
Bismillah.
"Yes, akhirnya bisa liburan juga. Nggak papa tetap menjadi bagian dari smart enterthaiment yang penting sekarang bisa liburan." Ucap Zea senang sekali.
Bahkan senyumnya tidak pernah pudar setelah keluar dari ruangan Rayan. Zea dengan semangat kembali melanjutkan syutingnya.
"Kamu kayaknya senang banget Zea, abis dapat bonus dari atasan?" tanya Tika penasaran.
Bukan hanya Tika yang menatap aneh Zea sejak tadi terus mengembangkan senyumnya. Tapi hampir semua orang di perusahaan smart enterthaiment itu merasa heran, jarang sekali Zea memperlihatkan wajah cerahnya itu.
"Iya abis dapat bonus. Bonus liburan 2 minggu." Jawab Zea senang.
"Yak! Kok libur sih, terus aku sendiri." Kesel Tika.
"Mau ikut aku juga nggak papa kok, tapi izin sendiri sama bos ya."
Walaupun Tika merupakan manejer dari Zea, tapi tetap saja Tika terkontrak dengan smart enterthaiment, bukan dengan Zea. Karena memang perusahan itu yang mencarikan manager untuk artis mereka.
"Bisa sih, lagian aku kan cuman pegang kamu doang yang lainnya bisa lewat gmail aja. Tapi aku nggak bernai ngomong sama pak Rayan." Sedih Tika.
Zea terseyum, sepertinya kali ini dia memiliki sebuah ide untuk temannya itu. Lagipula Zea pikir-pikir jika pergi liburan sendiri tidak akan enak, apalagi disana nanti dia tak kenal siapapun. Lebih baik dia pergi bersama Tika.
"Kamu bisa bilang sama pak Dito, Ti, lagipulakan pak Dito yang bertanggung jawab untuk para manjer." Usul Zea.
"Wah, kamu benar juga Zea. Nanti aku temui pak Dito." Mendengar perkatan Tika, Zea mengangguk saja.
Setelah urusan mereka selesai, waktu pulang kerja juga sudah tiba. Zea dan Tika langusung bersiap untuk pulang.
"Nanti mau liburan kemana Ze?" tanya Tika memastikan lebih dulu.
"Bali, Sumatera atau Raja ampat kamu pilih mana?"
"Bali gimana Ze?"
"Setuju, kalau gitu aku duluan ya Tik, papa udah jemput. See you."
"See you Ze." Jawab Tika membiarkan temannya itu menuju sebuah mobil berwaran hitam yang Tika paham betul itu mobil milik om Wijaya.
"Aku harus menemui pak Dito terlebih dahulu." Putus Tika setelah melihat Zea sudah benar-benar masuk ke dalam mobil pak Wijaya.
__ADS_1
"Papa." Sapa Zea bahkan langsung terseyum kala melihat papanya menjemput.
"Kamu terlihat bahagai sekali, ada apa?" tanya pak Wijaya sambil melajukan mobilnya.
"Heheh," Zea tertawa renyah mendapatkan pertanyaan dari papanya. Papanya itu entah sudah orang keberapa yang mengatakan dirinya hari ini terlihat bahagia sekali.
"Iya dong pa, Zea kan dikasih waktu libur 2 minggu sama pak Rayan." Ucapnya senang.
"Kamu serius sayang? Bukankah dulu kamu cerita sama papa, produser kamu itu tidak akan pernah memberikan jatah libur dalam waktu yang lama untuk semua artisnya."
Pak Wijaya ingat betul dulu bagaimana putrinya selalu terlihat begitu lelah, karena job yang Zea ambil selalu padat. Jika dilihat-lihat mungkin dulu Zea tak ada waktu istirhat. Mungkin saat waktu jadwal Zea padat itulah sang suami dan mantan kakak kembar gadungannya itu memanfaatkan waktu mereka untuk berselingkuh.
"Zea juga kurang tau pa, akhir-akhir ini pak Rayan kelihatan baik banget sama Zea." Ucap Zea polos.
Entah dia memang benar-benar polos, atau pura-pura polos. Bahkan mungkin Zea memang tidak peka sama sekali, dia benar-benar tidak peka, Jika Rayan memiliki rasa dengan dirinya.
"Tapi aku perhatikan dari pertemuan kami di rumah makan waktu kemarin, sampai malam tadi. Rayan begitu perhatian dengan Zea. Aku tidak tahu Rayan seperti apa orangnya, jika dia nanti benar-benar menjadi jodoh Zea. Aku berharap Rayan bisa membahagikan Zea." Batin pak Wijaya tetap fokus mengemudi.
"Papa aku besok mau ke bali boleh, atau papa ikut sekalian." Ucap Zea langsung meminta izin pada papanya.
"Berapa minggu di bali Ze?" tanya pak Wijaya menoleh pada putrinya sejenak lalu kembali fokus mengemudi.
"Tentu boleh, nanti papa akan menyusul. Kebetulan 5 hari lagi papa juga ada pertemuan di bali."
"Baiklah."
Seru menghabiskan waktu dengan mengobrol, sampai tak terasa jika mobil yang dikendari pak Wijaya sudah masuk ke halaman rumah keluarga Wijaya.
Saat mobil berheti Zea tak langsung turun dari mobil, dia malah menatap papanya sejenak. Pak Wijaya yang merasa diperhatikan menoleh pada Zea.
"Ada apa?"
"Papa nggak papa nanti Zea tinggal?" entah kenapa Zea merasa tidak rela untuk meninggalkan sang papa berlibur ke bali.
"Astaga Ze, papa kira ada apa. Memang papamu ini anak kecil apa, lagian nih ya kan nanti papa nyusul. Walaupun cuman ada bisnis saja."
Barulah Zea mengangguk, dia dan papanya segera turun dari mobil. Masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah Vernando dan Zena.
"Mas kapan sih kamu beli rumah yang lebih besar dari ini." Ucap Zena pada Vernando suaminya.
Keduanya sedang menikmati pernikahan mereka. Tidak tahu kenapa Vernando merasa tidak bahagia menikah dengan Zena, padahal dulu dia ingin segera menikah Zena saat masih berstatus suami Zea.
"Nanti kalau sudah ada uang."
"Bukannya tabungan kamu banyak ya mas, atau jangan-jangan sudah dikuras oleh mantan istrimu itu."
Tidak sadar diri Zena, justur selama ini uang Vernando habis untuk kesenangan mereka berdua saat mengkhianati Zea. Mungkin saja Zea tak sepesarpun memakan uang dari hasil gaji suaminya. Dulu saja Vernando tidak akan sungkan untuk meminjam uang dengan Zea. Parahnya lagi, dia tidak akan sungkan untuk meminta uang pada istri sendiri.
"Zea tidak pernah meminta apapun dariku." Jawab Vernando.
Ternyata jawaban yang Vernando berikan mengundang kemarahan tersendiri untuk Zena. Padahal apa yang Vernando katakan adalah sebuah fakta.
"Kok kamu bela Zea sih mas! Ingat ya Zea itu mantan kamu." Marah Zena.
"Astaga, aku tidak membelanya. Aku hanya mengatakan sebuah fakta, kenapa begitu saja kamu jadi marah sih." Gerut Vernando menaikan sedikit suaranya.
"Kok kamu bentak aku."
"Iya maaf." Sahut Vernando menghembuskan nafas kasar.
Tidak Zena tahu jika rumah yang mereka tempati saat ini adalah rumah milik Zea. Hasil jerih payah kerja Zea sealam ini. Jika Vernando dan Zena dulu saat masih menjadi artis asyik menghamburkan uang mereka.
Berbeda dengan Zea akan menyisihkan sedikit uangnya untuk dijadikan sebuah tabungan. Contohnya saja sekarang dia memiliki 75% saham di perusahaan smart enterthaiment.
"Baru sehari semalam aku menikah dengan Zena, tapi sudah berdebat seperti ini. Padahal dulu waktu aku menjalakan rumah tangga dengan Zea, tidak ada pertengkaran. Zea selalu mengerti tentangku." Batin Vernando, dia heran pada dirinya sendiri, semenjak menikah dengan Zena yang dia pikiran selalu Zea, Zea dan Zea.
Hai para redes mampir kecerita di atas ya👆
Judul : Matahari di tengah kegelapan.
Author : Mentarikelabu.
Mohon dukungannya gusy🤗
__ADS_1