
Bismillah.
Zea dan Rayan sudah kembali dari membeli buah, keduanya segera menuju runag pak Wijaya setelah kembali ke rumah sakit. Tapi saat akan masuk ke runag pak Wijaya, Rayan dan Zea melihat di depan sana ada keributan, sontak hal tersebut menyita perhatian keduanya.
"Ada apa sih ribut-ribut?"
"Mana aku tahu mas, lagian tumben banget deh mas Rayan kepon sama masalah orang. Biasanya juga acuh nggak peduli."
"Ini efek semenjak bareng kamu."
"Kok aku yang kena." Protes Zea tak terima.
"Udah yuk lihat aja." Rayan menarik lembut pergelang tangan Zea.
Zea hanya mampu mengikuti kemana Rayan membawanya. Lagipula Zea merasa herena kenapa sekarang Rayan jadi seorang yang kepo begini masalah orang lain..
Di depan sana banyak suster dan dokter juga keaman yang sedang berkumpul. Entah apa yang sudah terjadi, sehingga di rumah sakit besar ini bisa terjadi kekacauan yang tidak diingikan.
"Kamu mau bukti jika anak yang baru saja dilahirkan Zena itu anak ku!" Tantang Brain.
Deg!
Zea yang mendengar suara Brain tersentak kaget, bukankah dia menyuruh Brian datang nanti saat Zena dan Vernando sudah diseret ke dalam sel.
"Brain." Ucap Zea pelan sekali, tapi Rayan yang berdiri di samping Zea masih bisa mendengar perkataan perempuan di sebelahnya ini.
Rayan menatap heran Zea, dia berpikir apakah Zea mengenal laki-laki yang saat ini tengah berdebat dengan Vernando.
"Kamu mengenal laki-laki itu sayang?" bisik Rayan tepat di kuping Zea.
Karena kaget Zea langsung menoleh pada Rayan yang masih setia menatap dirinya dengan tatapan lembut. Tapi tatapan penasaran itu terpancar dengan jelas jika Rayan penasaran.
"Tidak, tapi aku tahu siapa dia." Jawab Zea jujur.
Mendengar jawaban dari Zea, Rayan menaikan sebelah alisnya. "Dia papa dari anak Zena yang asli."
"Serius, tapi waktu diacara malam FFI bukankah kamu mengatakan Zena hamil anak Vernando."
__ADS_1
"Iya, aku baru tahu fakta aslinya saat kandungan Zena memasuki umur 7 bulan. Brain sudah lama mencari keberadaan Zena tapi tak kunjung bertemu. Karena Zena selalu mencari cara agar Brain tidak pernah bertemu dengan dirinya lagi. Sampai Brain bertemu denganku dan menceritkan semuanya." Jelas Zea.
"Lalu kenapa Zena lebih memilih Vernando?"
"Aku juga tidak tahu, sudah ayo kita pergi. Papa pasti sudah menunggu lama. Semua ini gara-gara mas Rayan." Kesal Zea.
Kedua orang itu segera meninggalkan tempat keributan. Tapi baru saja Rayan dan Zea berbalik hendak seorang memanggil nama Zea. Sehingga mau tak mau Zea terpaksa membalikan badannya menatap kearah keributan kembali begitu juga dengan Rayan.
"Zea syukurlah kamu ada disini." Ucap Brain yang membuat bingung Vernando.
Hembusan nafas kasar terdengar jelas di kuping Rayan. Saat perempuannya menghebuskan nafas tak beraturan.
"Aku sudah katakan padamu Brain, jangan temui mereka sekarang, tapi kenapa kamu keras kepala. Aku sudah membantumu seterusnya urusan kamu, aku tidak peduli." Kesal Zea tak lupa dia menatap tajam Brain.
Laki-laki itu tak mampu berusara dia terlalu takut akan tatapan tajam Zea dan pria yang berdiri di sebelah Zea. Siapa lagi orangnya kalau bukan Rayan.
"Maskud kamu apa Ze?" kini giliran Vernando yang berusara sambil mentapa Zea dalam, tapi Zea sungguh tak menggubrisnya.
"Kamu sudah tahu jawabannya bukan Vernando dan kamu Brain aku tidak dapat membantumu lagi. Bukan aku sudah memperingatimu." Tegas Zea.
"Ayo sayang." Jawab Rayan sambil merangkul pinggal Zea erat, dia sengaja memanggil Zea dengan sebutan 'Sayang' dengan suara lantang, tak lupa Rayan juga melirik sinis Vernando.
"Arghk! Nggak, Zea nggak mungkin sama Rayan!" maki Vernando dalam benaknya.
Dia berteriak kencang di dalam hatinya. Wajahnya tanpak sangat frustasi karena banyak masalah yang menimpa dirinya. Semua masalah ini harus Vernando urus sendiri.
"Pak Brain dan pak Vernando saya mohon selesaikan masalah kalian jangan disini, bayi dan ibunya harus beristirahat. Pergi sekarang sebelum aku berbuat tidak baik!" usir seorang dokter laki-laki yang terlihat masih muda dan pawakan gagah.
"Siht! Sialan!" maki Vernando.
Dia pergi begitu saja entah kemana dari ruang persalinan sang istri. Vernando sudah sangat frustasi. Bahkan dia sampai tidak melihat keadaan anak dan istrinya. Apalagi kalau mengingat ada laki-laki lain yang mengaku sebagai ayah dari anaknya.
Di kamar tempat Zena diistirahatkan seorang suster terus memaksa Zena untuk memberi asi pada anaknya. Tapi perempuan anak satu itu seakan tidak peduli. Dia masa bodo amat.
"Bu tolong kasih asi pada bayinya." Pinta suster.
Zena menatap tajam seorang suster yang kini terus memaksanya untuk memberikan asi pada sang bayi.
__ADS_1
"Suster tuli hah! Aku bilang tidak ya tidak! Lagipula aku tidak pernah mengharapkan bayi itu lahir dari rahimku."
Deg!
Tentu saja suster itu tersentak kaget mendengar perkataan Zena. Bagaiman seorang ibu bisa begitu tega pada anaknya sendiri yan baru lahir padahal.
"Nyebut bu, bagimana pun bayi mungil ini darah dagin ibu!" tegas sang suster.
Menghadapi orang tua seperti Zena tentu saja harus tegas. Hilang sudah wajah suster yang tadi sangat ramah. Kini yang ada hanya tatapan benci pada wanita yang baru saja melahirkan.
"Lebih baik aku mengurus 5 ibu melahirkan sekaligus tapi menyayangi bayi mereka dari pada harus mengurus ibu satu ini tapi tidak punya hati.Membenci bayinya sendiri." Sindir suster.
"Janga mulut kamu ya!"
Suster itu segera pergi meninggalkan Zena sendiri. Bayinya dibawa ke tempat perkembangan bayi, karena butuh perkembangan.
Sementara itu di rumah sakit yang sama. Di dalam kamar rawat pak Wijaya. Kedua orang itu menemani pak Wijaya bersama-sama.
"Kalian lama sekali beli buahnya." Protes pa Wijaya saat sedang menggunyah buah apel yang sedang dikupas putrinya.
"Mas Rayan yang bikin lama pa." Jawab Zea.
"Kok aku sih sayang." Sahut Rayan tanpa malu memanggil Zea menggunakan sebutan 'sayang' di depan pak Wijaya.
Blus!
Muka Zea langsung memerah tak bisa dicegah mendengar Rayan memanggilnya sayang di depan papa sendiri.
"Astaga mas Rayan! Kenapa panggil sayang di depan papa sih kan malu. Kalau papa mikir yang nggak-nggak tentang Zea gimana." Pikir Zea dalam benaknya.
Pak Wijaya malah menggulung senyum mendengar Rayan memanggil putrinya dengan sebutan sayang.
"Muka kamu kok merah nak?" tanya pak Wijaya memastikan.
"Adu papa kok malah dibahasi sih." Keluh Zea, hanya mampu dia utarakan di dalam benaknya saja.
"Nggak papa kok Zea pa, Zea baik-baik aja." Jawabnya gugup, Zea sampai tak berani nantap Rayan.
__ADS_1