Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Salah orang


__ADS_3

Bismillah.


Zea masuk ke dalam tempat acara dengan begitu anggun, disamping kananya berdiri sang papa yang akan selalu menjaga putri tunggalnya itu. Sadar atau tidak di samping kiri Zea berdiri Rayan, seperti biasa laki-laki itu berjalan dengan penuh khasrima dan amat menawan, tapi jangan lupakan tatapan tahamnya yang tak pernah hilang.


Melihat Zea begitu cantik malam ini, Vernando menyesal beribu-ribu kali telah menyia-niyakan berlian hanya untuk sebuah kerikil tak ternilai, jika hanya satu bukuan setumpuk gunung.


"Cantik sekali kamu Zea. Aku pastikan kamu akan kembali bersamaku. Tunggu saja moment itu datang. Dan aku tidak akan pernah melepasmu lagi." Batin Vernando sangat percaya diri sekali.


"Tapi kenapa Rayan bisa berdiri di sebelah Zea? Apakah laki-laki itu berencana ingin mendekati istriku." Lanjut Vernando lagi tak terima, sungguh tidak tahu posisi, tidak tahu diri!.


Jelas-jelas dia sudah bercerai dengan Zea masih ingin mengakui Zea istrinya. Apalagi malam ini dia akan menikah dengan perempuan yang jelas tengah hamil anaknya.


"Ah, apakah acaranya sudah dimulai pa?" tanya Zea memastikan.


"Sebentar lagi, kalian carilah tempat duduk yang nyaman. Papa ingin menemui pak Nurman terlebih dahulu." Ucap pak Wijaya pada orang-orang yang masuk bersama beliau tadi.


"Baik pa." Patuh Zea, sedangkan yang lainnya mengangguk, untuk mengiakan ucapan pak Wijaya.


"Tika ayo kita cari makan." Ajak Zea menarik tangan Tika yang ternyata milik Rayan, dia tak melihat kearah siapapun. Malah asal tarik saja.


"Zea, lah ngajakin aku cari makan kok yang ditarik pak Rayan." Protes Tika, tapi sayang Zea sedang asik dengan dirinya sendiri.


Lalu Tika menatap pada orang yang berdiri disebelahnya. Tika menatap tajam Dito, sedari tadi selalu ada didekat tuannya.


"Lagian ngapain sih, bos kamu itu nempel sama Zea." Protes Tika.


"Hmmm."


"Astaga! Tidak punya mulut rupanya." Sindir Tika berlalu pergi meninggalkan Dito dengan wajah sebal.


Disisi lain Zea asyik berceletot, dia belum sadar kalau orang yang sedari tadi dia ajak bicara bukan Tika, tapi bosnya dan semua tingkah Zea itu tak lepas dari tatapan Vernando yang memperlihatkan wajah tak sukanya melihat Zea dekat dengan laki-laki lain.


"Tika ayo makan, aku laper banget. Padahal tadi siang udah makan banyak. Ayo Ti, mumung banyak makan gratis." Zea terkekeh dengan tingkahnya sendiri.


Tanpa Rayan sadari, dia juga ikut terkekeh kecil melihat tingkah Zea yang selama ini belum pernah dia lihat.


"Tika ayo makan, biasanya kamu lebih parah dari aku." Ucap Zea, sambil kembali menarik tangan Tika.

__ADS_1


"Tunggu Ti, kok tangan kamu lebih besar dari biasanya dan sedikit kasar." Zea baru sadar jika sedari tadi ada yang aneh dengan tangan Tika.


Bahkan Tika yang cerewat itu seketika jadi pendiam saat Zea berbicara banyak hal.


"Hmmm." Dehem Rayan akhirnya.


"Suara ini," ucap Zea ragu sambil memutar tubuhnya menghadap belakang untuk melihat siapa orang yang sedari tadi dia ajak mengobrol.


"Pak Rayan!" pekik Zea, untung saja Rayan segera menutup mulut Zea dengan telapak tanganya, jika tidak mungkin sekarang mereka akan menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Seet, jangan teriak." Tegur Rayan menarik tanganya dengan lembut.


"Astaga, pak Rayan sejak kapan ada disebelah saya." Protes Zea.


"Kenapa kamu malah bertanya? bukankah kamu sendiri yang menarikku sedari tadi." Sahut Rayan enteng.


"Tapi kenapa pak Rayan nggak bilang dari tadi. Jelaskan kalau aku tadi ngajaknya Tika." Rayan hanya mengangkat bahunya acuh.


Sampai terdengar pengumuman jika sebentar lagi acara akan dimulai.


"Ayo kita cari tempat duduk." Kini giliran Rayan yang menarik lembut tangan Zea, anehnya Zea tak membrontak dari Rayan.


"Nando jangan lihat perempuan sialan itu." Zena merajuk tak terima.


"Ah, kamu benar lagipula dalam hitungan menit kita akan menjadi sepasang suami istri." Sahut Vernando tersadar jika ada Zena disebelahnya.


"Awas saja kalau kamu ketahuan merhatiin Zea lagi."


"Nggak! Siapa juga yang merhatiin dia." Elak Vernando.


"Baguslah, lagipula dia terlihat seperti seorang penggoda. Tidak tahu malu menggoda bosnya sendiri." Ketus Zena.


"Wow! Sepertinya ada yang sedang membicarkan diri sendiri. Bahkan bukan bos lagi yang dia goda. Tapi ipar sendiri." Sahut Tika yang tak sengaja mendengar kata-kata menyakitkan dari Zena.


Zena hanya mampu mengepalkan tanganya mendengar perkataan Tika, dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang.


"Acara dimulai." Ucap seorang yang memandu acara malam ini.

__ADS_1


Terlihat pak Wijaya dan pak Nurman berjalan kearah calon penggantin. Pak Nurman dengan wajah kecewanya sedangkan pak Wijaya dengan tatapan biasa saja. Tidak ada yang istimewa malam ini.


"Kita mulai saja." Tegas pak Wijaya.


Acara pernikahan Zena dan Vernando akhirnya berjalan dengan sangat lancar juga. Tapi Zea sungguh sama sekali tidak menghiraukan acara malam ini.


"Aku kenyang sekali." Ucap Zea sambil mengelus pertunya. "Rasanya perutku mau meldeka."


Rayan memang berada di sebelah Zea hanya mampu menggelengkan kepala. Bagimana perutnya tidak mau meledak coba, kalau hampir semua makanan di acara itu sudah dia cicipi semua. Kata cicip untuk Zea tidak cukup satu kali, tapi berkali-kali.


"Makanya kalau makan kira-kira."


"Suka-suka dong pak." Ketus Zea.


Zea yang sedari tadi mencari keberadaan Tika akhirnya melihat juga batang hidupnya muncul bersama dengan Dito, mereka dari arah penggantin.


"Dari mana saja kamu Tika!"


"Biasa habis membasmi tikus yang tidak tahu malu. Lihatlah setelah ini akan menjadi seperti apa rumah tangga mereka. Aku sangat penasaran." Ucap Tika semangat.


Zea menatap heran Dito senjenak setelah segera mengajak Tika duduk. Dito pun ikut duduk disebelah Tika.


"Kamu tidak ingin menemui penggantinya?" tanya Rayan, jika Zea tidak mau. Rayan yakin sekali jika Zea masin mencinati Vernando. Mungkin Rayan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Nanti dulu, masih banyak orang aku malas berdesak-desakan." Sahut Zea.


Entah sejak kapan Zea dan Rayan sudah bisa mengobrol sesantai ini. "Aku akan menemaimu?"


Zea mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Rayan, menemani dirinya? Kenapa harus menemani dirinya lagipula Zea bisa sendiri. Begitu pikir Zea.


"Pak Rayan tidak perlu menemai saya, saya bisa sendiri. Bukankan pak Rayan hadir diacara ini karena yang menikah mantan artis smart enterthamient.


"Tidak juga."


"Lalu?" tanya Zea penasaran.


"Ada satu hal yang membuatku datang ke tempat ini. Tempat yang seharusnya aku jaga dengan ketat, karena...."

__ADS_1


Dito dan Tika hanya menjadi pendengar setia untuk Rayan dan Zea. Yang mereka rasa mungkin hanya ada mereka berdua.


__ADS_2