Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Penganggu


__ADS_3

Bismillah.


Pagi-pagi sekali Zea sudah menikmati secangkir kopi sambil menatap pemandangan di bali lewat jendela kamar hotel tempatnya beristirahat selama berada di bali.


Sesekali Zea terlihat sedang fokus dengan hpnya. Tika yang baru saja membersihkan diri segera menghampiri Zea sambil membawa secangkir teh untuk dia menikmati waktu paginya.


"Pagi Ze." Sapa Tika ikut duduk di sebelah Zea.


"Pagi juga Tik." Balas Zea sambil menoleh pada Tika sejenak lalu dia kembali menatap pemandangan di luar hotel.


"Tik hari ini mau ikut aku nggak?"


"Kemana?" tanya Tika balik sambil menyeruput tehnya yang masih mengeluarkan asap tipis.


"Kurang tau Renal yang ngajakin pergi."


"Maksudnya sama cowok yang kita temuin kemarin Ze?" Zea hanya mengangguk untuk menjawab perkataan Tika.


Tika menghembuskan nafas pelan, lalu dia ikut menatap keluar hotel sama seperti yang Zea lakukan. "Boleh." Jawab Tika setelahnya.


Kruk...kruk....kruk....


Bunyi perut Zea membuat perempuan itu memegangi perutnya sambil nyengir di hadapan Tika.


"Cari makan yuk, laper." Rengek Zea sambil tersenyum pada Tika.


"Katanya mau pergi sama Renal."


"Nanti agak siangan katanya." Sahut Zea.


"Oke, kalau gitu sekarang kita cari makan." Putus Tika.


Kedua wanita itu akhirnya segera keluar dari hotel untuk mengisi perut mereka. Tidak jauh-jauh Zea dan Tika hanya mencari makan yang disedikan di hotel itu saja.


Tak butuh waktu lama kini keduanya sudah duduk dihadapan makanan yang baru saja disiapkan oleh pelayan hotel. Zea maupun Tika sengera menyantap makanan mereka.


Ternyata saat mereka masih makan juga Zea masih fokus pada hpnya. Sedari tadi dia tak melepaskan hpnya, sampai membuat Tika heran, karena tidak biasanya Zea terlalu sering dengan hp.


"Si Renal sebentar lagi mau kesini." Ucap Zea setelah menyelesaikan makannya.


Sekarang Tika tahu sejak tadi Zea sedang berbalas pesan dengan siapa.


"Katanya siang." Balas Tika sambil mengelap sisa makanya dengan tisu.


Zea mengangkat bahunya acuh, tanda tidak tahu kenapa Renal jadi berbuah pikiran. Tapi hari memang terlihat sudah semakin siang.

__ADS_1


20 menit berlalu akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Sorry nunggu lama beb." Ucap Renal pada Zea, lalu dia beralih menatap Tika pula.


"Kamu juga mau ikut kita?" tanya Renal memastikan.


"Kan tadi aku udah ngomong Ren, kalau. Tika mau ikut."


"Sensi amat Zea, aku cuman basa-basi dong kali."


Zea mendengus kesal mendengar ucapan Renal. "Tapi nada bicara kamu kalau basa-basi yang pas dong." Ketus Zea.


Renal akhirnya mengalah dia tidak lagi melanjutkan perdebatannya dengan Zea. Lalu dia tersenyum ramah pada Tika.


"Udah ayo jadi nggak perginya." Ucap Zea.


"Jadi, yuk." Ajak Renal pada Tika dan Zea.


Keduanya mengikuti langkah Renal yang pergi meninggalkan restoran tempat Zea dan Tika mengisi perut mereka barusan.


Waktu bergulir akhirnya mereka sampai di tempat yang Renal maksud.


"Bagus sekali tempatnya, kenapa aku baru tahu jika ada tempat sebagus ini di bali." Komentar Zea. Tika membenarkan apa yang Zea katakan, dia juga baru tahu kalau ada tempat yang sangat bagus.


"Syukurlah kalau kalian berdua senang." Ucap Renal sambil tersenyum.


Ketiganya pun asik menikmati suasana di tempat yang mereka kunjungi. Melihat Zea dan Tika asyik menikmati suasana di tempat tersebut, Renal berinisiatif untuk membelikan minum.


"Aku tinggal dulu beli minum." Ujar Renal, Zea maupun Tika mengangguk saja.


"Tinggal beberapa hari lagi aku berada di bali, sebelum aku pulang. Aku harus mengatakan perasaanku pada Zea terlebih dahulu." Ucap Renal sambil berlalu.


Niatnya hari ini dia akan mengucapkan perasaannya pada Zea selama ini. Tapi karena ada Tika mungkin Renal tak akan mengucapkan sekarang. Renal sudah lama memiliki rasa suka pada Zea sejak beberap kali pertemuan mereka di kampus 3 tahun lalu.


"Harus banget ya teman Zea itu ikut." Gerut Renal, sebenarnya dia sedikit kelas. Karena Tika rencananya gagal.


Padahal dia ingin menikmati momen bersama Zea di tempat indah ini.


"Huh!" Renal hanya mampu menghebuskan nafas kasar, setelah membeli minum untuk mereka bertiga Renal segera kembali.


Bertepatan saat itu seorang perempuan dan laki-laki menghampiri Tika dan Zea yang sedang asyik menikmati canda tawaan mereka.


"Eh Zea kita bisa ketemu disini rupanya." Ucap Zena yang sedang bergelayut mesra dengan Vernando.


Tika memutar bola matanya malas saat melihat kehadiran Zena dan Vernando di tempat mereka.

__ADS_1


"Orang-orang tidak tahu diri ini, kenapa bisa disini." Sindir Tika yang sukses membuat wajah Zena tampak kesal.


Vernando juga tak malu memamerkan kemesraannya dengan Zena di depan Zea maupun Tika. Sebenarnya Vernando melakukan hal itu untuk membuat Zea merasa cemburu.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini adik ipar." Ucap Vernando tersenyum manis pada Zea.


"Mohon maaf saya tidak punya kakak, saya hanya anak tunggal!" tegas Zea melirik sinis pada Vernando dan Zena.


Tika menahan tawanya melihat wajah Zena yang berubah merah. Kala Zea mengatakan dia hanya anak tunggal.


"Aah maaf saya lupa Ze." Sahut Vernando.


Zea sebenarnya tak seberapa menggubris ucapan Vernando dan Zea yang seakan tengah ingin menjatuhkan dirinya. Disaat mereka sedang berbincang Renal yang tadinya sempat memperhatikan keempat orang itu sejenak memutuskan untuk segera menghampiri mereka.


"Beb minumnya." Ujar Renal sambil menyodorkan sebotol air pada Zea.


Lalu Renal beralih pada Tika. "Buat kamu," Tika menerima dengan senang hati.


"Beb, apakah laki-laki ini pacar Zea." Batin Vernando menatap tak suka pada Renal, sedangkan Zena terlihat sedikit kaget saat melihat Renal.


"Renal Putra Anata kan ini orang, kenapa bisa disini sih." Batin Zena juga, ikut berbicara di dalam hatinya sendiri.


"Siapa mereka beb?" tanya Renal pada Zea, tapi Zea tak menjawab. Dia yakin Zena kenal dengan laki-laki di depannya ini.


"Bukakah kamu Zena?" ucap Renal memastikan.


"Rupanya kamu masih mengenaliku Renal, lama tak cumpa kamu terlihat semakin berbeda saja." Ucap Zena.


"Lalu laki-laki ini siapa?" tanya Renal pada Zena.


"Kenalkan saya mantan suami Zea." Ucap Vernando bangga.


"Sekarang dia suamiku." Lanjut Zena membuat Renal mengerutkan dahinya.


Renal beralih menatap Zea untuk meminta penjelasan. Padahal banyak berita tersebar di stasiun tv tentang kandansnya hubungan Zea dan Vernando. Juga perselingkuhan Zena dan Vernando, tapi anehnya Renal tidak tahu sama sekali berita tersebut.


"Beb kamu udah nikah kok nggak bilang-bilang sama aku sih." Kesel Renal.


Melihat muka marah Renal membuat Vernando senang. Dia kira Zea dan Renal yang dikira sepasang kekasih akan ribut. padahal keduanya tidak memiliki hubungan apapun.


JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YA GUSY.


LIKE MANA LIKE, KOMEN MANA KOMENNYA DONG, KASIH AUTOR SARAN DAN KERITIK.


KARYA INI BANYAK TYPO MAKLUM YA GUS, KADANG BURU-BURU NGETIKNYA, TAPI BAKAL REVISI KOK TENANG AJA.

__ADS_1


BAB SELANJUTNYA KONFIL AKAN MUNCUL!


__ADS_2