
Bismillah.
Sampai di rumah sakit Vernando dan Zena segera mencari ruang rawat pak Wijaya. Keduanya pura-pura memasang wajah khawatir untuk menarik simpati Zea.
Sayang sekali kedua orang itu tidak tahu, kalau Zea tahu sifat mereka seperti apa sampai keakar-akarnya. Zea masih diam tak membalas lagi Vernando dengan Zena. Karena dia ingin membuat Zena maupun Vernando jatuh dalam penyesalan yang paling dalam. Penyesalan yang tak pernah dapat dilupakan oleh kedua orang itu.
"Wah, wah, wah. Ada angin apa orang tidak tahu diri bisa sampai kesini." Sindir Tika.
Kebetulan sekali Tika dan Dito berpapasan dengan Vernando dan Zena.
"Apa sih maksud kamu Tika! Aku sama mas Nando kesini mau lihat keadaan papa."
Sepertinya Tika tak lagi menggubris Zena. Karena setelah menyindir suami istri itu Tika segera masuk ke ruang rawat pak Wijaya bersama Dito.
"Mas ini kesempatan kita bukan buat mengambil alih perusahaan si tua bangka itu."
"Wah, kamu benar sayang. Ayo kita cari simpati dulu pada Zea." Ajak Vernanado.
"Setelah aku bisa menguasai harta keluarga Wijaya aku akan menendangmu pergi jauh dari kehidupanku Zena. Aku akan kembali dengan istri tercintaku." Batin Vernando sudah menyusun rencana liciknya.
Vernando saat masuk ke dalam ruang rawat pak Wijaya terlihat mengandeng tangan Zena mesra. Tentu saja tujuannya hanya satu membuat Zea cemburu. Entah kenapa laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu tidak sadar, jika mantan istrinya tak lagi menyukai dirinya. Tapi dengan pedenya Vernando masih sangat yakin kalau Zea sangat mencintai dirinya.
"Aku penasaran seperti apa reaksi Zea saat melihat kehadiran kita."
"Aku juga sayang." Sahut Vernando, sebuah senyum menyeringai terbit disudut bibir Vernando.
"Aku datang melihat keadaanmu dan papa sayang. Semoga kamu tidak sakit hati melihat aku begitu mesra dengan Zena. Semua ini aku lakukan agar membuatmu cemburu dan kamu meminta kembali padaku." Lagi-lagi Vernando berucap dalam benaknya sendiri.
Tidak tahu seberapa besar keyakinan Vernando, jika Zea masih mengharapkan dirinya.
Tak butuh waktu lama lagi, keduanya membuka pintu ruang rawat VIP pak Wijaya tanpa permisi ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sementara itu Zea dan yang lainnya masih berada di dalam. Semua orang menoleh pada pintu yang terbuka, kecuali Zea yang masih asyik bersandar di dada Rayan. Entah sejak kapan kedua orang itu menjadi sedekati ini.
Pasalnya tadi saat Tika dan Dito masuk posisi Zea sudah bersandar di dada Rayan. Dengan tangan produser muda itu mengelus-elus lembut pucuk kepala Zea.
"Siapa mas?" tanya Zea pada Rayan, tanpa mengalihkan pandangannya dari pak Wijaya yang masih betah menutup matanya.
__ADS_1
"Apa ini!" kesal Vernando dalam hatinya. Bukan Zea yang merasa cemburu karena dirinya dan Zena.
Tapi malah dia sendiri yang cemburu melihat Zea bersandar di dada Rayan yang tertutup baju. Lalu apakah dia tak salah dengar. Baru saja Zea memanggil Rayan dengan sebutan mas! Sepertinya pendengaran Vernando sudah rusak.
Laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Ingin sekali Vernando marah saat ini juga, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Tamu tak diundang." Sahut Rayan masih setia mengusap-usap rambut Zea dengan lembut.
"Apa ini, dasar perempuan gatel." Maki Zena tidak terima.
Bayangkan saja siapa yang tidak ingin dekat dengan seorang Rayan, produser muda sekaligus pemilik smart enterthaiment. Bahkan selama ini kabar yang beredar Rayan tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan sekarang dia melihat Rayan dan Zea berada diposisi yang sangat menjengkelkan bagi Zena.
Pendengarnya juga masih bagus sekali. Tadi dia tidak salah mendengar kalau Zea menyebut pak Rayan dengan sebutan mas.
'Astaga, apakah perempuan itu menggoda pak Rayan dengan tubuhnya.' Batin Zena menatap benci Zea.
Zena sungguh tidak sadar siapa yang disini sangat menjijikan. Bukankah dia sendiri yang menggoda suami adik kembarnya sendiri menggunakan tubuh miliknya.
Hmm....
Dehem Vernando untuk bersikap biasa saja. Dia terus menarik tangan Zena agar mereka bisa berhadapan dengan Zea.
Zea mengangkat satu alisnya malas, bahkan dia tak bergerak sedikitpun dari dada Rayan, Zea malah semakin bersandar disana. Rayan yang melihatnya tentu senang.
"Atas dasar apa? Bukankah kalian senang papa terbaring lemah di atas brankar rumah sakit."
"Apa maksud kamu Zea. Aku dan Zena datang baik-baik kesini untuk melihat keadaan papa."
"Lalu kenapa kalian mendatangiku? Papa ada di atas brankar, tapi ingat awas kalau kalian berani berbuat macam-macam. Kalian aku pastikan akan menyesal."
'Perempuan ini sombong sekali.' Kesal Zena.
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja Ze, aku juga baru tahu pak Rayan begitu dekat denganmu. Apakah tubuhmu begitu indah." Sindir Zena.
"Hahahaha."
Ternyata bukan hanya Zea yang tertawa akan ucapan yang keluar dari mulut Zena. Tapi Tika, gadis itu bahkan terpingkal-pingkal sampai membuat heran Dito yang masih berada disebelahnya.
__ADS_1
"Astaga, ada orang tidak tahu malu sedang membicarakan dirinya sendiri. Hahaha." Ucap Tika disela tawanya.
Zea hanya cukup diam, pasti sudah ada orang lain yang bakal membuat Zena terasa malu. Pasti ada orang lain yang akan membela dirinya
"Jangan sopan kamu ya Tika, dia istri saya." Dito menatap tajam Vernando.
Niat hati ingin membuat Zea cemburu dan marah malah dirinya dan Zena yang dipermalukan.
"Zena dan Vernando, dari pada kalian ngurusin hal yang nggak bakal pernah kalian dapat mending kalian urus bayi kalian itu. Aku jadi kasihan kalau dia lahir mengetahui sifat ibu dan bapaknya seperti iblis tidak tahu malu." Ucap Tika terang-terangan.
Zea sudah puas menonton bahkan sekarang dia dapat melihat Zena dan Vernando malu. Wajah keduanya sudah memerah menahan malu.
"Mas aku ingin dua orang ini pergi dan tidak menunggu ketenangan papa." Ujar Zea sambil menodongkan kepalanya menatap Rayan, Rayan juga balas menatap intens Zea.
"Cium dulu sini." Tujuk Rayan pada pipinya.
Zea tersenyum licik melirik Vernando dan Zea. "Aku akan memanfaatkan hal ini. Memangnya aku perempuan bodoh apa Zena, Vernando! Aku tahu tujuan kalian datang kesini." Batin Zea.
Cup!
Rayan tak menyangka Zea benar-benar mencium dirinya. Bahkan dia sempat mematung sejenak, semua orang di dalam ruangan itu juga tak percaya dengan aksi Zea.
"Mas ayo katanya mau ngusir dua tikus menjijikan ini." Rengek Zea membuat Rayan sadar.
Rayan tersenyum pada Zea.
Cup!
Rayan juga membalas ciuman Zea, sampai membuta Zea tak percaya. Sebelum Zea protes Rayan lebih dulu bicara pada Dito.
"Dito panggilan orang-orang kita yang ada di luar."
"Baik bos!"
Tak butuh waktu lama setelah Dito melaksanakan apa yang disuruh oleh Rayan. Zena dan Vernando diusir secara paksa dari ruang rawat pak Wijaya.
"Terima kasih." Ucap Zea sambil memeluk tulus Rayan.
__ADS_1
Hari ini tepat 4 bulan Vernando dan Zea bercerai.