
"Tania" teriak Adelia
Tania menoleh dan menatap Adelia yang telah meneriaki namanya
"Mama" ucap Reno memperingatkan agar tidak berbuat macam macam
"Siapa sebenarnya kamu hah" ucap Adelia
"Apa kau telah menipu kami"
"Bukankah dulu kau hanya keluarga miskin"
"Lalu sekarang bagaimana bisa kau membeli perusahaan sebesar ini"
"Apa jangan jangan kamu yang membuat kami mengalami kebangkrutan"
"Ya!! Memang aku yang membuat kalian bangkrut" ucap Tania
"Aku gak nyangka sama kamu Tania" ucap Reno
"Dan aku lebih tidak menyangka lagi jika kau bisa berhianat tuan Reno dan jangan lupakan hal itu" ucap Tania dengan penuh penekanan
"Itu adalah pelajaran buat kalian karena telah berani memeperlakukanku dengan semena mena apa kau lupa Adelia kau dulu menyiksaku terus menerus dan ini adalah salah satu balasannya" ucap Tania
"Tania!! Ingat dia masih mama mertua kamu!!" ucap Reno
"Tidak lagi" ucap Tania menantang
"Dan sekarang aku ingin kau menalakku" ucap Tania dengan bersedekap dada
Reno hanya diam menatap istrinya yang tengah berdiri di depannya itu
"Ceraikan saja dia!! Dia yang telah merenggut kebahagiaan kita Reno!! Dia juga yang telah mengambil segalanya dari kita" ucap Adelia
"Baiklah"
"Tania Putri Effendi aku menalak kamh dan mulai sekarang kau bukan lagi istriku" ucap Reno mengucapkan kata talak pada istrinya itu
Astaga Reno tidak menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya. Dia yang berharap menikah sekali seumur hidup kini sudah tidak lagi. Pernikahannya hancur karena ulahnya sendiri
"Baguslah" Tania mengeluarkan amplop coklat dari tas mahal miliknya
__ADS_1
Wanita itu menyodorkan amplop itu pada Reno, mantan suaminya. Reno meraih amplop itu dan membukanya
"Aku sudah menggugat mu sampai bertemu di pengadilan" ucap Tania dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka bertiga
"Dan sekarang nikmati saja penderitaan kalian" ucap Melani dengan tersenyum miring dan menyusul putrinya
Acara telah selesai seluruh keluarga Effendi yang hadir pulang ke kediaman mereka.
"Percuma kita kesini" ucap Adelia
"Kalian tidak perlu bekerja di perusahaan ini kalian masih bisa cari pekerjaan lain" ucap Adelia melarang
"Mending kita pulang sekarang" ucap Hendra
Mereka bertiga pulang ke kontrakan mereka. Adelia dengan berdecak kesal langsung masuk ke dalam kamarnya
"Sial ternyata dia bukan wanita miskin seperti yang aku kira" ucap Adelia
.
.
Beberapa hari kemudian
"Reno dan Hendra" ucap Tania dengan membaca dua dokumen di tangannya
"Mereka memasukkan lamaran pekerjaan juga" ucap Tania dengan tersenyum
"Panggil mereka untuk bekerja" ucap Tania dan menyerahkan dua dokumen itu pada sekretarisnya
"Apa tidak di wawancara terlebih dahulu"
"Tidak perlu mereka bisa bekerja secara langsung" ucap Tania
"Baiklah"
.
"Apa? Kau serius aku di terima bekerja" ucap Reno dari sambungan telepon
"Baiklah besok aku akan kesana" ucap Reno
__ADS_1
Reno menutup sambungan telepon secara sepihak dan meletakkan ponselnya di atas meja
"Ada apa Reno kau kelihatannya senang" tanya Adelia pada putranya
"Aku di terima bekerja" ucap Reno
"Oh ya? Dimana?" tanya Adelia antusias
"Di perusahaan Tania" ucap Reno membuat senyum Adelia luntur seketika
"Mama sudah bilang jangan bekerja disana" ucap Adelia
"Tapi ma... hanya itu satu satunya yang menerima surat lamaranku" ucap Reno
"Masih banyak perusahaan lain" ucap Adelia
"Tap..."
Tok...tok...tok...
"Bentar Reno buka dulu"
Reno membuka pintu dan terlihat dua orang berbadan kekar berdiri di depan pintu
"Kapan mau melunasi hutang" teriak salah satu dari mereka
Adelia langsung mendekat ke arah Reno saat mendengar suara lantang dari arah depan pintu
"Saya mohon kasih saya waktu saya baru saja mendapatkan pekerjaan dan sesegera mungkin akan saya bayar" ucap Reno
"Baiklah satu minggu kalian harus melunasi hutang" ucap mereka dan pergi
"Astaga Reno"
"Ma mah tidak mau aku harus ambil pekerjaan itu" ucap Reno
"Papa juga mendapat panggilan untuk bekerja" ucap Hendra
"Dimana" tanya Adelia berharap jika bukan di perusahaan mantan menantunya itu
"Sama dengan Reno" ucap Hendra
__ADS_1
"Jika kita tidak bekerja lalu kita melunasi hutang menggunakan apa" ucap Reno
"Yaudah deh"