernando dengan sangat tegas.
Kedua bola mata Zea mulai berkaca-kaca ketika Vernando bernai membentaknya. Selama ini Vernando selalu bersikap mains pada Zea. Sampai membuat Zea tak akan pernah memikirkan keburukan suaminya itu. Untuk saat ini tentu saja Zea hanya melakukan akting agar bisa lebih meyakinkan suaminya kalau dia masih Zea yang dulu.
"Mas kamu kok bentak aku sih." Ucap Zea lirih.
Vernando yang tersadar kembali melihat wajah istrinya. Ketika melihat kedua bola mata Zea sudah berkaca-kaca membuat Vernando menyesali kecerobohaannya barusan, seharusnya dia tidak membentak Zea seperti barusan.
"Dasar menyusahkan." Batin Vernando, tapi dia harus membuat Zea tenang dan percaya padanya.
"Maaf sayang mas tidak bermaksud membentak kamu." Sesal Vernando.
Saat Vernando ingin memegang tangan Zea untuk menenangkan istrinya itu. Zea langsung menarik tanganya tidak ingin disentuh oleh sang suami.
"Kamu jahat mas!" ujar Zea semakin lirih suara yang keluar dari mulutnya, mungkin saat ini air mata Zea akan segera luluh lantah ketika itu juga.
"Sayang mas benaran minta maaf, tadi itu sama sekali nggak bermaksud bentak kamu." Bujuk Vernando lagi.
"Dasar laki-laki tidak tahu malu." Hardik Zea dalam benaknya.
Jika boleh jujur Zea sudah muak dengan suaminya. Ingin sekali rasanya Zea mengakhiri semua ini sekarang juga. Sayangnya dia tidak bisa, Zea ingin melihat kesengsaraan dan penyesalan Vernando dan Zena ulah perbuatan mereka sendiri.
Bisa dikatakan apa yang dilakukan Vernando dan Zena senjata makan tuan bukan.
__ADS_1
"Sayang udah ya jangan marah." Bujuk Vernando lagi masih berusaha menenangkan Zea.
Zea masih tak bergeming, dia ingin melihat sampai manan Vernando akan terus membujuk dirinya. Apalagi Zea melihat Zena masuk ke dalam restoran tempat dirinya dan Vernando makan siang saat ini.
"Wanita ini menyusahkan sekali, tapi aku masih membutuhkan dirinya." Geram Vernando.
"Sayang, mas janji tidak akan membentak kamu lagi." Sesal Vernando.
Dari pancaran kedua bola matanya Vernando berusaha meyakinkan Zea agar percaya pada dirinya.
"Janji mas?"
"Iya sayang mas janji, sekarang jangan marah lagi oke." Vernando mengusap pelan pucuk kepala Zea.
Zea mengangguk antusias, Vernando kira Zea bersikap seperti sekarang ini karena dia memperlaukan Zea dengan lembut. Tidak tahu saja Vernando jika Zea sengaja membuat panas Zena melihat Vernando memperlakukan dirinya dengan mesra.
"Zea kalian disini juga." Sapa Zena yang sudah berdiri di sebelah Zea dan Vernando.
Melihat Zena datang, Vernando langsung saja mengangkat tanganya agar tidak menyakiti hati Zena mungkin.
"Eh, nggak papa kok sayang." Jawab Vernando kelabakan, sesekali dia melirik pada Zena.
"Zen, sini duduk kita makan siang bareng." Ajak Zea.
Zena tak membantah tentu dia dengan senang hati menerima tawaran Zea.
...----------------...
Hari-hari berlalu Zea selalu memperhatikan kejadian setiap harinya apakah masih sama dengan kejadian 7 bulan sebelum dia mati sia-sia di tangan suami dan kembaran sendiri.
Sampai sekarang Zea merasa sangat bersyukur, karena papa yang begitu dia sayangi masih tetap hidup, jalan cerita kehidupan Zea sudah mulai berubah sedikit demi sedikit.
Anehnya Vernando dan Zena bukannya jera, karena mereka berdua sudah beberapa kali ketahuan selingkuh oleh Zea maupun di depan publik secara langsung. Tapi ada saja alasan keduanya untuk mengelak tuduhan perselingkuhan tersebut.
"Papa." Panggil Zea sambil memeluk lengan sang papa.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sayang? Sudah punya suami tapi malah masih manja dengan papa." Ucap pak Wijaya melihat tingkah putrinya.
"Andai papa tahu jika suamiku bukanlah orang baik untuk putri bungsunya ini. Bahkan Zena dan Nando tega mengkhianati aku." Jawab Zea tentu saja hanya di dalam benaknya saja.
"Namanya juga kangen sama papa sendiri masa nggak boleh sih pa. akhir-akhir ini kita jarang ketemu, jadwal syuting Zea sangat padat." Jelasnya.
"Oh iya pa, Zea baru ingat nanti malam smart enterthaiment akan menggelar acara FFI papa diundang tidak?" tanya Zea memastikan.
Bagimanapun juga papanya adalah salah satu pengusaha sukses yang menjalin kerja sama dengan smart enterthaiment, semua produk baju yang dipakai oleh para artis smart enterthaiment memang dari perusahaan Wijaya group. Sepertinya masalah ini Zena maupun mama Eli tidak tahu jika pak Wijaya menjalin kerja sama dengan perusahaan enterthaiment terbesar di kota mereka.
Bukan pak Wijaya mau merahasikan semua ini pada istrinya. Tapi pak Wijaya tahu seperti apa sifat serakah sang istri yang ingin memiliki semua sendiri. Mungkin saja sifa yang Zena miliki turuan dari sang mama.
"Papa jelas diundang dong. Apalagi pemilik smart enterthaiment selalu menjalai kerja sama dengan perusahaan Wijaya group."
"Nanti papa datang dengan siapa?" tanya Zea memastikan.
"Mamamu siapa lagi." Zea mengangguk paham setelahnya.
Zea dalam mengobrol bebas dengan sang papa, karena Zena dan mamanya sedang pergi jalan-jalan keluar. Sedangkan sang suami bilangnya ada urusan mendesak.
Zea tahu urusan mendesak apa yang dimaksud dengan Vernando. Tentu saja bertemu dengan Zena. Selama ini Zea baru mengetahui ternyata perselingkuhan Zena dan Vernando ada dukungan dari mamanya sendiri.
Tak bisa Zea bayangkan jika papanya dan pak Nurman, mertua Zea tahu seperti apa sifat asli Zena dan Vernando mungkin mereka akan marah besar. Mengingat saat acara jamuan satu bulan lalu saja pak Nurman begitu kecewa dengan putra semata wayangnya itu.
Di tempat lain.
"Ma, mama sudah punya rencana untuk menyingkirkan mereka?" tanya Zena penasara
"Seharusnya mama yang bertanya pada kalian berdua, apakah kalian sudah memiliki rencana untuk menyingkirkan Zea dan papa?"
"Mama, Zena kalian berdua tangan saja. Kita bisa memanfaatkan waktu acara FFI nanti malam untuk menyingkirkan mereka. Sekarang kita tinggal menyusun rencana untuk nanti malam." Ujar Vernando ikut nimbrung dalam obrolan ibu dan anak yang pikirannya sudah tercemar oleh hal-hal negatif.
Sampai tega ingin membunuh anak dan suami sendiri. Entah apa isi otak Zena, Vernando dan mama Eli, sampai tega berbuat begitu keji.
"Apa rencamu? kalau rencana kamu gagal Vernando, mama sendiri yang akan membongkar kebusukan dirimu." Tegas mama Eli.
__ADS_1