
Bismillah.
"Besok aku sama papa mau jenguk Zena, mas." Zea memberitahu pada kekasihnya itu.
Rayan yang tengah sibuk dengan secangkir kopi di tanganya langsung menatap Zea, kepulan asap dari kopi tersebut tidak mengganggu Rayan sama sekali, dia seakan menikmati asap ringan yang keluar dari dalam kopi.
"Sama Tika juga sih." Lanjut Zea lagi, tapi dia sama sekali tak memperhatikan Rayan karena Zea sibuk dengan gawainya.
Cek! Rayan berdecak tidak sebal sih, hanya heran saja dengan yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
"Kalau ngomong lihat orangnya Zea, kebiasan buruk kamu dengan aku jangan dibawa-bawa sama orang lain." Celetuk Tika santai.
Setelah mengatakan hal tersebut pada Zea, Tika kembali melanjutkan kegiatannya yang sedang berpesat bersama berbagai sneck, biskuit, roti dan cemilan, seperti berbagai varian basreng, biskuit timtam atau roti roma yang selalu ada disetiap toples rumah biasanya.
Barulah Zea melihat kearah Rayan, setelah mendapatkan teguran dari sahabatnya itu. Sebenarnya mereka berdua hampir sebeleas dua belas sama sih kelakuannya.
"Heheh, mas Rayan kenapa lihatin Zea begitu?" tanya Zea sambil nyengir.
Sedari tadi Rayan tak menjawab ucapan Zea, membuat sang empuhnya bingung sendiri.
"Katanya nggak mau nengok."
"Papa yang ajakin, dipakas juga sama Tika."
__ADS_1
Tika akhinya menjadi kambing hitam untuk sahabatnya itu, walaupun memang betul kenyataan bahwa tadi sebelum Rayan datang memang Tika yang memaksa Zea untuk ikut.
"Kalau begitu besok juga mas ikut." Putus Rayan.
"Sama Dito juga nggak mas?" Zea bertanya pada Rayan tapi tatapanya beralih pada Tika yang pura-pura sibuk sendiri.
Padahal asilnya Tika sedang kepo, apakah Dito akan ikut atau tidak. Jujur Tika penasaran walaupun berusaha untuk cuek saja.
"Mungkin." Sahut Rayan apa adanya.
Hmmm...
Zea puar-pura terbatuk untuk menggoda sahabatnya itu. "Ada yang bakal ketemu nih." Celetuk Zea semakin gencar menggoda Tika.
Mendengar suara pertunya bunyi Tika merasa bersyukur, dia merasa perutnya sudah menyelamatkan dirinya dari Zea.
"Heheh, aku lapar kalian lanjut saja. Aku mau cari makan dulu di dapur." Cepat Tika kabur dari hadapan Zea dan Rayan.
...----------------...
Keesokan harinya sesuai apa yang pak Wijaya katakan, jika hari ini mereka akan menjenguk Zena dan bayinya. Sekarang di sinilah pak Wijaya bersama Zea, Tika, Rayan dan Dito berada di rumah sakit tempat pak Wijaya saat dirawat.
"Papa akan melihat Zena, kalian ada yang mau ikut?" tanya pak Wijaya memastikan.
__ADS_1
"Nanti Zea nyusul pa, Zea mau lihat bayinya dulu." Sahut Zea saat papanya menatap dirinya.
"Baiklah, papa akan menunggu di dalam."
Anggukan dari kepala Zea membuat pak Wijaya akhirnya masuk ke dalam kamar rawat Zena. Ternyata di dalam kamar rawat itu ada seorang laki-laki yang tengah menjaga Zena, tapi dia bukan Vernando. Melainkan sosok laki-laki asing bagi pak Wijaya.
Wajah laki-laki itu yang telihat lebih tegas seperti menceriakan wajah seorang pemimpin. Berbeda sekali dengan wajah Vernando yang lebih terkesan seperti orang lugu dan polos.
Hmmm...
Pak Wijaya berdehem cukup keras, karena dua orang yang tengah saling diam satu sama lain ini tidak menyadari kehadiran dirinya.
"Papa." Ucap Zea.
"Papa?" ulang pak Wijaya seakan tidak terima mantan putrinya memanggil dirinya dengan sebutan papa.
"Ah, maaf. Maksud saya pak Wijaya."
Mendengar nama Wijaya disebut, Brain langsung berdiri dari duduknya.
"Benarkah pak Wijaya. Pemimpin Wijaya grup yang sangat terkenal itu?"
"Kamu bisa saja anak muda."
__ADS_1