Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)

Dendam Diatas Pengkhianatan (Suami Dan Kembaranku)
Rayan vs Delon


__ADS_3

Bismillah.


Deg!


"Laki-laki itu." Ucap Brain kala tak sengaja melihat Vernando berada di atas brankar yang sedang di dorong oleh beberapa suster dan perawat.


Brain baru saja selesai mengisi pertunya setelah pagi sampai siang tak ada habisnya dia berdebat dengan Zena yang masih mempermasalahkan prihal anak.


Zena sampai saat ini masih menunggu ke pulangan suaminya, berharap Vernando mau melihat dirinya dan sang bayi.


Brain menghela nafas berat. "Sungguh malang nasibmu, aku belajar dari kalian berdua yang tega mengkhianati orang terdekat sendiri. Lihat sekarang Tuhan membalas kalian berdua berkali-kali lipat, sungguh malang nasib kalian berdua."


"Dulu saat aku mengenal Zena, aku ingin bertanggung jawab dan cepat menikahi dia, tapi semua hanya angan-angan belaka. Maka untuk menebus semua ini, aku ingin merawat anakku dengan baik." Ucap Brain sambil terus menatap Vernando yang berada di atas brankar sampai tak terlihat lagi.


"Lebih baik sekarang aku harus bisa merawat bayiku dengan baik."


Lalu Brain tak lama setelah itu meninggalkan tempat dia berdiri tadi, tapi baru saja melangkah sebentar dia sudah dipertemukan dengan Zea, Brain ingin mengucapkan terima kasih pada Zea. Tapi melihat waktu itu Zea sangat marah padanya membuat Brain mengurangkan niat baiknya itu.


"Masih disini rupanya kamu." Ucap Zea dingin.


"Tentu saja, aku akan pergi setelah Zena merawat bayiku dengan baik. Atau tidak aku yang akan merawatnya." Sahut Brain.


"Baguslah aku harap kamu tidak mengecewakanku. Ingat Brian bayi kecil itu tidak tahu apapun, dia tidak memiliki salah sedikitpun. Jadi aku harapa kamu benar-benar bisa mengajanya nanti. Ingat semua yang terjadi bukan salah bayi itu, tapi salahkan kalian kedua orang tuanya." Tegas Zea.


"Aku mengerti, maka dari itu aku akan merawat anakku dengan baik. Tapi Zena masih saja kekeh jika bayi mungil itu anak Vernando."


"Kamu harus lebih berusaha lagi." Ucap Zea setelahnya sambil berlalu meninggalkan Brain.


Brain hanya bisa menghela nafas berat berkali-kali. Tapi dia tak akan menyerah begitu saja, lagipula Brain masih ingat kalau pak Wijaya akan menjebloskan Vernando dan Zena ke dalam penjara setelah Zena meliahrkan.


Mungkin hal itu sebentar lagi akan terjadi, mengingat keadaan pak Wijaya juga sudah pulih. Ditambah lagi saat pak Wijaya mengalami koma, Zena dan Vernando berusaha merebut Wijaya group untung saja Zea bisa mengatasi semua masalah yang terjadi di kantor papanya.


Brain akhirnya pergi menuju ruang rawat Zena, dia tak peduli jika bertemu dengan perempuan itu akan selalu berdebat yang terpenting tujuannya tercapai.


"Hai Zea." Sapa seorang yang membuat Zea sedikit kaget.

__ADS_1


"Delon, kamu ngapain di rumah sakit?" tanya Zea penasaran.


Sudah lama sekali Zea tak bertemu lagi dengan Delon teman lamanya itu, terakhir bertemu saat mereka berada di Bali. Yah, walaupun Zea dan Delon hanya bertemu dua kali dan ketiga kalinya sekarang di rumah sakit.


"Aku baru saja dipindah tugas ke rumah sakit ini." Sahutnya.


Dan Zea baru sadar jika saat ini Delon mengenakan pakaian dokter.


"Astaga ternyata kamu seorang dokter." Ucap Zea tak percaya.


"Ya, begitulah. Kamu sendiri disini sedang apa?" tanya Delon balik.


"Papaku dirawat di rumah sakit ini." Delon mengangguk paham.


Disaat Zea dan Delon sedang asyik berbincang tiba-tiba seorang datang menghampiri Zea. Zea lupa jika sedari tadi Rayan menunggunya, karena Zea tak kunjung datang akhirnya dia mencari keberadaan sang kekasih, Rayan tidak ingin terjadi apa-apa pada Zea.


"Sayang, astaga. Disini rupanya kamu." Ucap Rayan dengan nada khawatir.


Dia belum sadar jika saat ini ada orang lain yang sedang bersama istrinya.


Langsung saja Rayan melihat kearah Delon, sambil mengangkat sebelah alisnya. Begitu juga sebaliknya membuat Zea merasa heran.


"Yang, sejak kapan kamu kenal sama dia?" tanya Rayan sambil menunjuk Delon.


Sedangkan orang yang dimaksud oleh Rayan memutar kedua bola matanya malas.


"Udah lumanyan lama sih mas, tapi jarang ketemu ini baru yang ketiga kalinya."


"Hah! Jangan deket-deket sama orang ini."


"Kenapa?" tanya Zea penasaran.


"Cek! Sejak kapan lo bisa jatuh cinta." Sindir Delon.


Zea yang bingung menatap Rayan dan Delon secara bergantian. Apakah kedua orang ini saling mengenal satu sama lain? Tapi kenapa dirinya tidak tahu.

__ADS_1


"Sejak bertemu dengan kekasih gue lah kapan lagi." Sahut Rayan bangga.


"Lo ngapain sih pake di pindah kesini segala, udah bener lo di Batam aja. Terus lo tinggal dimana?"


"Menurut lo." Sahut Delon enteng.


Rayan mendengus kesal mendengar jawaban dari sepupu sekaligus sahabatnya sejak kecil itu. Sudah pasti Delon tinggal di monsion miliknya dimana lagi.


Hm....


Dehem Zea yang merasa diabaikan oleh dua laki-laki ini.


"Sayang ayo balik ke kamar papa, biarian aja orang ini."


"Tapi-"


"Udah nggak papa Ze, lagipula cowo kamu posesif sekali." Sindir Delon.


"Ayo." Ajak Rayan tanpa berpamitan pada Delon, sedangkan Zea merasa tidak enak pada temannya itu. Bagimanapun juga dulu Delon pernah membantu dirinya


...----------------...


Waktu terus berlanjut tiada henti, akan berhenti saat waktunya tiba nanti. Tak terasa sudah 4 hari setelah pak Wijaya dinyatakan sembuh, hari ini beliau sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Syukurlah papa sudah boleh pualang."


"Benar sayang."


"Kalau papa pulang, jadi Zea udah bisa aktif lagi dong di kantor. Males tahu Ze kerja nggak ada kamu, tidak seru sama sekali." Keluh Tika.


Hari ini Rayan memang tidak bisa menemani Zea untuk mengatar pak Wijaya pulang. Karena dia ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, Tapi Rayan sudah berjanji pada Zea akan mampir ke rumah nanti setelah pekerjaannya selesai.


"Percaya aku memang ngangeinkan."


Tika hanya mampu mendengus kesal melihat kenarsisan sabahatnya ini. Pak Wijaya terkekeh melihat tingkah Tika dan Zea.

__ADS_1


"Sudah tidak usah ribut lagi, ayo sekarang kita pulang." Ajak pak Wijaya pada keduanya.


__ADS_2