Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Kebenaran


__ADS_3

Bismillah.


"Baiklah, jadi apa yang ingin mas Rayan tujukan pada ku?" tanya Zea memastikan.


"Ada yang aneh dikehidupan ini." Ucap Rayan yang sama sekali tidak dimengerti oleh Zea.


"Hah! maksud mas Rayan?"


"Sekarang tanggal 20 Juli 2022, tapi mas punya sebuah rekam tanggal 2 agustus 2022. Dan rekaman itu tentang kematianmu."


Deg!


Zea tersentak kaget, tentu saja dia mengingat betul tanggal, hari, bulan bahkan tahun apa saat Zena dan Vernando membunuhnya. Tapi kenapa Rayan bisa tahu semua ini bahkan memiliki rekaman tentang kematian dirinya.


"Mas Rayan ngomong apa sih."


Zea masih berusaha menyembunyikan keberana tentang dirinya pada Rayan. Dia belum siap cerita pada siapapun. Mungkin lebih tepatnya Zea takut dikira gila.


"Kamu tidak percaya, dengar ini. Mas juga awalnya bingung, tapi rekaman yang ada di hp mas ini semakin membuat bingung." Jelas Rayan.


Lalu dia segera mengeluarkan hpnya, Rayan langsung saja memutar rekaman pada tanggal 2 agustus saat itu.


Rayan baru menemukan rekaman itu satu minggu yang lalu. Karena tidak memiliki jawaban atas apa yang dia punya membuat Raya ingin bertanya langsung pada Zea, karena perempuan di hadapannya ini adalah seorang korban.


"Mas rasa semuanya seperti nyata."


"Bagimana aku menjelaskannya." Ucap Zea pada akhirnya.


Dia berpikir mungkin sekarang Zea akan menceritakan semuanya pada Rayan. Dia tidak akan peduli lagi mau Rayan percaya atau tidak dengan semua ceritanya nanti.


"Bisa mulai dari mana saja senyaman kamu." Sahut Rayan.


"Baiklah, bisa kita mulai makan dulu. Aku sudah lapar mas."


Rayan tersentak, dia baru ingat kalau perempuan di depannya ini adalah orang yang suka sekali makan.

__ADS_1


"Oke, asalkan nanti kamu jelaskan semuanya."


Zea mengangguk setuju saja. Setelah itu kedua ingsan tersebut menikmati makan mereka diiringi sedikit candaan oleh keduanya.


"Terima kasih sudah menjaga Zea dan papa. Disaat papa sedang tidak berdaya." Ucap Zea sungguh-sungguh disela-sela makan mereka.


Rayan menatap dalam manik Zea, sebuah tatapan lembut yang mampu membuat Zea merasakan kenyaman tersendiri dari pantulan kedua netra Rayan.


"Aku akan selalu mengaja mu, seperti pak Wijaya menjaga dirimu." Sahut Rayan begitu lembut.


"Tapi mas Rayan memang tidak punya kekasih ya. Kok ngelamar Zea sih, terus perempuan yang waktu itu di ruang kerja mas Rayan kayaknya dekat banget deh sama mas Rayan. Kalau nggak salah namanya Emeli ya."


"Kok kamu jadi bahas kesitu. Aku juga pernah jelaskan sama kamu kalau Emeli itu bukan siapa-siapa! Aku juga tidak punya kekasih!" tegas Rayan.


"Zea percaya, ayo sekarang aku beritahu tentang apa yang terjadi di dalam rekaman itu."


Setelah selesai menyudahi acara makannya Zea langsung duduk tempat di samping Rayan. Dia kembali memutar rekaman tersebut, tidak tahu kenapa hati Zea berdenyut ngeri saat bisa mendengarkan apa yang menimpanya sebelum dia kembali dari hal yang membuat nyawanya melayang 7 bulan lalu.


"Katakan." Rayan sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Bahkan dia sampai menatap lekat Zea menunggu cerita perempuan di sampingnya ini.


"Tidak juga, memangnya kenapa?" Rayan malah balik bertanya.


"Itu yang Zea alami sekarang!"


Deg!


Rayan kembali menatap lekat Zea, dia menatap kedua netra Zea seakan mencari kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Zea.. Sungguh Rayan tidak dapat melihat kebohongan disana.


"Rekaman itu memang kejadian nyata 2 agustus Zena dan Vernando membayar orang untuk membunuhku di restoran tersebut. Aku ditikam oleh ketiga pisau tajam sekaligus, aku juga diracuni. Semua itu rencana suami dan kembaranku, juga mama." Zea menjeda ceritanya.


Sedangkan Rayan sama sekali tidak memotong cerita Zea. Mungkin memang benar dia menganggap Zea sudah menggada-ngada, tapi jujur Rayan penasaran dengan cerita Giya.


Melihat Rayan masih diam, Zea kembali melanjutkan penjelasannya yang belum usai.


"Disaat kesadaranku masih sedikit ada. Aku beroda pada Tuhan. Agar memberikanku hidup kembali. Untuk aku membalas perbuatan mereka yang sudah berani mengusikku dan papa. Siapa sangka Tuhan benar-benar mengabulkan doaku."

__ADS_1


"Aku bangun diwaktu 7 bulan lalu, tepat di hari itu aku mengingat betul. Nyawa papa sedang terancam, karena tidak ada yang menolong beliau. Aku berrekarnansi kembali pada tubuhku sendiri." Jelas Zea panjang lebar.


Zea hanya mampu menghela nafas pelan melihat reaksi yang Rayan tunjukkan. Dia tahu pasti Rayan tidak akan percaya dengan cerita konyolnya.


"Aku percaya. Aku malah begitu bersyukur mengetahui dirimu kembali lagi seperti dulu, aku suka Zea yang tegas dan bringas, bukan Zea yang kalem." Sahut Rayan enteng saja.


Zea bahkan dibuat melongo sendiri atas reaksi yang ditujukan oleh Rayan.


"Hah, serius mas Rayan percaya sama cerita Zea."


"Kenapa tidak percaya toh buktinya juga sudah ada. Untuk apa mengada-ngada."


Tanpa permisi Zea langsung memeluk Rayan erat, saking senangnya dia karena Rayan percaya apa yang dirinya alami.


"Terima kasih mas, Zea bahagia sekali cerita hal ini pada mas Rayan. Karena mas Rayan percaya dengan ceriat Zea."


Rayan sungguh sangat kaget saat Zea tiba-tiba saja memeluknya, tapi dia tidak mau menyia-nyiakan pelukan dari Zea. Langsung saja Rayan membalas pelukan Zea. Semua tidak terjadi begitu lama, karena Zea langsung mengajak Rayan membelikan buah untuk pak Wijaya. Rayan akhirnya patuh saja. Lagipula sedari tadi Zea sudah mengajaknya untuk pergi membeli buah.


Di rumah sakit yang sama, di tempat pak Rayan di rawat Perdebtaan sengit sedang terjadi antara dua orang laki-laki.


Pak Wijaya memang sudah lama dipindahkan dari rumah sakit Bali, pergi ke rumah sakit Bandung tempat beliau tinggal. Selama ini juga Zea mengurus perusahaan papanya dibantu Rayan tentunya.


Laki-laki itu begitu baik pada Zea, sehingga Zea sendiri tidak tahu bagimana cara membalas kebaikan Rayan.


Di depan ruang persalian Vernando tengah berdebat dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenali.


"Anak itu adalah anaku, aku sudah lama mencari keberadaan Zena, tapi aku selalu gagal menemukannya!" tegas Brian.


"Dia anakku dan Zena!" Balas Vernando tak mau kalah.


Sedangkan Zena hanya mampu mentapa benci seorang bayi mungil yang tidak bersalah baru saja dia lahirkan. Zena tidak tahu jika Brain akan datang menemuinya setelah lahiran.


Padahal dia sudah melakukan berbagai cara agar, dia dan Brain tidak pernah bertemu lagi.


"Kenapa semua jadi kacau begini! Aku benci bayi itu! Lalu kenapa laki-laki itu bisa berada disini juga." Maki Zena dalam benaknya.

__ADS_1


Zena begitu enggan untuk memberi asi pada putra kecilnya sendiri. sungguh malang nasib bayi baru lahir itu sudah dibenci sang ibu.


__ADS_2