
Bismillah.
"Mas, kita mau kemana sih. Tadikan papa bilang suruh beli buah. Bukan disini jalannya." Ucap Zea lembut.
Setelah keluar dari rumah sakit tadi Zea tak berani menatap Rayan. Zea dapat melihat ada kemarahan yang terpancar dari kedua sorot mata laki-laki penuh wibawa itu.
Hmmm.
Rayan masih tetap diam tak menjawab satupun pertanyaan Zea. Dia hanya sedang meredakan amarahnya yang tiba-tiba saja muncul saat Zea mengatakan Zea akan kembali pada mantan suaminya itu. Sungguh Rayan tak terima.
Oke, Jika Zea nantinya buka jodoh Rayan, dia akan baik-baik saja mungkin. Tapi satu, Rayan tidak akan ikhlas jika laki-laki itu Vernando! Rayan benar-benar tidak akan pernah ikhlas.
"Mas, jawab dong jangan diem aja. Oke masalah di rumah sakit tadi aku minta maaf." Ucap Zea lagi.
Zea tidak tahu kenapa kalau Rayan sedang marah seperti ini pada dirinya. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Melihat Rayan yang masih tetap diam dan tidak menjawab satupun pertanyaannya Zea hanya mampu menghela nafas pasrah.
Dia tak lagi menatap Rayan, Zea menatap keluar kaca mobilnya menikmati titikan air hujan yang turun satu persatu dalam waktu tak dapat terhitung. Gerimis memang mulai turun membasahi kota.
Rayan melirik sekilas pada Zea, lalu dia kembali fokus ke jalan. "Maafkan aku, selama ini kita terjabak dalam perasaan masing-masing. Aku tidak mengatakan yang sebenarnyanya karena aku takut perasaanmu tidak untuku." Batin Rayan.
Setelah menyusuri jalan kota sekitar 30 menit akhirnya Rayan memberhentikan mobilnya di tempat yang sama sekali tidak Zea kenali.
"Ayo turun." Ajak Rayan lembut, bahkan dia sampai mengelus pucuk kepala Zea sayang.
Diperlakukan seperti biasanya oleh Rayan membuat Zea langsung menatap laki-laki itu.
"Kok nangis." Kaget Rayan saat melihat kedua pipi Zea sudah lembab karena air mata.
"Mas Rayan jahat, ish!" keselnya.
Rayan mengelap sisa air mata Zea di kedua pipinya. Dia memperlakukan Zea dengan begitu lembut.
"Maaf, kita turun sekarang oke. Ada yang ingin mas katakan." Zea mengangguk patuh.
Rayan turun lebih dulu diikuti Zea setelah. Dia harus menyelesaikan sesuatu dulu. Barulah Zea ikut menyusul Rayan turun.
Rayan menggadeng lembut tangan Zea. Zea hanya mengikuti kemana Rayan akan membawa dirinya. Sampai tiba-tiba Rayan memberhentikan langkah mereka.
"Wow! Bagus banget!" kaget Zea tak percara.
__ADS_1
Bagimana tidak tempat yang sekarang mereka datangi disulap menjadi tempat yang begitu indah dan memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Sangat indan dan romantis, di tengah-tengahnya terdapat sebuah tempat yang bisa digunakan untuk duduk dan makan disana sungguh suasana yang begitu romantis.
"Ayo kita kesana." Ajak Rayan, lagi-lagi Zea hanya mengangguk patuh.
Sampai Zea merasa Rayan kembali memberhentikan langkah mereka tepat di tengah-tegah hamparan bunga dan dekorasi lili yang begitu megah. Perlahan Rayan melepaskan genggaman tangannya dengan Zea. Lalu dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Zea hanya memperhatikan apa yang Rayan lakukan.
Entah sejak kapan saat ini jantung Zea sudah berdisko ria. Saat dirinya dan Rayan berada di tengah-tengah tempat yang begitu indah ini.
"Mas Rayan mau ngapian sih." Gerut Zea dalam benaknya.
Bahkan dia tidak punya keberanian untuk bertanya langsung pada laki-laki tampan di hadapannya ini. Zea semakin dibuat bingung ketika Rayan tiba-tiba saja duduk seperti seorang yang sedang menembak atau juga melamar kekasihnya.
"Zea Putri Amanda, aku tidak tahu perasaan ini kapan munculnya. Tapi kamu adalah wanita pertama yang membuat hatiku terus berdebar tak menentu. Kamu juga wanita pertama yang berhasil membuatku selalu ingin mengingat dirinya." Ucap Rayan penuh pesona.
Zea masih diam, dia merasa diantar sadar atau tidak sadar. Apalagi dapat menatap wajah tampan Rayan dari atas.
"Zea maukah kamu menikah denganku?"
Deg!
Jantung Zea sungguh tidak aman. Ini lebih dari pertama kali dia dan Vernando menikah.
Dia tidak sadar kalau sekarang Rayan tengah menunggu jawaban dari dirinya. Zea malah asik berkelana entah kemana pikirannya itu.
"Ah, aku ingat sekarang. Waktu di pantai Bidadari saat bertemu pak Rayan." Ucap Zea dalam benaknya.
"Jadi Zea, apakah kamu menerima lamaranku?"
"Astaga aku melupakan pak Rayan." Zea menepuk pundaknya sendiri.
"Tapi-" Zea ragu untuk meneruskan kalimatnya. Pasalnya dia masih tahu diri kalau pak Rayan adalah seorang pejaka lah dirinya hanya seorang janda.
"Tapi apa?" tanya Rayan penasaran.
"Aku malu pak, aku ini seorang janda masa bersading dengan bapak laki-laki penuh wibawa dan banyak wanita di luar sana yang pantas untuk bapak. Banyak gadis yang pantas untuk pak Rayan, bukan seorang janda seperti saya."
Zea tidak sadar jika dia sudah memanggil Rayan dengan sebutan pak kembali bukan lagi mas.
"Aku tidak peduli kata orang! Toh untuk apa juga mendengarkan kata-kata orang lain. Lagipula aku hanya mencintaimu tidak ada yang lain. Mau kamu janda atau masih gadis, ingat kata orang cinta itu buta. Aku masih tau batasku, cinta pada siapa saja itu boleh, asal tidak merusak dan tak merebutnya dari Tuhannya."
__ADS_1
"Kalau kamu masih ragu, baiklah aku tidak butuh jawaban darimu. Setuju atau tidak setuju aku akan tetap menikah denganmu."
langsung saja Rayan memakaikan cicinya dijari manis Zea. Zea terperanjat kaget atas aksi Rayan.
"Satu lagi, aku sudah bilang jangan panggil aku pak!" ucap Rayan setelah selesai memakaikan cicin dijari manis Zea.
"Kok mas Rayan maksa."
"Aku tidak peduli, sejak kamu dan laki-laki biadab itu berpisah. Sejak hari itu juga sudah menjadi milikmu."
"Kok gitu, kok gantur." Sewot Zea.
"Aku tidak peduli. Sekarang ayo kita duduk, aku lelah berdiri terus."
Zea terkekeh mendengar perkataan Rayan.
Cup!
Deg!
Zea langsung mematung saat merasakan bibir Rayan mendarat sempurna di keningnya.
"I love you." Bisik Rayan.
Wajah Zea jadi memanas dan mereka atas ucapan dan tidakan Rayan baru saja.
"Ayo duduk, ada yang ingin aku tunjukan padamu."
Saking malu dan syok atas perlakukan Rayan, Zea sampai tidak sadar kalau mereka sudah berteduh dari gerimis.
"Astaga aku baru ingat pesanan papa." Batin Zea, meruntuti kecerobohan sendiri.
"Mas, tapikan papa pesan pada kita untuk membelikan buah." Ucap Zea.
Sebenarnya pak Wijaya menyuruh Zea membelikan buah untuk memberi waktu pada Rayan agar bisa mengungkap perasaannya pada Zea. Sejujurnya pak Wijaya sudah siuman dari tadi malam dan Rayan mengatakan tentang perasaannya untuk Zea pada pak Wijaya.
"Aku tahu, setelah ini kita akan mencari buahnya Sayang."
Blus!
__ADS_1
"Astaga Zea, kenapa kamu jadi seperti ini." Batinya malu.