
Sastri tiba di kediaman orang tuanya tepat jam sembilan malam. Kedua orang tuanya memang sudah menunggu karena sudah mengatakan ada masalah penting yang harus dia bicarakan. Semenjak bekerja di Dirjen Pajak, Sastri memilih tinggal terpisah dengan orang tuanya. Dari hasil bekerja di enam perusahaan selama tiga tahun di luar negeri, ia mampu membeli sebuah unit apartemen dan satu unit mobil sport keluaran terbaru.
“Kamu sudah makan?” tanya sang mama begitu melihat sang putri sampai di rumah.
Putri yang dulu begitu anggun serta ceria kini berubah entah karena apa yang menjadi penyebabnya. Kedua oran tuanya bahkan sampai sekarang masih bertanya-tanya tentang perubahan putri tunggal mereka tersebut.
“Aku sudah makan, Ma. Langsung aja, Pa. aku sudah tanya ke teman-teman yang sesama alumni dan mereka bilang jika perusahaan Andrew sudah diakuisisi oleh perusahaan lain. Jadi aku merasa aneh-“
“Tunggu!”
Bapak Mahardika sedikit terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh putrinya tersebut. “Perusahaan Tecno.co milik Andrew telah diakuisisi?” Bapak Mahardika ingin memastikan apa yang di dengarnya saat ini adalah benar.
“Iya, Pa. perusahaan Andrew sudah diakuisisi oleh perusahaan Jo Group. Makanya –“
“Tunggu!, tadi kamu menyebutkan Jo Group?”
Sastri menghela nafasnya saat papanya lagi-lagi menyela perkataannya yang belum selesai.
“Iya, Pa. Tecno.co sudah diakuisisi oleh Jo Group. Dan yang bikin aku heran adalah kehadiran Andrew di kantor Papa sebagai investor? Apa tidak aneh?”
Pertanyaan Sastri justru membuat kedua orang tuanya diam saling memandang. Sastri menyadari gelagat aneh dari kedua orang tuanya, “Apa ada yang tidak aku ketahui?”
“Tidak ada. lantas kamu mengenal Andrew dari mana?”
Deg…
“Em…dia satu kampus sama aku, Pa. tadi kan aku sudah bilang.”
“Oh iya. Maaf, Papa lupa. Capek seharian belum istirahat. Ya sudah, kalau begitu Papa istirahat dulu. Selagi kamu di sini, Papa mau tanya. Kapan kamu akan mengambil alih bisnis Papa?”
“Nanti aku pikir, Pa.”
“Kamu tidur di sini kan? Sesekali tidurlah di rumah, kami kesepian cuma berdua. Lebih baik lagi kalau kamu segera menikah. Biar rumah ini ramai.”
“Maaaaaa. Aku pulang ya!.” Sastri pergi meninggalkan kediaman orang tuanya.
Setelah kepergian sang putri, sepasang suami istri itu sedang membicarakan pembicaraan penting di kamar mereka.
“Apa ini, Pa?”
“Papa juga tidak mengerti, Ma.”
“Bagaimana kalau Sastri sampai tahu? Mama takut, kalau Andrew sengaja diutus untuk menghancurkan kita, Pa.”
__ADS_1
“Sudahlah, Ma. Tapi lambat laun, Sastri akan mengetahuinya juga. Lebih baik kita cari waktu yan tepat untuk membicarakan ini dengan Sastri sekaligus kita berdiskusi tentang keberadaan Andrew.”
Ibu Ariyanti mengangguk kecil. Keduanya berbaring dengan mata sulit terpejam lantaran kilasan-kilasan masa lalu kembali menghampiri mereka malam ini.
Setelah meninggalkan rumahnya, Sastri yang tadinya ingin makan namun karena perkataan ibunya ia jadi tidak berselera. Sastri menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai mie ayam langganannya saat masih SMA dulu. Mobil mewah Sastri tentu mengundang perhatian para pengunjung kedai tidak terkecuali sang penjual mie ayam tersebut.
“Masih ada, Pak?”
“Eh, si Eneng ternyata. Dah berubah ternyata, makin cantik aja. Eh, Bapak jadi ngawur, masih, mau makan di sini atau dibungkus?”
“Di sini aja, Pak. Es teh juga ya Pak, seperti biasa.”
“Oke…”
Bagi para laki-laki yang berada di warung tersebut, penampilan Sastri memang cantik dan mengundang perhatian tapi bagi pasangan mereka tentu menjadi sebuah kecemburuan hingga percikan api cemburu tersebut justru dipercikkan ke arah Sastri.
“Mampir di sini sengaja untuk pamer, kalo di resto mewah siapa yang mau lihat. Yang beginian di sana udah biasa.”
“Iya, Mbak. Hidupnya sepi makanya pingin diperhatikan.”
Sastri hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredam amarah, “Yee…akhirnya datang juga. Es batunya banyak kan? Lumayan buat mendinginkan hati saya yang mulai panas karena suara lalat.”
“Eh, si Eneng. Mana ada lalat jam segini. Lagian, kemana aja sih Neng kok baru muncul sekarang? bapak dengar ke Amerika ya?”
“Ada beberapa anak yang masih datang kemari. Mereka yang bilang kalau Neng diterima di kampus Obama di Amerika sana. Benar ya?”
“Iya, Pak. Ini baru berapa bulan di sini. Dulu ada sih pulang tapi cuma bentar. Oh iya, anak-anak sekolah aku dulu yang mana ya Pak?”
“Yang laki-laki rame itu, yang sering bolos.”
“Oh, iya. Aku ingat.”
“Gih dimakan dulu nanti dingin. Bapak ke sana dulu.”
“Sip…”
Para lalat yang tadi mengejeknya kini berubah diam seolah menyesal telah menggunjingnya. Sastri sendiri dengan santai melahap mie ayam yang sangat ia gemari dulu saat masih SMA.
Ting…
“Besok, kita akan mengaudit pengacara 50 M, siap-siap gaeysss!”
Sebuah pesan di grup kantor membuat Sastri kembali harus menarik nafas dalam-dalam. Masalah yang satu belum selesai muncul lagi masalah dengan Andrew dan sekarang harus menguadit pajak pengacara 50 M yang pasti sangat menyita waktu.
__ADS_1
Sastri keluar dari warung mie ayam tersebut lalu mengendarai mobilnya menuju tempat yang menurutnya bisa meredakan tekanan dalam pikirannya saat ini. Banyak muda-mudi yang sedang bersama di sana hingga Sastri mengurungkan niatnya untuk turun.
Tok…tok…
“Mas Adit”
Sastri terkejut saat melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya, “Mas di sini?” tanya Sastri memulai basa-basi karena dia merasa seperti tertangkap basah.
“Tadi aku lagi di jalan, terus melihat kamu keluar dari warung mie ayam. Ya sudah, aku ikuti saja. Ternyata kamu ke sini,” Sastri turun lalu berjalan mendekati bebatuan besar pemecah ombak yang berada di pinggir laut.
“Kamu lagi ada masalah?” tanya Adit seraya menggenggam tangan Sastri. Diperlakukan begitu, tentu saja Sastri terkejut namun dia berusaha bersikap biasa saja.
“Terlihat jelas ya?” tanya Sastri sambil memandang Adit sekilas lalu kembali membuang mukanya ke arah laut.
“Iya. Kamu bisa cerita ke aku jika kamu mau. Aku siap mendengarkan.”
Sastri tersenyum menatap Adit, “Terima Kasih, Mas. Kalau nanti saya sudah tidak sanggup pasti akan cerita ke Mas. Untuk sekarang biar saya tangani sendiri dulu. Maaf, Mas. Saya harus pergi.”
Sastri langsung bangun dari duduknya lalu, “Apa kamu sedang menghindariku?”
Deg…
Seraya tersenyum, Sastri membalikkan badannya, “Untuk apa saya menghindari, Mas?” ia membalas pertayaan dengan pertanyaan. Trik yang cukup bagus untuk mengulur waktu.
“Aku merasa itu yang sedang kamu lakukan sekarang?”
“Maaf, Mas. Saya harus pergi. Waktu saya tidak hanya untuk bersenang-senang.”
“Tapi, aku butuh jawabanmu sekarang?”
“Jawaban apa? Saya rasa Mas sudah salah paham.”
“Itu yang mau aku tahu. Apa artinya aku dihatimu?”
“Mas itu teman saya.”
“Siapa kamu sebenarnya?”
Deg…
***
__ADS_1