
Bismillah.
"Ayo kuat Zea, semua belum berakhir. Malam ini kamu harus segera menyelesaikan masalah yang ada." Batin Zea yang masih berada di dalam dekapan sang papa.
Merasa dirinya sudah lebih baik, Zea perlahan melonggarkan pelukan sang papa. Pak Wijaya mengelus pelan pucuk kepala putrinya.
"Kamu kuat sayang." Tutur pak Wijaya lembut.
Mendapatkan semangat dari sang papa Zea mengangguk yakin. Benar apa yang dikatakan papanya, dia pasti kuat. Buktinya sudah sejauh ini Zea tetap bertahan.
"Aku tidak akan membuang waktuku lagi. Aku akan langsung memberikan semua bukti atas semua perkataanku tadi."
Prok!
Zea menepuk tangan dengan kuat 3 kali, tak lama setelanya seorang masuk ke dalam gerombolan orang-orang banyak itu yang masih mengelilingi Zea serta yang lainnya.
Kedua bola mata Zena dan mama Eli melotot tak percaya kala melihat seorang laki-laki yang berjalan kearah mereka, laki-laki itu seakan tidak lagi memiliki wibawa untuk seorang lelaki.
"Papa." Gumun Zena pela.
Zea yang mendengar perkataan Zena tersenyum kecut. Padahal sedari dulu Zea dan papanya begitu menyayangi Zena. Zea benar-benar menganggap Zena saudara kembarnya, tapi apa yang diperbuat sekarang sangat menyakitkan hati Zea dan sang papa.
"Mbak Fia dan tante Putri tentu saja kenalkan siapa laki-laki yang sedang berjalan menuju kemari." Ucap Zea kedua netrnya tak lepas dari om Burhan yang berjalan menghampiri mereka.
Semua orang seakan memberi jalan pada Burhan agar bisa sampai di hadapan anak dan istrinya yang selama ini sudah mau mengikuti kejahatan yang dia renacakan. Harta ternayat bisa membuat orang menjadi gila dan tidak berakal. Begitulah yang terjadi pada keluarga Burhan, memanfaatkan kematian mama Eli. Mama kandung Zea untuk mendapatkan harta warisan dari keluarga Wijaya.
Zena menatap tajam Zea, dia tak terima melihat papanya lemah tak beradaya seperti ini di hadapan semua orang. Membuat Zena rasanya ingin sekali menampar Zea. "Apa yang kamu lakukan pada papa!"
__ADS_1
Deg!
Terbukti sudah ucapan Zea, jika Zena bukan anak pak Wijaya. Hanya Zea lah satu-satunya putri tunggal keluarga Wijaya tidak ada yang lain.
"Mas." Panggil tante Putri pada om Bruhan suaranya terdengar paruh. Sayangnya Burhan hanya menatap sejenak istrinya itu.
"Kamu marah karena aku sudah melakukan sesutau pada papamu iya begitu mbak Fia! Lalu bagimana dengan diriku yang selalu melihat kamu dan mama ingin mencelakai papa hah!" teriak Zea sudah tak mampu menahan emosinya.
"Di dunia ini kalian boleh menyakit siapa saja. Kalian menyakiti aku, aku tak masalah. Asal jangan papa! Ingat jangan papa!" lagi-lagi air mata Zea tumpah.
"Sedari kecil aku selalu iri padamu Zena! Kamu mendapatkan kasih sayang penuh dari mama, papa juga tak pilih kasih selalu menyayangimu. Walaupun aku tahu papa lebih sayang aku dari pada kamu. Tapi aku juga ingin seperti dirimu Zena! Mendapatkan kasih sayang dari mama. Sayangnya semua itu tidak pernah terjadi, sampai aku menyimpulkan jika di dunia ini aku hanya memiliki papa."
"Semenjak aku menikah dengan Nando, aku merasa memiliki seorang pelindung selai papa. Lagi-lagi semua itu tak berlangsung lama, aku melihat kamu dan Vernando selalu membuat rencana ingin membunuhku, kalian juga berselingkuh dariku. Jika aku tidak melihat perselingkuhan kalian saat di pantai bidadari waktu itu. Mungkin sampai sekarang aku akan tetap terjebak dalam permainan kalian."
Tumpah sudah semua isi hati yang selama ini Zea pandam. Untuk kata-kata terakir yang baru saja keluar dari mulut Zea tentu saja dia berbohong, dia mengetahui fakta perselingkuah suami dan kembarannya saat mati. Takdir saat itu masih berpihak padanya sehingga membuat dirinya bisa hidup kembali dalam waktu 7 bulan terakir sebelumnya.
Sungguh perubahan reakasi yang Zea lakukan benar-benar diluar dugaan, tadi dia menangis seperti seorang yang amat rapuh. Sekarang dia sudah kembali menjadi seorang wanita yang terlihat begitu tegar.
"Orang seperti apa sebenarnya dia ini." Batin Rayan merasa heran, sungguh Zea bukanlah seorang wanita yang mudah ditebak.
"Kalian semua keluarlah." Suruh Zea pada orang-orang suruhan Zena dan Vernando.
Satu persatu para orang bayaran itu segera keluar dari tempat persembunyiaan mereka. Zea memang sudah menangkap semua orang-orang itu.
"Kami memang orang-orang yang mendapat bayaran dari tuan Vernando dan nona Zena." Ucap kompak kelima orang bayaran itu.
"Kalian masih tidak percaya, ini rekaman terakhir yang aku ambil secara diam-diam dari perkataan Vernando dan salah satu dari mereka."
__ADS_1
Zea memutar rekaman tadi sebagai bukti terakhir untuk semua orang agar percaya bahwa apa yang dia katakan merupakan sebuah fakta.
"Masih ada satu lagi bukti kuat untuk meyakikan semua orang jika aku dan Zena bukan saudara kembar."
Tak...tak...tak....
Terdengar suara langkah seorang membuat mereka semua penasaran pada orang yang baru saja bergabung.
"Sial! Kenapa pula dokter tua itu ada disini." Geram tante putri dalam benaknya.
"Kalian banyak yang tidak mengela beliau pasti. Baiklah mari aku kenalkan, dia doktor Chen. Dokter yang mengoprasi wajah Zena agar bisa semirip wajahku beberapa tahun silam."
Zea melihat pada dokter Chen yang berdiri disebelahnya. "Tolong dok serhakan semua bukti." Ujar Zea.
Dokter Chen mengeluarkan tes DNA Zena dan Zea yang hasilnya negatif, keduanya bahkan bukanlah saudara kandung. Golongan darahpun tidak memiliki kesamaan. Lalu bukti lainnya, seperti transaki yang dilakukan untuk oprasi, serta perawatan rutin setiap tahunya.
"Semuanya sudah jelas bukan, malam ini apa yang aku katakan bukanlah omong kosong belaka." Zea tersenyum pada papanya, akhirnya setelah ini mereka bisa hidup bebas dari para pengkhianat.
"Papa aku serahkan semuanya pada papa. Terserah papa mau memberi hukuman apa pada mereka." Lalu Zea beralih menatap pemiliki smart enterthaiment yang sedari tadi masih berdiri di tempatnya.
"Pak Rayan. Saya mohon maaf dengan sebesar-sebesarnya, karena telah membuat acara FFI yang diadakan menjadi amat kacau. Saya bersedia mengganti semua kerugian yang terjadi dan saya juga bersedia dipecat tidak hormat dari smart enterthaiment karena sudah mengacaukan acara besar malam ini."
"Kamu yakin siap dipecat dengan tidak hormat dari smart enterthaiment? Kamu tahukan apa konsekuensinya jika dipecat tak hormat dari perusahaan saya ini."
"Saya tahu pak!" jawab Zea dengan mantap.
"Sayang kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya pak Wijaya.
__ADS_1
Pak Wijaya sangat tahu betul cita-cita putrinya. Sejak kecil Zea sudah bercita-cita ingi menjadi seorang artis terkenal, sekarang impiannya sudah tercapai malah Zea akan melepasnya begitu saja. Pak Wijaya sangat tahu perjuangan putrinya tak mudah bisa masuk ke perusahaan enterthaiment