Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Rahasia besar


__ADS_3

Bismillah.


"Zea, apa-apaan kamu membentak kakak kamu sendiri." Tegur mama Eli.


Melihat putri kesayangnya dipermalukan di depan banyak orang mama Eli langsung pasang badan. Padahal Zea juga putrinya.


Mungkin ibu dua anak itu sudah lupa kalau dia sebenarnya memiliki dua putri malah yang dianggap hanya satu saja.


"Baguslah mama juga turun tangan langsung, biar semuanya cepat selesai malam ini juga. Maafkan Zea ma, Zea terpasa melakukan ini hal ini pada mama." Batin Zea.


Ada perasaan bersalah dalam hati Zea, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya pilihan lain selain ikut membuat sang mama jera.


"Aku tidak membentak Zena ma, dia duluan yang mengibarkan bendera peran padaku." Tegas Zea tak mau disalahkan tentu saja.


Sekarang, sekuat apapun ketiga orang yang ada di hadapanya ini melawan dirinya. Zea sangat yakin dirinya akan tetap menjadi pemenang.


"Ayo Zea semangat, lawan mereka yang sudah mengkhianatimu selama ini jangan takut. Masalah bukti aku punya semuanya." Ucap Tika pelan.


Sebenarnya dia paling bersemangat melihat Zea segar memberi pelajaran pada Vernando dan Zena. Tika sama sekali tidak tahu jika mama Eli juga berada dibelakang Zena dan Vernando.


"Sudah cukup kamu mengalami sakit hati selama ini Zea. Segera akhir semuanya." Ucap Tika mengebu.


Tanpa tidak sadari jika sedari tadi Rayan penasaran dengan perkataan yang keluar dari mulut manajer dari Zea ini. Kebetulan sekali Tika berdiri disebelah Dito yang berhadapan langsung dengan dirinya.


Pak Nurman juga sudah berada didekat Zea dan yang lainnya. Semua orang yang mendengar perkatan terakhir Tika langsung menoleh kearahnya.


"Kenapa kalian pada menatap saja seperti itu." Ujar Tika kikuk, tentu saja dia sedikit bingung.


"Perhatikan kata-katamu jika tidak ingin semua orang menatap dirimu." Bisik Dito pada Tika.

__ADS_1


Membuat sang empuhnya langsung menatap Dito, tangan kanan dari peresiden pemilik smart enterthaiment. Tika malah menatap tajam Dito, karena sudah lancang berbisik didekat telinganya menurut Tika itu tidak sopan.


"Aku tahu, tidak butuh ajaran dari dirimu." Sahut Tika sewot yang membuat Dito melotot tak percaya atas respon yang diberikan oleh Tika.


Rayan yang menyaksikan perdebatan kecil Tika dan Dito saranya ingin tertawa ngakak, tapi sebisa mungkin dia tahan karena kondisinya sedang tidak memungkinkan. lagipula tak mungkin juga dia tertawa terbahak-bahak di depan banyak orang tentu saja akan membuat wibawanya turun.


"Maksud Nak Tika apa ya bicara seperti itu?" tanya pak Wijaya tanpa emosi.


"Maaf pak saya tidak bisa menjawab pertanyaan bapak. Mungkin bapak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan bapak dengan segera." Jawab Tika sopan.


Pak Wijaya dan Tika memang sudah saling mengenal, Zea memperkenalkan sendiri Tika pada papanya. Sehingga pak Wijaya tahu seperti apa Tika, apa yang Tika katakan tidak mungkin sebuah kebohongan.


"Jaga bicara kamu ya!" kesel Zena menatap tajam Tika.


Sayangnya Tika sama sekali tidak tahut pada Zena. Kini keadaan sudah terbalik, tadinya Zea yang menjadi bisikan-bisikan tak enak dari pada para tamu yang datang. Sekarang malah Zena dan Vernando yang menjadi sasarannya.


Tak pernah Vernando sangka malam ini akan menjadi hal yang amat sangat buruk untuk dirinya bukan malah menjadi malam keberhasialnya untuk mendapatkan seluruh harta keluarga Wijaya.


"Zea maksud kamu apa? Aku ini suami kamu, jelas kamu tadi yang memeluk pak Rayan. Kenapa sekarang kamu malah menyalahkan aku dan Zena." Bantah Vernando masih tetap pada pendiriannya.


"Apa yang Vernando katakan benar Zea, kenapa kamu malah menuduh sembarangan kakak dan suami kamu sendiri."


Mama Eli tidak sadar jika saat ini posisi mereka sedang terancam. Beliau malah terus membela Zena dan Vernando. Jika saja mama Eli tidak terus membela kedua orang itu mungkin saja Zea akan berfikir lagi untuk tidak mempermalukan mamanya di depan semua orang.


Zea tahu rahasia besar yang selama ini mama Eli sembunyikan dari papa dan dirinya. Zea mengetahui fakta mengejutkan itu beberapa hari yang lalu, saat dia sedang mencari informasi rencana apa yang akan Vernando, Zena serta mama Eli lakukan.


Falback on.


"Sayang kamu tenang saja sebentar lagi semua harta warisan keluarga Wijaya akan jatuh ditangan kita." Suara mama Eli membuat Zea semakin penasaran sedang mengobrol dengan siapa. Beliau sampai memanggil orang tersebut sayang. Zea tahu orang itu bukan Zena maupun sang papa.

__ADS_1


Zea akhirnya berusaha mencari celah di restoran tempat mama Eli bertemu seorang. Agar Zea tahu orang itu siapa. Betapa kagetnya Zea saat melihat sang mama sedang bermesraan dengan laki-laki lain.


Seorang laki-laki yang termasuk dekat dengan keluarga Wijaya. Dia om Burhan, masih memiliki status saudara dengan sang papa. Zea menajamkan kupingnya untuk mendengar semua yang sedang dibicarkan mama Eli dan om Burhan.


"Selama bertahun-tahun ini apakah Wijaya tidak curgia, jika kamu sebenarnya buka Eli? Kamu adalah Putri istriku." Burhan tertawa sinis sekaan sedang meremahkan pak Wijaya.


Mendengar perkataan om Burhan membuat Zea menutup mulutnya tak percaya tentang fakat yang baru saja dia dengar.


"Lalu dimana mama?" tanya Zea pada diri sendiri.


"Wijaya itu terlalu bodoh, gampang sekali dimanfaatkan, jelas istrinya sudah meninggal saat melahirkan putri tidak berguna mereka. Lalu dia juga dengan bodohnya percaya jika aku istrinya dan memiliki anak kembar. Hanya karena wajahku dan Eli mirip, karena aku kakaknya membuat Wijaya percaya saja."


"Bagus dong sayang kalau Wijaya percaya semua ini, kita tidak perlu susah-susah untuk merahasikan dimana istrinya yang jelas sudah kita kubur di pemakaman umun dengan tidak layak."


Burhan dan Putri tertawa terbahak-bahak bersama setelahnya, seakan mereka sedang menang loter secara cuma-cuma.


Deg!


Kaki Zea terasa lemas setelah mendengar semua fakata dari omnya. Pantas saja selama ini sang mama sangat membenci dirinya dan ingin selalu membunuhnya. Zea juga baru sadar, pantas saja selama ini dia kembar dengan Zena, tapi tidak pernah merasa ikatan batin sama sekali dengan Zena.


Ternyata Zena adalah Fia putri dari om Burhan dan tante mama Eli, alias tante Putri. Mereka sudah membuat muka Fia agar bisa begitu mirip dengan Zea. Waktu kecil Zena dan Zea dipisahkan. Semua itu Zea dengar dari mulut perempuan yang selama ini telah dia anggap ibu kandungnya.


23 tahun Zea dan papanya hidup dalam kebohongan besar.


"Aku saja sudah tak berdaya dibohongi seperti ini selama puluhan tahun. Lalu bagimana dengan perasaan papa." Keluh Zea sudah tak sanggup lagi berdiri.


"Butuh bantuan?" tanya seorang yang melihat Zea sudah linglung.


"Pak Rayan."

__ADS_1


follback off


__ADS_2