
Bismillah.
"Sombong sekali cuman liburan ke bali saja, hanya beda kota. Kalau benar artis terkenal smart enterthaiment jalan-jalan keluar negri dong!" Begitulah komen yang Zena unggah dipostingan Zea yang baru dia posting beberapa saat lalu. Zena tentu saja menggunakan aku fakenya.
Zena tidak mau hanya ingin menjatuhkan nama Zea sampai mengorbankan followesnya yang sudah mencapai 1 juta pengikut itu.
"Memangnya kamu saja yang bisa pergi ke bali." Kesal Zena.
Entah apa yang ada di dalam otak Zena. Padahal dia sedang hamil, tapi masih sempat-sempatnya mengurusi urusan orang lain. Bahkan Zena tidak sedikitpun memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya itu.
"Aku juga akan pergi ke bali." Ucap Zena pada diri sendiri dengan suara yang senang.
"Kamu bilang apa tadi Zen, mau ke bali." Sahut Vernando yang entah datang dari mana.
"Iya aku mau ke bali mas. Yuk, mas ke bali, anggap aja sebagai hadia bulan madu kita."
"Tapi Zen, kamu sedang hamil kasihan bayi kita kalau pergi jauh-jauh." Peringat Vernando.
Dia tidak ingin mengambil resiko besar, Vernando tidak ingin hal buruk terjadi pada bayinya. Sungguh Vernando akan membiarkan bayi itu lahir dengan selamat. Bahkan Vernando sudah berjanji pada diri sendiri akan merawat bayi mereka nanti dengan penuh kasih sayang.
"Apa masalahnya mas! tidak perlu khwatir kan yang hamil aku. Aku bisa menjaga bayi dalam perutku ini, atau mas Nando memang tidak mau kita bulan madu." Kesal Zena.
Deg!
Hati Vernando terasa sakit, bukan karena kata-kata yang Zena ucapkan. Tapi nama panggil mas Nandon yang biasa dia dengar dari mulut Zea. Tidak tahu kenapa hatinya begitu merindukan suara Zea saat memanggilnya dengan sebutan mas Nando.
"Jadi mau atau tidak kita bulan madu? Kalau tidak mau biar aku pergi sendiri."
"Besok kita berangkat ke bali." Putus Vernando akhirnya.
"Yes! Lihat saja Zea, aku dan Vernando akan terlihat sangat mesra di depamu nanti saat di bali. Aku akan membuatmu malu nanti disana." Batin Zena sudah mulai memiliki rencana licik kembali untuk membuat malu Zea.
Padahal sudah berkali-kali Zena selalu gagal untuk mempermalukan Zea dan berujung dirinya sendiri yang terkena getahnya. Tapi tak membuat Zena jera juga untuk terus mengusik kehidupan Zea.
"Terima kasih mas." Ucap Zena langsung memeluk Vernando dengan mesra. Vernando tentu saja membalas pelukan Zea.
__ADS_1
Walaupun pikirannya saat ini tertuju pada wanita lain. Lebih tepatnya mantan istri Vernando. Siapa lagi kalau bukan Zea.
"Bagaimana mas sudah dapat apakah diterima di perusahaan swasta terbaik itu?" tanya Zena setelah melepaskan pelukannya dengan Vernando.
Sampai saat ini Zena masih mau bertahan dengan Vernando, yang jelas-jelas seorang pengangguran semenjak dipecat tidak hormat dari smart enterthaimet. Karena Zena memiliki alasan, pertama dia tahu Vernando memilik tabungan yang lumayan banyak, kedua Zena juga tahu ayah mertuanya seorang sutradara populer. Maka Zena tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Lalu Zena juga mengira, jika Zea masih menyukai Vernando. Maka dari itu Zena berniat untuk membuat panas Zea, saat melihat dirinya dan Vernando sangat mesra.
"Diterima tidak mas?" tanya Zena sekali lagi.
"Diterima nanti tanggal 10 sudah mulai masuk, untung mereka tidak banyak yang tahu kalau aku mantan artis dari smart enterthaimet."
"Jadi besok kita ke balinya dong sebelum kamu kerja tanggal 10." Putus Zena begitu saja tanpa meminta persetujuan dari suaminya.
"Tapi Z-"
"Tidak ada kata protes mas, sudah ayo kita makan. Kamu belikan apa yang aku titip tadi." Vernando hanya mampu mengangguk lemah.
Sementara itu Zea dan Tika benar-benar melihat sunset yang begitu indah di pantai kuta bali. Rasa lelah dan kesal terbayarkan bagi Zea dan Tika saat dapat menikmati sunset yang sangat indah.
Keduanya bahkan mengambil beberapa gambar untuk dijadikan kenang-kenangan.
"Balik yuk Ti, udah hampir gelap juga. Sunsetnya pun sudah tidak terlalu jelas lagi." Ajak Zea.
Hari ini Zea sangat menikmati liburannya dengan Tika, walaupun tadi ada kendala karena harus bertemu dengan Renal yang membuat mood Zea sedikit tidak baik.
"Ze, tadi kamu beneran ngasih nomor ponsel sama laki-laki yang makan bareng kita tadi."
"Iya Tik, kamu tenang aja aku kenal dia kok." Sahut Zea.
Keduanya berjalan menuju hotel sambil mengobrol disepanjang perjalanan.
"Tapi tumben banget kamu secara cuma-cuma ngasih nomor ponsel sama orang."
"Sudah lupakan Tik, Renal orangnya baik kok." Tika hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Sampai di hotel keduanya segera membersihkan diri. Zea tidak lama-lama membersihkan diri.
Setelah dirasa tubuhnya sudah kembali segara Zea segera menyelesikan ritual mandinya. Berbeda dengan Tika yang masih betah berandam.
"Aku lupa menghubungi papa." Ucap Zea pada diri sendiri, dia bahkan sampai memukul kepalanya sendiri karena lupa.
Setelah mengganti baju Zea segera meraih hpnya untuk menelepon sang papa. Tidak butuh waktu lama sambung telepon itu langsung terhubung.
"Halo pa, Zea sudah sampai di bali maaf baru mengabari papa. Habisnya tempat disini bagus banget sangat-sangat memanjakan mata Zea. Jadi lupa deh kalau belum ngasih papa kabar." Ucap Zea panjang lebar saat sambung telepon dia dan papanya terhubung.
Pak Wijaya diseberang telepon tertawa renyah mendengarkan curhatan putrinya.
"Sepertinya kamu sangat menikmati liburanmu ya Ze." Sahut pak Wijaya.
Dia senang mendengar putri tunggalnya dalam keadaan senang juga.
"Iya dong pa, makanya papa cepet nyusul kesini. Zea mau liburan sama papa."
Lagi-lagi pak Wijaya terkekeh mendengar curhatan putrinya. Zea ternyata mendengar suara orang lain selain papanya dari telepon.
"Papa sedang bersama siapa?" tanya Zea memastikan.
"Ooh, papa bersama nak Rayan sedang membahas pekerjaan."
Hah!
"Pak Rayan serius!" pekik Zea tak percaya, untungnya dia hanya mampu menjerit di dalam hati. Tapi tak lama kemudian obrolan Zea dan papanya kembali berlanjut.
Rayan yang memang berada satu ruangan dengan pak Wijaya dan Dito juga. Dia tersenyum dalam hatinya saat telah mengetahui keberadaan Zea.
"Akhirnya aku tahu juga dimana kamu pergi berlibur." Batin Rayan merasa senang.
Dito menatap aneh pada bosnya, hanya beberapa detik tanpa sepengetahuan Rayan. Hanya beberapa detik tidak lama-lama. Karena Dito tak ingin terkena semprot oleh bosnya itu.
"Maaf nak Rayan saya barusan angkat telepon dari Zea." Ucap pak Wijaya setelah sambung teleponnya dengan sang putri terputus.
__ADS_1
"Tidak apa pak, maaf jika selama bekerja dengan saya putri bapak jadi jarang menikmati waktunya."
"Tidak nak Rayan, justru karena Zea sudah memilih untuk menjadi bagian dari smart enterthaimet itu sudah menjadi tanggung jawabnya."