
“Pergerakan mereka sudah terdeteksi, Nona.”
“Pantau terus dan tetap waspada!”
Tutt…
Joseph dan Melik pergi ke vila emas milik Lady Jasmine bersama beberapa anak buah bersenjata lengkap.
“Tuan, kita harus berganti pakaian. Daerah ini sangat sensitif. Kalau ada yang mencurigakan, polisi setempat langsung menangkap kita.”
Joseph menatap pemuda di depannya dengan kesal. “Diam dan ikuti saja!” bentak Joseph. Melik sering kali mengingatkan Joseph tentang berbagai larangan setiba mereka di sana tapi sayangnya Joseph tidak mau mendengar.
“Apa Tuan mau kedatangan kita ke sini sia-sia?” Joseph menghentikan langkahnya lalu menatap Melik seraya menghela nafas.
Melik membuka bagasi belakang kemdian berpakaian ala daerah tersebut. Selanjutnya mereka langsung memasuki area perkampungan dengan berjalan kaki hingga mencapai bangunan terakhir di dekat tebing.
“Itu tempatnya!” ucap Melik.
Joseph memperhatikan bangunan itu dari luar, “Kamu yakin?”
“Kalau aku tidak yakin, aku tidak akan mengikuti Tuan ke sini.”
“Tidak mungkin mereka menyimpan emas di sini tanpa penjaga. Sepertinya keputusanku sangat ceroboh kali ini.”
“Tuan, aku sudah melihatnya sendiri secara diam-diam. Sebenarnya, tidak ada yang bisa masuk ke kampung ini karena semua warga kampung ibarat pasukan pengaman dan mata-mata. Hanya saja, penampilan kita terlihat sama dengan mereka hingga membuat mereka tidak curiga. Seandainya tadi kita tidak mengganti pakaian mungkin saat ini kita telah dibawa ke kantor polisi.”
“Ayo masuk! Kalian, tetap waspada!”
Melik mengikuti langkah Joseph bersama anak buahnya. Pintu villa terkunci kemudian melik mengajak Joseph ke pintu samping. Pintu itu terbuat dari setengah kaca hingga dengan sedikit pukulan langsung pecah. Melik langsung membawa Joseph ke ruang bawah tanah vila tersebut.
“Kenapa jauh sekali?” gerutu Joseph.
“Memang harus jauh, Tuan. Yang ada di dalam sana itu bukan emas satu atau dua kilo saja tapi banyak.” Mereka terus menyusuri lorong hingga langkah Melik terhenti di lorong. Matanya menatap sekeliling dengan rapi karena semua dinding itu dipenuhi oleh lukisan.
“Ada apa?”
“Di sini, Tuan. Tapi aku bingung tepatnya di mana karena banyak sekali lukisan. Dulu tidak ada lukisan satu pun.”
Melik meminta anak buahnya untuk menyingkirkan semua lukisan mewah itu kemudian terlihatlah dinding yang memiiki warna hampir senada dengan warna dinding.
__ADS_1
“Itu!” tunjukk Joseph.
“Jeli juga mata tua bangka itu!” batin Melik.
“Jangan diam saja, segera buka ini!” titah Joseph pada Melik karena hanya Melik yang tahu cara membuka pintu tersebut.
“Kalian tunggu di sini!” titah Joseph pada dua orang anak buahnya sementara dia, Melik dan beberapa anak buahnya ikut masuk ke dalam.
“Apa lorongnya sejauh ini?” tanya Joseph.
“Iya, Tuan! Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga perlu perjuangan.”
Mereka terus menyusuri lorong hingga sampai ke ujung lorong dan terlihatlah sebuah ruangan tertutup tapi cahaya di dalamnya sangat kekuningan. Mereka bergegas menuju ke ruangan tersebut.
Dor…
Dor…
Dor…
Joseph tidak sabar hingga langsung menembak ke arah kunci pintu setelah itu mereka bergegas masuk ke sana. Sementara di luar, dua anak buah Joseph yang sedang berjaga sudah dilumpuhkan menggunakan pistol yang dipasang peredam hingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan mereka yang sudah masuk ke dalam.
“Aku tidak menyangka jika mereka seceroboh ini.” Ucap Joseph.
“Tidak ada yang tahu tentang emas ini, Tuan. Aku sendiri tidak sengaja mendengarnya.”
“Tapi ini terlalu mudah, Melik. Aku merasa ragu. Cepatlah! Kita harus bergegas keluar dari sini.” ucap Joseph namun sayangnya dari arah dinding keluar asap dan dalam sekejap membuat mereka roboh.
Vila di pinggir tebing itu terlihat tenang seperti biasa dari luar tapi di dalam ruang bawah tanah, Joseph, Melik dan para anak buahnya sedang meraung-raung untuk keluar. Berkali-kali Joseph mencoba menghubungi orang tapi ponsel mereka tidak ada sinyal.
“Sial! Seharusnya dari pertama aku sudah curiga kalau ini terlalu mudah. Tidak mungkin mereka meninggalkan emas sebanyak ini tanpa pengawasa.”
Berhari-hari terkurung tanpa minuman dan makanan membuat tubuh mereka lemah karena kekurangan cairan. Sementara di tempat lain, Sastri tersenyum penuh kemenangan saat melihat dari kamera tersembunyi di ruangan itu. Bagaimana tersiksanya Joseph dan Melik.
“Apa tindakanmu selanjutnya?” tanya Lady Jasmine menatap Satsri yang tengah menangis seraya tertawa.
“Sakitku tidak seberapa dengan apa yang mereka alami, Lady. Aku ingin mereka mendapatkan yang lebih dari yang kurasakan.”
“Sesuai keinginanmu.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan Viona?” tanya Lady Jasmine kembali.
“Dia akan bekerja dengan caranya dan untuk Tuan Moestafa, biarkan Rachel yang bekerja. Aku ingin membuat mereka miskin, Lady.”
“Aku ragu dengan itu. Aku takutnya jika Rachel lah yang menjadi kaya setelah itu.” ucap Lady Jasmine hingga menyita seorang gadis yang namanya sedang diperdebatkan itu menoleh.
“Tenang saja, Lady. Separuh hartaku akan menjadi milikmu juga kalau aku menjadi Nyonya Moestafa yang ke empat.”
“Apa kau yakin mau mengambil peran ini? Kamu tahu sendiri kalau kali ini kamu harus totalitas bahkan sampai di atas ranjang.” Sastri mengingatkan.
“Tenang saja, Nona. Aku ini tahu posisiku. Dan aku bisa mendapatkan pembayaran dari dua pihak sekaligus. Aku untung besar, Nona.”
“Semua yang kau dapatkan dari Moestafa adalah hakmu. Aku tidak akan meminta tapi aku harap kamu tetap waspada karena istri kedua dan ketiga pria itu sangat posesif. Kali ini usahamu mendekati Moestafa akan mudah karena Melik sudah menghilang. Kini aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan dua wanita mantan sahabatku serata satu pria anteknya.”
“Apa kau memerlukan tenaga tambahan? Aku rasa untuk menghadapi dua wanita itu, kita perlu tenaga seorang pria.” Usul Lady Jasmine.
“Akan kupikirkan Lady. Tapi aku harus fokus mencari tahu tentang putra Joseph terlebih dahulu. Aku tidak ingin menyakiti orang yang salah.”
“Kalau begitu pergunakan kesempatan ini untuk mencari jejak Joseph sedetil mungkin selama dia kita amankan.”
Sastri menghela nafas, “Ada satu lagi yang sedang mengincarku dan pria ini sangat mendendam padaku. Aku belum bisa bebas, Lady. Selama Adit masih memburuku, hidupku masih belum tenang.”
“Apa Viona tidak bisa menjalankan double misi kali ini?”
“Tidak, Lady. Pria ini hanya mengincarku dan dia sangat berbahaya. Aku tidak ingin Viona terjebak dengannya. Terlalu berbahaya apalagi tugas Viona hanya berurusan dengan Jonathan. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan apalagi Adit itu sangat licik dan cerdik.”
“Baiklah kalau itu maumu.”
Sementara di tempat terpisah, para laki-laki yang sedang terbaring lemah kembali menghirup asap hingga membuat mereka tertidur sepanjang hari dan di saat malam, mereka terbangun dengan tubuh polos tanpa pakaian kecuali kain segitiga di tubuh masing-masing.
“Siapa yang sudah berani bermain-main denganku? Tunjukkan dirimu pengecut?” asap kembali mengepul dan dalam sekejab mereka langsung terkapar kembali.
“Berisik!”
***
LIKE DAN KOMEN...MAAF TELAT...TERIMA KASIH...
__ADS_1