
Bismillah.
"Kalian berdua tahu apa kesalahan kalian?" Rayan menatap tajam kedua orang yang sedang berdiri di depannya ini.
Zena dan Vernando sama-sama menunduk takut dengan Rayan. Produser mereka itu ternyata tidak main-main atas perkataannya. Saat ini Vernando dan Zena tengah diminta pertanggung jawaban atas insiden yang terjadi kemarin malam di gedung utama smart enterthaiment.
"Maaf pak saya mengaku salah." Cicit Zena, bahkan dia sama sekali tak berani menatap Rayan.
"Saya juga pak, tapi saya yakin ada yang mau menjebak kami." Sahut Vernando masih tidak terima kalau dirinya disalahkan sepenuhnya.
Brak!
Rayan mengeberek meja di depannya, sampai membuat Vernando dan Zena yang masih tetep berdiri diposisi mereka terlonjak kaget. Tatapan tajam semakin Rayan berikan pada Vernando.
"Tidak tahu malu! Sudah salah masih berani membela diri di hadapan saya." Ucap Rayan ketus.
"Sial! Kalau saja bukan bos, udah gue hajar orang belagu ini." Dengus kesal Vernando di dalam hatinya.
"Tidak usah mengumpat saya." Ucap Raya dingin yang membuat Vernando kaget.
Tapi setelahnya dia pura-pura bersikap biasa saja. Vernando tak lagi berani protes, apalagi Zena yang selalu berdiri dibelakang Vernando untuk meminta perlindungan.
"Saya kemarin malam sudah memberikan kelonggaran untuk kalian, jadi mana bukti atas kata-kata kalian kemarin malam. Jangan sampai gara-gara foto tidak berfaedah kalian itu membuat smart enterthaiment rugi besar!" sentak Rayan.
Zena yang sudah mendapatakan sebuah bukti, jika foto-foto dia dan Vernando yang tersebar diacara jamuan makan malam kemarin segera mengeluarkan bukti yang sudah dia rekayasa.
"Ini buktinya pak." Ucap Zena meletakan berkas dan beberapa foto di atas meja. Netra Rayan langsung tertuju pada berkas-berkas yang baru saja Zena berikan. Satu alis Rayan terangkat untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Filem itu tadinya akan tanyang 2018 pak, tapi tidak jadi karena diblackdist." Jelas Zena.
"Benar pak, saya juga memiliki beberap penjelasan kenapa filem tersebut tidak bisa tayang." Sahut Vernando lalu dia juga meletakan sebuah dokumen di atas meja pak Rayan.
Rayan membaca sekilas dokumen tersebut, walaupun dia hanya membacanya sekilas. Tapi Rayan tahu apa saja isi tertulis yang ada di dalam dokumen tersebut.
"Baiklah, saya anggap kalian berdua sudah berusaha keras. Agar nama baik kalian tidak jatuh di hadapan publik." Ucap Rayan setelah melihat bukti-bukti yang ditunjukan Zena dan Vernando.
"Sekarang kalian temui Dito di ruangannya, dia yang akan membuat keputusan apa yang kalian berikan."
"Tapi pak, bukankah seharusnya perusahaan mencari siapa dalang atas pencemar nama baik kami. Bapak harus menangkap orang yang menyebarkan foto-foto tidak benar itu." Ujar Zena tanpa diminta bicara.
"Tidak usah mengajari saya! Kalian silakan lakukan apa yang saya suruh!" Rayan mengibas-ngibasakan tanganya pada Vernando dan Zena, tanda mengusir kedua orang itu.
Rasanya ingin sekali Zena menampar wajah Rayan, sayangnya dia tidak bisa melakukan hal itu. Rayan bosnya, kalau dia berani menampar Rayan sama saja menjatuhkan karirnya sendiri.
"Baik pak kami permisi." Ucap Zena dan Vernando sopan.
"Dua orang itu, dipikir saya bodoh apa!" ucap Rayan pada diri sendiri.
Rayan tahu semua bukti-bukti yang diberikan Vernando dan Zena merupakan bukti palsu. Dia sebagai produser tentu saja tahu series dan filem mana saja yang jadi atau tidak jadi tanyang dari perusahaan miliknya. Bahkan Rayan juga hafal betul setiap series dan filem yang mereka buat. Akan rilis tahun berapa.
"Tapi aku juga penasaran siapa yang sudah mendapatkan foto-foto perselingkuhan Vernando dan Zena." Ucap Rayan.
"Saya." Sahut seorang entah datang dari mana, Rayan segera mencari sumber suara.
Dia mengintari setiap sudut ruang kerjanya itu, siapa yang baru saja bicara. Sampai netranya menangkap sosok yang begitu mirip dengan Zena baru saja masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Zea." Ucap Rayan sambil mengerutkan dahinya bingung.
"Bukankah kamu istri Vernando? Lalu kenapa kamu percaya dengan kata-kata mereka berdua kemarin malam. Jika adegan mesum yang mereka lalukan hanya series gagal tayang."
Alih-alih Rayan marah pada Zea karena telah masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu dan lancang menyahuti perkataannya. Rayan malah bertanya panjang lebar pada Zea.
"Saya hanya pura-pura percaya pak. Hanya orang bodoh saja yang menganggap ucapan mereka benar. Sedangkan sistem kerja di smart enterthaiment semua orang yang kerja di perusahaan ini pasti tahu cara mainnnya."
Rayan masih setia diam ingin mendengarkan kelanjutan ucapan yang baru saja Zea katakan. Tak lupa Rayan juga mempersihlakan duduk Zea terlebih dahulu.
"Kita tahu seperti apa cara syuting di smart enterthaiment. Jika ada series atau filem pernikahan pasti pemeran utamanya sumai istri. Apalagi sampai melakukan hal mesum. Lalu smart enterthaiment juga tidak pernah menayangkan filem yang merusak otak orang lain. Seperti krmilan berlebihan dan tentang seksula misalnya." Jelas Zea panjang lebar yang membuat Rayan menganggut-anggut.
"Semua saya lakukan untuk membalas dendam suami dan kembaran saya. Yang selama ini tega mengkhianati yang sudah hampir 3 tahun." Lanjut Zea karena belum mendapat respon dari Rayan.
"Apa!" kaget Rayan tak habis pikir. Bagaimana bisa suami dan saudara kembar sendiri tega berbuat begitu menjijikan.
Padahal jika Rayan lihat-lihat. Zea lebih cantik dari pada Zena. Walaupun memang kulit Zena lebih bersih dan putih dari pada Zea. Walaupun begitu dilihat dari segi manapun tetap Zea yang lebih cantik dan manis.
"Lalu kenapa kamu cerita dengan saya? Bukakah ini masalah rumah tangga kamu bukan rumah tangga saya." Rayan tersadar akan kelakuannya.
"Heheh. Maaf pak kalau saya sudah lancang." Cengir Zea merasa canggung pada produsernya.
"Saya maafkan, saya yakin pasti ada hal penting yang ingin kamu katakan sampai-sampai masuk ke ruang presiden tanpa diminta." Ujar Rayan.
Aneh tatapan Rayan saat menatap Zea begitu teduh. Tidak tahu Rayan sadar atau tidak. Dia juga ketika bicara dengan Zea tak menggunakan nada dingin. Kemarahannya tadi saat Vernando dan Zena menemui dirinya begitu jelas. Sekarang Zea yang duduk di depannya seakan kemarahan yang menguasai Rayan lenyap seketika.
Biasanya jika ada orang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu lebib dulu akan marah-marah. Sedangkan saat Zea yang tiba-tiba nyelonong masuk Rayan sama sekali tidak marah. Dia malah mengobrol santai dengan Zea.
__ADS_1
"Apa yang pak Rayan katakan tepat sekali. Saya menemui bapak kesini memang ada hal penting yang mau saya katakan."
"Katakan." Seru Rayan cepat.