
Bismillah.
Trik matahari sekaan sedang bersahabat pada bumi saat ini. Panasanya yang tidak terlalu menyengat, membuat manusia tak terlalu banyak mengeluarkan keluhan dari mulut mereka.
Hembusan angin yang menerpa wajah dengan lembut membuat siapa saja terpesona, dengan sebuah benda yang tak kasat mata namun dapat dirasakan kesejukannya.
Mood Zea yang tadinya baik-baik saja kini berangsur-angsur menjadi rusak. Karena adanya tamu yang datang tak diundang. Pulang pun tak akan pernah diantar. Senyum Zea yang tadinya menggebang sempura luntur saat itu juga, digantikan dengan umpatan yang terlontar tanpa beraturan di dalam hatinya.
"Astaga." Keluhan itu keluar dari mulut Zea.
"Kita cari tempat lain saja yuk Ze." Ajak Tika masih setia berdiri di sebelah Zea. Tatapan Tika tak berubah ramah sedikitpun pada dua manusia yang datang entah dari mana.
"Boleh." Sahut Zea akhirnya, perdebatan sedang dia hindari.
Sudah dikatan jika Zea pergi berlibur untuk menikmati waktu tenangnya. Bukan untuk beradu argumen dengan orang yang tidak penting untuk dia ladeni.
"Aku ikut beb." Ucap Renal tidak ingin ditinggak sendirian.
"Kamu ngobrol aja dulu sama teman lama Ren, nanti nyusul gimana?" usul Zea.
Lalu Renal beralih menatap Zena dan Vernando yang masih setia berdiri di depan mereka dengan senyum yang tidak sedikitpun luntur disana.
"Boleh juga, anggap aja kita reuni. Tapi kamu juga harus ikut gimana beb." Usul Renal yang membuat senyum Zena semakin berkembang.
"Astaga, kalau aku menolak bisa besar kepala dua orang ini." Batin Zea, tak menyangka usulannya untuk membuat Renal bersama Zena dan Vernando malah menarik dirinya juga untuk bersama dua orang yang paling malas Zea lihat.
"Boleh, Tika juga akan ikut dengan kita."
Tika menatap Zea tak percaya, tapi setelah mendapatkan sebuah tatapan dari Zea membuat dirinya mengerti. Lima orang itu segera mencari tempat untuk acara reuni dadakan mereka.
Vernando sedari tadi terus melirik kearah Zea, padahal Zea tak sedikitpun melirik kearahnya. Zea hanya acuh saja. Tidak ingin ada kekacauan yang terjadi hari ini.
"Apakah kamu sudah benar-benar sudah melupakan ku Zea. Apakah kamu secapat itu melupakan kenangan indah kita selama 3 tahun ini." Vernando merasa prihatin pada dirinya sendiri.
Mereka memutuskan untuk reuni disebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka tadi.
Tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Zea, dia terlalu malas untuk membuka mulutnya. Apalagi membahas hal yang menurutnya tidak penting sama sekali, sampai matanya menangkap seorang yang pernah membantunya dulu.
__ADS_1
"Delon." Panggil Zea yang membuat obrolan orang-orang satu meja dengan Zea jadi berhenti, lalu mereka mencari siapa sosok Delon yang baru saja Zea panggil.
Delon merasa namanya dipanggil hanya menatap Zea dengan penuh tanya. Sampai dia melihat Zea melambaikan tangannya. Akhirnya Delon memutuskan untuk mendekat ke meja Zea dan teman-temannya.
"Siapa Ze?" tanya Tika memastikan, Vernando, Zena dan Renal juga penasaran siapa Delon.
"Temen aku, dulu dia pernah bantu aku sih, cuman pernah ketemu sekali. Tapi orangnya baik kok. yah, walaupun tidak terlalu ramah." Jawab Zea.
Delon sudah berdiri didekat meja Zea. "Hai Del, nggak nyangka kita bakal ketemu lagi." Sapa Zea.
"Siapa ya?" tanya Delon yang membuat Zena tertawa.
"Ah, wajar kamu lupa Del. Kita hanya pernah ketemu sekali di pantai Bidadari waktu itu." Terang Zea.
Delon langsung teringat pada Zea, dan juga apa yang Zea suruh pada dirinya untuk memotret kedua orang yang kini juga berada satu meja dengan Zea.
Delon mengangkat satu alisnya saat melihat Zena dan Vernando. "Jadi mereka si-"
"Ah, kamu pasti sudah melihat siaran di tv dan berita yang tersebar luas disosmedkan." Ucap Zea sebelum Delon menyelesaikan perkataannya.
"Jadi berita itu benar?"
"Apakah tidak mengganggu?" tanya Delon.
"Tidak."
Zea dan Delon asyik mengobrol seakan hanya ada mereka berdua saja di tempat itu.
"Kenalkan ini Tika temanku, yang lain kamu kenalan sendiri saja."
Tika dan Delon pun berkenalan, hanya sekedar berkenalan saja. Karen Delon bukan tipe laki-laki yang banyak bicara.
"Beb siapa dia?" tanya Renal.
"Kenalan sendirikan bisa."
Tadinya Zena mengira reuni dadakan ini akan membuat Zea seakan tak dianggap tidak ada. Tapi dia salah, kini malah dirinya dan Vernando yang seakan dianggap patung. Yang membuat Zena lebih iri lagi Delon laki-laki berkasriman dan dingin membuat Zena ingin mengenal laki-laki itu, sayangnya dia sudah bersuami.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo pa, papa udah sampai mana?" tanya Zea memastikan.
Siang ini Zea mendapat kabar jika papanya sudah menuju bali untuk melakukan bisnis. Pak Wijaya langsung menghubungi putrinya saat berangkat.
Beliau sudah menelepon Zea sedari pagi tapi tidak ada jawaban dari putri tunggalnya. Karena Zea tidur dengan begitu pulas.
Akibat kemarin dia habis puas melihat tempat-tempat indah dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Walaupun ada Zena dan Vernando tidak membuat mood Zea yang sudah membaik kembali hancur.
Dari seberang telepon pak Wijaya menjawab pertanyaan putrinya.
"Sekitar 20 menit lagi sampai sayang." Jawab pak Wijaya membuat Zea mengangguk, dia tetap menganggukkan kepalanya pelan walaupun sang papa tidak melihat.
Zea tidak tahu kenapa tiba-tiba saja perasaan aneh sekaan tanpa permisi menguasai ruang hatinya.
"Ada apa ini." Gumun Zea pelan.
Sedangkan di dalam mobil yang pak Wijaya tumpangi, tanpa sadar rem mobil blong dan di depan sana ada sebuah mobil truk yang melaju dengan kencang, ditambah lagi jalan raya yang lumayan ramai.
"Pak, ada apa?" tanya pak Wijaya kaget, kala melihat supir mobil kehilangan keseimbangan.
Sambungan telepon Zea dan sang papa masih terhubung membuat perempuan itu kaget mendengar suara papanya yang panik. Rara aneh yang tadi masuk kedalam hati Zea semakin besar saja.
"Papa, kenapa pa?" tanya Zea tapi tidak ada jawaban dari sang papa.
Zea malah mendengar suara supir dan papanya yang terlihat semakin panik dari telefon.
"Remnya blong pak." Jawab supir masih berusaha menguasai mobil yang dikendarainya.
"Pak di depan ramai sekeli dan ada mobil truk di depan sana yang melaju kencang. Lebih baik banting stir kekiri pak." Usul pak Wijaya.
"Tapi pak, itu bahaya." Jawab supir ragu.
"Lebih bahaya lagi jika mobil ini terus melaju korbannya bukan hanya kita nanti pak, ayo pak banting stir kiri saja."
Pak supir tidak punya pilihan lain selain menuruti usulan dari pak Wijaya. Karena yang pak Wijaya katakan benar banyak orang yang akan celaka jika mereka tidak bersedia mengambil resiko.
__ADS_1
Brak!
"Papa!" teriak Zea dari telefon, dia sedari tadi sudah panik.