
Bismillah.
Zea merasakan cahaya menusuk ke dalam kedua netrnya yang sedang tertutup, silau itulah yang Zea rasakan, samar-samar dia berusaha membuka kedua bola matanya secara perlahan. Saat sudah membuka kedua bola matanya dengan sempurna, Zea dapat melihat dua sosok laki-laki yang kini tengah tersenyum kearahnya.
"Morning." Sapa Zea kikuk.
Apalagi dia baru saja bangung tidur tapi langsung mendapatkan senyuman dari pak Wijaya dan Rayan.
Ketika nyawanya sudah berkumpul dengan sempurna, Zea berusaha untuk duduk dari tidurnya. Karena posisinya saat ini masih tidur di paha Rayan.
"Morning too." Sahut Rayan dan pak Wijaya hanya tersenyum melihat putrinya tidur begitu lelap di paha Rayan.
"Semoga kali ini nak Rayan tidak mengecewakanku, seperti sebelumnya." Batin pak Wijaya sambil menatap Rayan dan Zea secara bergantian.
"Semoga kamu mendapatkan kebahagian yang luar biasa sayang." Batin pak Wijaya mendoakan putrinya.
Saat Zea baru saja bangun, tiba-tiba pintu kamar rawat pak Wijaya terbuka dengan sempurna. Menampilkan dua sosok orang yang sangat Zea kenali, kebetulan sekali hari ini memang jadwalnya hari libur.
"Siang semua." Sapa Tika dan Dito bersama, bahkan Tika langsung mendekati pak Wijaya.
Benar orang itu Tika dan Dito, kalau hari libur kedua bisa sedikit ada waktu senggang, walaupun mungkin libur hanya berlaku untuk Tika tidak untuk Dito. Karena tujuannya kesini atas perintah sang bos untuk Rayan memeriksa pekerjaannya.
Dia sangat bersyukur ayah dari sahabatnya ini sudah siuman, sedari kemarin Tika sudah ingin menjenguk pak Wijaya, tapi karena sibuk dia baru bisa pergi hari ini.
"What kalian waras Tik, Dito. Bukan ini masih pagi." Sahut Zea sedikit tak terima.
Tika yang tadinya ingin segera menghampiri pak Wijaya kembali menatap sang sahabat. Tika memperhatikan Zea dari atas sampai bawah.
"Wah, wah. Sebegitu nyenyak kah tidurmu itu Zea. Sampai sudah jam 10 lewat masih kami bilang pagi." Sindiri Tika.
"What! Jam 10 lewat." Kagetnya.
Lalu Zea menatap Rayan yang masih berdiri di sebelahnya.
"Mas kok nggak bangunin dari tadi sih." Protes Zea.
Pak Wijaya hanya bisa terkekeh melihat putrinya merajuk seperti ini. Sebenarnya Rayan ingin membangungkan Zea sedari tadi, tapi pak Wijaya melarangnya. Apalagi Rayan mengingat sudah waktunya sarapan tapi Zea belum bangun.
"Maaf sayang." Sesal Rayan.
"What! Apa aku tak salah dengar." Kini bukan Zea lagi yang heboh melainkan Tika, karena mendengar pak Rayan memanggil sahabatnya dengan sebutan 'sayang' Tika sampai melongo tak percaya.
__ADS_1
Sedangkan Zea sendiri mukanya sudah berubah merah karena malu, padahal dia baru bangun tidur.
"Sejak kapan kamu sama pak Rayan jadian? Kayak aku sudah ketinggalan info banyak nih ya Zea." Goda Tika. Sementara Zea mendengus kesal.
Dia memang senang sekali menggoda sahabatnya ini, ditambah di depan pak Wijaya dan Rayan langsung, sudah pasti Zea akan semakin malu.
"Mas Rayan sih." Gerutnya.
Semua orang di dalam ruangan itu terkekeh geli melihat reaksi Zea termasuk pak Wijaya.
"Jadi kesini mau godain aku atau mau jenguk papa." Ucap Zea akhirnya.
"Iya, iya mau jenguk papa." Sahut Tika akhirnya.
"Aku ke kamar mandi dulu." Pamit Zea.
Segera menuju kamar mandi di dalam ruang rawat pak Wijaya. Setelah kepergian Zea merasa semua sibuk masing-masing. Dito sibuk memberikan beberapa laporan pada bosnya itu, Rayan sibuk mengecek gmailnya.
Tika sibuk berbincang-bincang dengan pak Wijaya. Kedua orang itu sudah semakin dekat, pak Wijaya sudah lama menganggap Tika seperti putrinya sendiri.
20 menit berlalu barulah Zea keluar dari kamar mandi, dia meraskan perutnya sudah keroncongan. Rayan menoleh pada Zea yang masih berdiri di ambang pintu kamar madi.
"Sini makan dulu." Ucap Rayan, walaupun sibuk dia tetap selalu memperhatikan Zea.
"Papa sudah sekalian minun obat tadi." Sahut pak Wijaya.
Lalu Zea beralih menatap Rayan. "Mas nungguin kamu." Sahut Rayan.
"Kamu Tik sama Dito udah sarapan belum?" tanya Zea lagi.
"Sarapan itu jam 7 atau jam 8 pagi ya Zea, sekarang namanya makan siang." Protes Tika.
"Iya, iya tahu. Kayak nggak pernah kesiangan aja sih kamu Tik."
"Aku mau dong diajak makan udah laper lagi." Si Tika malah tidak nyambung entah kemana arah pembicaranya walaupun masih seputar makan.
"Beli sendiri atau suruh Dito tu, ini cuman dua cukup buat aku sama mas Rayan." Celetuk Zea.
"Pelit kamu Zea sama sahabat sendiri." Protes Tika tak terima.
"Biarin Wekk! Ayo mas kita makan." Raya hanya menurut saja.
__ADS_1
...----------------...
Di sebuah tempat yang dekat dengan club seorang baru saja sadarkan diri setelah entah berapa lama dia tak bangun mungkin
Vernando susah payah membuka kedua bola matanya, dia dapat meraskan jika saat ini sekujur tubuhnya terasa sakit dan perih, dia berusaha mengingat sesuatu.
Mungkin dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya sehingga badannya terasa remuk semua, sampai ingatan-ingatan kejadian tadi malam menimpa dirinya sudah dapat dia ingat dengan sempurna.
"Astaga badanku sakit semua." Keluh Vernando berusaha untuk bangun.
Dia tidak sadar jika saat ini dirinya tengah dikerumuni banyak orang. Tempat itu kalau siang lebih ramai dari pada malam, apalagi Vernando yang terkapar tempat dipinggir jalan dan menghalangi para pejalan kaki yang ingin lewat.
"Wah, dia sudah sadar."
"Benar akhirnya dia sadar juga."
"Lihat kasihan sekali dia, apakah semalam dia dipukuli."
"Badannya memar semua."
Vernando yang mendengar suara berisik tidak jauh dari tempatnya berada berusaha menatap sekeliling.
Deg!
Bentapa kagetnya dia saat tahu banyak orang-orang yang sedang berkumpul mengerumuni dirinya.
"Au..." Ringis Vernando saat tanganya tak bisa digerakkan.
"Cepat tolong dia." Perintah seorang.
Kebetulan sekali tadi ada yang sudah menelepon ambulans memberikan kabar jika ada orang yang pingsan di pinggir jalan.
Saat para petugas sudah sampai di tempat kejadian. Mereka segera menolong tubuh Vernando yang sudah tak mampur bergerak.
Ada beberapa orang yang mengambil foto Vernando, bahkan media juga sudah mulai melakukan siaran untuk memberitahukan pada publik berita mengejutkan siang ini.
Semua orang siapa yang tidak kenal Vernando, mantan artis populer dari smart enterthaiment yang kini sudah tak dianggap lagi, bahkan tak bisa menjadi seorang artis setelah dipercat tidak hormat dari smart enterthaiment dengan berbagai skandal yang menimpa dirinya.
"Cepat minggir." Ucap seorang petugas yang membawa tubuh Vernando untuk masuk ke dalam ambulas.
"Minggir semua, beri jalan untuk para petugas."
__ADS_1
Perlahan-lahan mereka yang tadi mengeromboli tubuh Vernando memberikan jalan untuk petugas medis menyelatkan Vernando. Sedangkan Vernando sendiri kembali tidak sadarkan diri setelah tadi sempat membuka kedua netranya sebentar.