
Bismillah.
Rayan bediri di atas panggung dengan gagah. Sorot matanya begitu tajam, setajam mata elang yang mengintai mangsanya. Mata elang milik Rayan memancarkan keramahan tersendiri disana. Satu tangannya masih setia memegang mic yang tadi digunakan oleh Dito.
Di samping Rayan, Dito masih setia berdiri disana sedikit menunduk hormat pada bosnya itu. Tak lupa memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh sang bos.
"Baiklah, pertama saya mengucapkan terima kasih pada kalian semua yang telah sudi hadir diacara jamuan malam ini yang kami adakan." Ucap Rayan mulai berbicara dimic.
"Malam ini saya sebagai produser smart enterthaiment resmi membuka acara jamuan malam ini. Dan hari ini juga saya mengumumkan pada kalian semua acara FFI sebulan lagi akan digelar di smart enterthaiment, kabar bagusnya beberapa perusahaan enterthaiment juga akan ikut berkontribusi diacara FFI bulan depan. Mari kita buka acara malam ini dengan tepuk tangan meriah."
Riuh teput tangan seketika memenuhi ruangan tersebut, semua orang menyambut gembira acara yang diadakan oleh smart enterthaiment. Termasuk Zena dan Vernando yang belum sadar bahwa bencana sebentar lagi akan menimpa kedua orang itu.
"Saya ucapakan terima kasih pada pak Rayan selaku pemilik smart enterthaimen, sudah memerbikan sambutan untuk kita semua. Seperti yang sudah pak Rayan katakan, acara jamuan malam ini resmi dibuka. Maka saya sebagai salah satu perwakilan dari enterthaiment mengucapkan selamat menikmati acara malam ini." Ucap Dito, disabut riuh tepuk tangan oleh semua orang.
Aluan musik indah terdengar mengema di dalam ruangan itu, semua orang seakan tersihir dengan musik yang baru saja dimainkan oleh salah satu musisi terkenal di kota tersebut.
Semua orang menikmati acara mereka berbeda dengan Zea yang tampak sedikit gusar, di dalam hatinya ada sedikit keraguan takut rencana yang sudah dia susun gagal untuk mengacaukan rencana yang sudah disiapkan oleh Zena dan Vernando.
"Tika kamu yakin semuanya sudah aman?" tanya Zea, saat ini Zea dan Tika sedang berada di dalam toilet wanita.
Tika tersenyum yakin pada Zea, tak lupa sebuah anggukan kepala juga Tika lakukan agar bisa membuat Zea lebih yakin.
"Zea kamu tenang saja semuanya aman, malam ini tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu." Ucap Tika meyakinkan.
"Aku sudah memasukan beberapa foto mereka, jadi kamu tidak perlu risau." Lanjut Tika lagi.
Zea langsung memeluk haru Tika, dia begitu berterima kasih pada manager sekaligus sahabat baiknya itu, karena sudah mau membantu dirinya. Zea jadi berpikir kisah pernikahannya seperti beberapa novel yang dia baca.
Bedanya kalau novel-novel yang Zea baca, suami selingkuh dengan sahabat baik sendiri. Berbeda dengan nasib Zea, saudara kembarnya sendiri yang tega mengkhianati dirinya, darah dagin mereka masih sama. Apa yang Zea alami ini menurutnya lebih menyakitkan dibandingkan beberapa novel yang Zea baca.
"Astaga, aku baru sadar. Semua cerita itu bukan hanya ada di dalam novel saja, rumah tanggaku pun mengalami hal yang sama." Batin Zea.
__ADS_1
"Ze, sebentar lagi pertunjukan bagus dimulai, lebih baik sekarang kita segera kembali." Ajak Tika.
Zea mengangguk patuh, dia sudah tak sabar melihat bertapa malunya Zena dan Vernando nanti. Zea juga ingin tahu apa yang akan dikatakan kedua orang itu padanya.
Zea dan Tika sudah kembali ketempat duduk mereka masing-masing. Kebetulan sekali Tika mendapatkan tempat duduk disebelah Zea.
Senyum licik terbit di sudut bibir Zena, ketika melihat Zea sudah kembali dari toilet. Menit-menit yang mereka tunggu sebentar lagi akan tiba.
"Tiga, dua, satu." Ucap Zena pelan.
Tang!
Lampu di dalam ruangan itu seketika pada dan menjadi gelap gulita.
"Ada apa ini." Panik semua orang, tapi tak lama kemudian lampun sudah kembali menyala.
Semua orang bernafa lega saat lampu sudah kembali meneriangi ruangan itu. Tanpa sadar kini netra semua orang menatap pada layar monitor yang ada di depan sana, orang-orang terperanjak kaget melihat sebuah adengan yang begitu memalukan di hadapan mereka saat ini.
"Zena pelan-pelan, jangan digigit...." Suara Vernando begitu jelas di layar monitor tersebut.
"Kamu juga Ver, jangan gigit bibir aku sayang." Kini suara Zena yang terdengar.
Orang yang mengenal Zea dan Zena pasti bisa membedakan suara kedua saudara kembar itu, karena suara Zea lebih lembut ketibang Zena yang cenderung cempreng.
Deg!
Ragu-ragu Zena melihat ke depan, betapa malunya dia saat tahu yang ada di dalam layar monitor itu perselingkuhan dirinya dan Vernando.
"Bukankah itu Zena, kenapa dia bisa bersama suami Zea saudara kembarnya tersendiri." Ucap beberapa orang.
Bukan hanya Zena yang begitu malu, Vernando juga sangat malu. Apalagi dia melihat kearah Zea yang memperlihatkan wajah kecewanya.
__ADS_1
Untungnya malam ini Rayan sebagai pemilik smart enterthaiment tidak membuka acara jamuan makan malam ini dimedia. Walaupun ada beberapa wartawan yang hadir, tentu saja para wartawan tidak ingin menyia-niyakan berita bagus ini.
Brak!
Dalam kekacuan yang terjadi, pak Nurman seketika mengeberak meja yang ada di depan beliau. Membuat semua orang menoleh pada pak Nurman, sorot mata laki-laki paruh baya itu sudah berbuah merah menahan amarah, rahangnya bahkan sudah mengeras. Mungkin siapa saja bisa terkena amuk pak Nurman.
Beliau begitu kecewa dengan putranya, Vernando bukan hanya mempermalukan dirinya sendiri, tapi orang tuanya.
"Apa-apaan ini Vernando! Katakan semua yang ada dilayar itu tidak benar!" bentak pak Nurman, beliau marah besar.
Baru pertama kali ini, pak Nurman begitu marah. Padahal orang-orang enterthaiment mengenal beliau sutradara yang baik nan ramah.
Anehnya dalam kekacauan itu Rayan sebagai pemilik enterthaiment tidak membersakan kekacauan yang ada malah ikut menanton.
"Bos."
"Biarkan saja dulu Dito." Sahut Rayan enteng.
Dito tak lagi berkomentar, dia menuruti apa yang dikatakan oleh sang bos.
"Jawab Vernando! Kamu sudah punya istir, apakah kamu lupa." Sentak pak Nurman semakin marah.
Zea melangkah mendekati papa mertuanya, yang sudah berdiri di depan Vernando dan Zena yang masih menunduk malu.
"Papa jangan seperti itu, kita dengarkan dulu penjelasan mas Nando dan Zena." Ucap Zea berusaha menenangkan pak Nurman.
"Kamu jangan terlalu baik pada dua orang ini Zea."
"Pa, apa yang Zea katakan benar, tolong papa dengar penjelasan aku dan Zena dulu. Zea kamu percayakan suamimu ini tidak mungkin berbuat kotor seperti itu."
"Nando benar Ze, aku sudah pernah bilang bukan, aku tak mungkin selingkuh apalagi dengan ipar sendiri." Sambung Zena.
__ADS_1