Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Pura-pura tidak tahu


__ADS_3

Bismillah.


Apa yang Zea inginkan akhirnya dapat juga, dia berhasil menyuruh seorang untuk merekam kegiatan yang dilakukan suaminya dan saudara kembarnya itu, orang itu juga berhasil mengambil beberapa foto yang membuat Zea pus. Ooh tidak, orang seperti mereka apakah masih pantas disebut suami dan saudara kembar? Zea harus memikirkan lagi dua hal ini.


Ketika Zea memiliki ide bagus di kepalanya untuk membalas perbuatan suami dan kembarannya dia tak sengaja melihat seorang fotografer yang sedang mengambil beberapa gambar di pantai bidadar. Zea segera menghampiri orang itu, dia tak butuh basa-basi Zea langsung mengatkan niatnya. Takdir sekaan berpihak pada Zea, fotografer itu langsung setuju atas permintaan Zea.


Dia berhasil mengambil beberap gambar Vernando dan Zena yang sedang bermesraan, di pinggir pantai. Hati Zea semakin senang kala Delon sang fotografer dadakan Zea berhasil memgambil gambar Zena dan Vernando dari dekat. Jelas sekali orang itu Zena bukan seperti terlihat dirinya.


"Akhirnya." Ucap Zea merasa senang.


"Terima kasih banyak Delon sudah membantu saya." Ujar Zea sambil memberikan upa pada Delon.


"Sama-sama." Jawab Delon tidak terlalu ramah.


Untungnya Delon tidak banyak bertanya kenapa Zea mengambil foto-foto orang yang sedang bermesraan. Mungkin Delon tahu jika suami Zea selingkuh atau memang dia bukan orang yang kepo dengan ke hidupan orang lain.


Setelah kepergian Delon sebuah ide kembali munculu di kepala Zea. Berbagai ide bercabang telah memenuhi kepala Zea. Dia menatap mama dan papanya yang sedang asyik menikamti pantai di temani buah kelapa.


Zena dan Vernando tidak sadar jika mereka berada di tempat yang sama dengan Zea, pak Wijaya dan mama Eli. Mereka hanya menikmati kegiatan mereka saja. Sampai suara Zea membuat kedua orang itu gelagepan sendiri.


"Papa!" pekik Zea.


Vernando maupun Zena langsung melepas pelukan mesra mereka kala mendengar teriakan Zea. Kedua orang itu sibuk mencari sumber suara, sedangkan Zea terus berjalan mendekati mama dan papanya sambil sesekali melirik pada Vernando dan Zena.


"Astaga sayang, kenapa mama dan papa juga istrimu berada disini." Ucap Zena takut.

__ADS_1


Tentu saja dia takut, takut ketahuan oleh papanya dan Zea tentang hubungannya bersama Vernando. Apalagi kalau papanya tahu dia pasti akan dihukum, bahkan bisa saja dirinya dicoret dari kk keluarga Wijaya. Kalau mamanya tentu saja Eli tahu hubungan menantu dan anak sulungnya itu, tapi sampai kapanpun jika di hadapan sang suami dia akan pura-pura tidak tahu apapun.


"Aku tidak tahu Zena, bukankah sedari tadi kita berdua disini saja. Aku bahkan belum mengabari Zea." Balas Vernando, dia juga takut ketahuan Zea.


"Lalu bagimana ini Nan? Apakah kita mengahampiri mereka atau tidak usah." Bingung Zena merasa kalut.


"Aku tidak tahu!" jawabnya acuh sambil bangkit dari tempat duduk mereka.


"Sayang mau kemana." Zena segera menyusul Vernando.


Vernando sama sekali tidak peduli mau Zena menyusulnya atau tidak, sekarang yang dia khawatrikan Zea melihat semuanya. Tapi kalau dipikir lagi tidak mungkin juga karena jarak mereka dengan Zea sedikit jauh dan di tempat mereka tadi ramai sekali orang tidak hanya dia dan Zena. Mana mungkin Zea melihat apa yang mereka lakukan. Begitulah pikir Vernando logikanya sedikit bekerja.


Zea yang sudah berada disebelah mama dan papanya tertawa puas di dalam hatinya setelah melihat Vernando pergi begitu saja meninggalkan Zena. Disusul Zena yang mengejer Vernando tidak ingin ditinggal.


"Pantas saja selami ini Nando tidak pernah ingin terlihat mesra di hadapan Zena. Ternyata bukan karena Zena masih jomblo tapi dia tidak mau Zena marah padanya. Astaga sudah sejauh mana hubungan mereka." Batin Zea tak habis pikir.


"Eh, iya pa." Jawabnya sambil nyengir.


"Kenapa teriak-teriak?"


"Nggak apa-apa sih Pa, cuaman pengen teriak aja mumpung di pantai." Jawab Zea apa adanya.


"Sudah duduk dulu Ze, mama baru saja pesan makanan untuk kita."


Zea mengangguk patuh saja, perutnya juga mulai terasa lapar. Karena hari sudah semakin siang. Tapi di dalam hatinya Zea masih penasaran apakah Zena dan Vernando sudah pulang atau belum.

__ADS_1


Waktu bergulir makana yang dipesan mama Eli sudah datang, ketiga orang itu segera menyantap makanannya. Kali ini Zea tidak curiga mama Eli menaruk racun atau tidak di makanan mereka. Jelas tidak karena apa yang dia dan papanya makan, mama Eli juga memakannya.


Zea senang bisa liburan di pantai bersama papanya, jika 7 bulan lalu rencana liburan ke pantai mereka gagal karena kematian sang papa, maka sekarang Zea tidak akan membiarkan kenangan pahit itu kembali terjadi lagi, tidak akan pernah!


Disaat mereka tengah asyik menyantap makanan mereka, seorang berpakaian rapi menghampiri mereka semua.


"Nando." Sapa pak Wijaya beliaulah yang pertama kali melihat kedatangan Vernando.


"Pa, Ma, Ze." Sapa Vernando pada mertua dan istrinya.


"Kok kamu tahu kita ada disini?" heran pak Wijaya.


"Iya pa, tadi pas pulang dari luar kota kata mama kalian semua mau pergi ke pantai. Nando udah kangen sama istri Nando." Ucapnya sambil menatap Zea menggoda.


Zea tersenyum manis pada suaminya seakan dia juga begitu merindukan sang suami. Tapi di dalam benaknya Zea merasa begitu jijik melihat tampang laki-laki yang berstatus suaminya itu.


"Astaga aku ingin muntah rasanya, sampai kapan aku harus terus bersama laki-laki tidak tahu diri ini." Keluh Zea.


Dia benar-benar merasa jijik pada Vernando. "Tidak Zea, demi membalas dendam pada mereka kamu harus bermain cantik dan pura-pura tidak tahu apa-apa." Batin Zea lagi.


Pak Wijaya terseyum bangga mendengar perkatan menantunya. "Kamu begitu merindukan Zea, sampai baru pulang dari luar kota saja rela menyusul dia sampai kesini Nan." Ucap pak Wijaya bangga.


Mendapatkan pujian dari papa mertuanya tentu saja Vernando bangga. "Ayolah pa jangan memuji laki-laki tidak tahu diri ini." Maki Zea, sayangnya dia saat ini hanya bisa memaki di dalam hati saja.


"Mas sini duduk." Zea menepuk tempat kosong disebelahnya dengan senang hati Vernando mengambil tempat duduk disebelahnya.

__ADS_1


Dari tempatnya berada Zena bisa melihat Vernando yang duduk disebelah Zea. Dia ingin marah tapi mau bagimana lagi, dirinya dan Vernando sudah membuat kesepakatan untuk tidak menemui Zea dan yang lainnya bersama agar tidak ada orang curiga tentang hubungan mereka. Keduanya memutuskan berjarak satu jam, baru Zena boleh bergabung bersama mereka. Tak lupa Vernando dan Zena sudah mengubah penampilan mereka yang tadinya pakaian pantai menjadi pakaian formal benar-benar seperti orang yang baru saja pulang dari luar kota.


"Aku harus menunggu 1 jam lagi begitu lama." Gerut Zena malas.


__ADS_2