
Bismillah.
Masih di tempat yang sama. Di luar gedung smart enterthaiment yang sedang mengelar acara FFI untungnya belum berada di malam puncak penyambutan FFI.
Kini fesrival filem indonesia yang diadakan oleh perusahaan smart enterthaiment menjadi sebuah ajang pembongkaran kebohongan dan pengkhinatan suami dan kembaran Zea. Tidak tahu kenapa Rayan sang pemilik smart enterthaiment membiarkan saja kekacauan yang terjadi malam ini. Padahl jelas dia akan mendapatkan kerugian besar atas kejadian ini.
"Apa yang Vernando katakan benar Zea, kenapa kamu malah menuduh sembarangan kakak kembarmu dan suami kamu sendiri." Ucap mama Eli mulai mencari simpati pada suaminya dan semua orang.
Berharap orang-orang di tempat itu akan menjelek-jelekkan Zea, karena dirinya sebagai seorang ibu terlihat mengemis pada putrinya sendiri.
"Tidak susah berpura-pura lagi tante Putri." Sahut Zea begitu tenang.
Deg!
Zena dan sang mama langsung menatap satu sama lain mendengar perkataan Zea baru saja. Sedangkan pak Wijaya menatap intens putrinya setelah mendengar apa yang baru saja Zea katakan. Pak Wijaya ingin mengetahui apa maksud dari perkataan putrinya. Kenapa Zea memanggil mamanya sendiri dengan sebutan tante Putri.
Pak Wijaya jelas tahu siapa Putri. Putri adalah kakak dari istrinya, kakak kandung Eli.
"Maksud kamu apa Zea? Aku ini mama kamu, mama Eli. Jangan bicara sembarangan."
Zea terkekeh geli. "Benarkah seperti itu tante Putri, bagimana kalau aku punya buktinya." Tantang Zea ingin terus membuat sang mama mengakui semua kebohongannya.
"Janga bicara kamu Zea! Dia mama kita mama Eli, kenapa kamu tega."
Yang tadinya Zea menatap mama Eli yang jelas tante Putri. Kini Zea menatap Zena kakak kembarnya yang bernama asli Fia Putri Burhan.
"Benarkah begitu mbak Fia."
Deg!
Lagi-lagi Zena dan mama Eli saling menatap satu sama lain. Ternyata bukan pak Wijaya saja yang bingung atas kata-kata yang terlontar dari mulut Zea, tapi juga Vernando yang sama sekali tidak maksud dengan ucapan Zea.
__ADS_1
"Kamu gila Zea, dia Zena kembaran kamu kenapa pula kamu memanggilnya dengan nama lain."
"Hahahah." Tawa Zea pecah saat itu juga, orang-orang mungkin saja menganggapnya sudah tidak waras lagi.
"Ternyata kalian berdua sama-sama bodoh Vernando dan Zena. Kamu Zena, eh salah mbak Fia." Ucap Zea sambil menatap remeh Zena.
"Kamu tahu tidak Zen, Vernando hanya memanfaatkan kamu untuk mendapatkan seluruh harta warisan keluarga Wijaya, walaupun mungkin dia juga sudah mencintaimu. Tapi laki-laki buaya ini juga bodoh."
"Kamu tahu kenapa aku mengatakan kamu bodoh Nando. Karena kamu sudah ditipu oleh tente Putri dan mbak Fia seperti mereka menipu aku dan papa selama ini." Zea tersenyum sinis.
"Jangan katakan aku tidak tahu perselingkuhan kalian berdua. Bahkan malam ini aku pun tahu, jika kamu Nando, Zena dan mama Eli ingin membunuh aku dan papa diacara FFI malam ini saat puncak acara tiba!" hardik Zea sudah mulai mengebu.
Semua orang terdiam membisa mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Zea. Termasuk papa Wijaya dan pak Nurman.
Sebenarnya sudah dari lama pak Wijaya menaru curiga pada istrinya. Tapi semua keburuan itu beliau tepis, pak Wijaya tidak ingin membuat keributan dengan sang istri apalagi di depan anak-anak.
Para tamupun tidak ada yang berani angkat bicara. Semua orang dapat melihat jelas tatapan kecewa yang terpancar dari kedua bola mata Zea. Tatapan kosong yang tidak dapat diartikan.
Zea langsung berlari memeluk sang papa dengan begitu erat, air matanya sudah membasahi pipinya. Dia tidak bisa menahan kesedihan tentang mamanya.
"Papa mama sudah meninggal saat melahirkan Zea. Maaf semua salah Zea, mama hanya melahirkan Zea. Zea tidak memiliki saudara kembar Pa." Ucapnya paruh.
Tangan pak Wijaya terangkat untuk mengelus pucuk kepala putrinya. Semua terjawab, pantas saja beliau merasa tidak pernah bisa menyayangi Zena seperti beliau menyayangi Zea seutuhnya. Beliau juga merasakan cintanya pada mama Eli yang saat ini seakan tidak ada. Pak Wijaya merasakan cintanya telah mati sejak lama.
Tapi semua itu beliau pendam sendiri, tetap menyayangi mama Eli palsu dan Zena seperti keluarga sendiri.
"Bos bukankah kekacauan ini akan membuat perusahaan kita rugi besar." Bisik Dito pada Rayan.
Sayangnya bosnya itu seakan tidak peduli, dia malah menatap aneh Zea yang sedang memeluk erat sang papa. Tatapan yang sama sekali tidak bisa diartikan.
"Cek! Ada apa dengan orang ini, kenapa dia juga malah ikut terbuai dalam keluarga dramastis seperti ini. Kalau dipikir-pikir sungguh rumit keadaan keluarga Zea." Batin Dito merasa sedikit kasihan, tapi dia tidak mau percaya begitu saja sebelum Zea membuktikan kalau semua kata-katanya itu benar.
__ADS_1
Keheningan yang terjadi tidak bertahan lama, mereka mendengar seorang ditampar dengan sangat keras.
Plak!
Semua mata tertuju pada dua orang laki-laki berbeda usia yang saling berhadapan satu sama lain.
"Memalukan!" hardik pak Nurman pada Vernando putranya.
"Kau sudah dua kali membuat malu Vernando! Apakah sekarang urat malumu itu sudah putus!" maki pak Nurman.
Vernando mendapatkan tamparan berkali-kali dari pak Nurman.
Benar sekali, orang yang baru saja ditampar adalah Vernando dan yang menampar papanya. Pak Nurman begitu malu, apalagi orang-orag sangat mengenal dirinya. Beliau sutrdara terbaik yang dimiliki smart enterthaiment. Kejadian memalukan seperti ini sudah dua kali dirasakan oleh pak Nurman, sebagai seorang ayah beliau merasa gagal mendidik tegas putranya.
Melihat itu Zea melepaskan pelukannya dari sang ayah sambil menatap jijik dan remeh pada sang sumai.
"Malam ini surat percerian kita akan segera datang dalam waktu 10 menit lagi." Ucap Zea acuh.
Rasa sakit bekas tamparan sang papa seakan tidak terasa bagi Vernando, tapi dia menatap tak percaya istrinya yang mengatakan akan bercerai.
"Zea kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Vernando memastikan.
"Hahah, kenapa tidak yakin. Sudah dari dulu aku ingin berceria denganmu mas Nando tapi belum ada waktu yang tepat." Tegas Zea.
"Tapi kenapa?"
Tawa Zea kembali pecah. "Hahaha, jelas kamu tahu kenapa aku ingin berceria dengan dirimu, sudah 3 tahun aku hidup di atas pengkhianatan suami dan kembaranku sendiri. 3 tahun bagiku sudah cukup untuk selalu bersabar, aku selalu memberi kalian kesempatan untuk memperbaiki semuanya, sayangnya kalian berdua tidak paham. Untungnya aku tahu jika Zena bukan saudar kembarku, jadi itu tidak seberapa menyakitkan."
Selesai Zea bicara tiba-tiba Zena tertawa remeh mentertawakan Zea.
"Omong kosong macam apa yang sedari tadi kamu bicarakan Zea. Hahaha! Kamu mengatakan aku dan Nando selingkuh, lalu aku bukan kembaranmu dan terakhir mama Eli bukan mamamu, lucu sekali bukan menuduh tanpa bukti."
__ADS_1
Zea tersenyum mendengar perkataan Zena.